YOGYAKARTA, HarianBernas.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta bekerja sama dengan tim Eliminate Dengue Project (EDP) Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM berencana memperluas persebaran nyamuk Aedes Aegepty Ber-wolbachia atau dikenal juga sebagai nyamuk anti-DBD ke beberapa wilayah di Kota Yogyakarta.
“Sejak bulan Agustus 2016 kemarin, kami sudah melepas nyamuk ber-wolbachia ke tujuh kelurahan di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan. Untuk tahap kedua di tahun 2017 ini, kami akan memperluas sebaran nyamuk ke wilayah lain,” kata Fita Yulia Kisworini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Rabu (25/1).
Menurutnya, Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah serius di Kota Yogyakarta. Data yang dirilis oleh Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, pada tahun 2016 terdapat 1.706 kasus, 13 di antaranya berakhir pada kematian. Sementara untuk tahun 2017 jumlah kasus sudah mencapai 53.
“Hal ini sangat memprihatinkan mengingat angka kasus DBD terus naik setiap tahunnya, perlu ada upaya yang lebih serius untuk menekan angka kasus DBD di Yogyakarta,” ujar Fita.
Project Leader EDP Prof Adi Utarini mengatakan, pihaknya membagi keseluruhan wilayah Kota Yogyakarta menjadi 24 klaster berdasarkan batas-batas fisik seperti jalan raya, sungai dan lahan kosong.
“Dari 24 klaster tersebut, separuhnya akan menjadi wilayah penitipan telur nyamuk dan separuhnya lagi menjadi daerah pembanding,” katanya.
Dia menerangkan, nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia merupakan nyamuk yang mengandung bakteri alami wolbachia yang mampu memblokir perkembangan virus dengue yang menyebabkan DBD.
Menurutnya, penelitian mengenai nyamuk wolbachia sendiri sudah dilakukan sejak tahun 2011 dan sejak dua tahun terakhir ini sudah disebar ke beberapa wilayah di Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta.
“Dari hasil pengamatan kami, tidak ada lagi penularan di wilayah Sleman dan Bantul yang menjadi daerah persebaran wolbachia, sementara untuk Yogyakarta baru kami mulai pada akhir 2016 dan harapannya mulai terlihat hasilnya di tahun 2018. Metode pemberantasan DBD dengan wolbachia ini telah diteliti oleh tim independen dari Kemenristekdikti dan terbukti aman baik dari segi kesehatan, ekologi, maupun sosial budaya,” ujar Utarini.
Menanggapi adanya nyamuk berwolbachia ini, Penjabat Walikota Yogyakarta, Sulistyo, berharap angka kasus DBD di Kota Yogyakarta turun. “Bagi warga yang ketitipan nyamuk ber-wolbachia semoga bisa turut memelihara telur agar nyamuk ber-wolbachia dapat berkembang biak dengan nyamuk DBD sehingga tidak lagi membawa DBD,” katanya.
Diketahui, dari hasil randomisasi yang dilaksanakan tersebut, terpilih 12 klaster yang mencakup 16 Kelurahan di Kota Yogyakarta, yakni Cokrodiningratan, Terban, Pringgokusuman, Sosromenduran, Suryatmajan, Tegalpanggung, Ngupasan, Purwokinanti, Baciro, Mujamuju, Kadipaten, Patehan, Wirogunan, Warungboto, Mantrijeron dan Sorosutan.
