Bernas.id – Pada dasarnya perihal tulis menulis sudah sangat kita kenal sejak duduk di bangku SD lo! Masih ingat dengan guru bahasa Indonesiamu? Yap! Mereka yang pasti memberikan tugas menulis cerpen, puisi hingga menuliskan cerita selama libur lebaran dan tahun baru.
Bagaimana, sudah ingat? Bahkan memasuki jenjang SMA, kita bukan lagi diminta menulis cerpen melainkan meninjau sebuah buku atau film, membuat artikel pendek dan memasuki jenjang perkuliahan lebih tinggi lagi levelnya yaitu menulis karya ilmiah sampai skripsi.
Baca juga: Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
Di era millenials ini, passion menulis dan menjadi penulis ternyata menjadi “buronan”, lo! Kenapa bisa begitu?
1. Pemuda dan Orang tua Mencari Mentor
Banyak anak muda yang ingin memiliki sebuah karya melalui buku yang ditulis secara pribadi. Entah ia yang masih duduk di bangku sekolah, kuliah hingga bekerja. Mulai dari pemuda desa hingga kota. Kurangnya informasi mengenai kelas menulis dan seorang mentor yang bisa mengajarkan mereka menulis secara langsung menjadi satu dari sekian alasan utama.
Tidak hanya anak muda melainkan juga orang tua, baik bapak-bapak atau ibu-ibu. Ini hebat! Ada sekian alasan mengapa orang tua ingin menulis. Beberapa di antaranya, ingin menjadi contoh untuk mengarahkan anaknya menjadi penulis, ingin menuliskan hobi dan profesinya seperti memasak dan mengajar juga ingin menuliskan kisah hidupnya yang luar biasa. Mengenal dekat beberapa orang tua seperti ini akan membuat kita yang masih muda malu dan banyak belajar. Tentu saja karena segudang pengalaman hidup dan ilmu mereka yang luar biasa.
Lalu, apakah ini kesempatan emas untuk kita? Ya! Ini adalah kesempatan langka. Mengapa? Karena menjadi seorang guru yang diserap ilmunya dan menghabiskan energinya untuk mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala berlipat ganda. Bukankah begitu? Tidak hanya itu, relasi kita pun akan bertambah secara tidak langsung dan ini yang menguntungkan. Jadi, kesimpulannya jadilah seorang penulis terlebih dahulu sebelum menjadi gurunya para calon penulis.
Baca juga: 4 Langkah Menemukan Ide Pokok Paragraf dengan Mudah
2. Dibutuhkannya Penerjemah
Apa yang ada di pikiran kita ketika mendengar profesi penerjemah ini? Harus pintar bahasa asing. Ya, itu jadi masalah bagi sebagian orang. Tapi, sebenarnya tidak juga lo. Menjadi penerjemah tidak hanya butuh kemampuan berbahasa melainkan juga kepiawaian dalam menulis. Banyak cerita mengenai penulis yang diminta bantuan untuk menerjemahkan sebuah artikel hingga sebuah buku. Walaupun kemampuan berbahasanya memang tidak sebaik itu, namun yang orang lihat adalah “hobi menulisnya”. Maka itu menjadi alasan ada orang yang meminta tolong menerjemahkan sebuah tulisan. Sebenarya hal ini lagi-lagi jadi kesempatan emas lo! Karena banyak orang membutuhkan untuk era millenials ini. Kalau soal berbahasa, bisa kok sembari dipelajari, apalagi dengan kecanggihan internet yang sangat membantu. Berani coba?
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku
3. Sarana Memajukan Bangsa
Tidak dapat dipungkiri banyak permasalahan yang dialami Indonesia tercinta ini. Mulai dari masalah politik hingga kebobrokan moral yang terjadi pada pemuda. Maka dari itu Indonesia butuh sebuah karya nyata yang bisa menggerakan generasi muda di seluruh penjuru, menuju Indonesia yang lebih baik lagi. Apa yang bisa kita lakukan dengan cukup mudah? Tidak lain adalah dengan menulis, baik menulis di blog, menjadi kontributor di website ternama di Indonesia hingga menulis buku pribadi yang nantinya bisa menjadi inspirasi hingga ke pelosok desa.
Bagaimana? Apakah kamu menjadi salah satu orang yang mencari-cari keberadaan seorang “buronan”? Atau kamu justru mau menjadi seorang “buronan” itu? Tenang, dengan menjadi buronan yang satu ini, kita akan mendapat banyak kebahagiaan lo! Yuk! Perlahan tapi pasti, mulai sekarang waktunya kita gencarkan bersama gerakan menulis menuju Indonesia yang lebih baik.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
