Bernas.id – Menulis puisi di era saat ini, bukan hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang ahli di bidangnya saja. Kini menulis puisi sudah menjadi tren dan digandrungi para kawula muda. Apalagi sejak menjamurnya sosial media sebagai ajang unjuk puisi, di twitter, instagram, facebook dan kini yang terbaru memasang status di whatsapp.
Puisi yang kita tulis selain syarat makna, juga lebih menarik jika mengadung diksi-diksi yang indah. Selama ini, puisi yang dianggap kondang adalah puisi bertema cinta, terutama yang mengangkat sakit hati. Daya kreasi memang diperlukan untuk menulis puisi yang fresh. Agar tidak mengulang-ulang memasukkan kata-kata familiar seperti rindu, hujan, senja, sakit, dan patah.
Baca juga:
- Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
- 4 Langkah Menemukan Ide Pokok Paragraf dengan Mudah
- 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Kita bisa mengganti kata-kata populer dengan kata-kata yang jarang digunakan, dan justru memiliki artikulasi yang bagus serta makna yang mendalam. Meski ada beberapa kata yang belum masuk dalam KBBI, hal itu bukan menjadi masalah, karena puisi adalah karya tulis bebas.
Berikut beberapa kata referensi untuk menulis puisi:
1. Swastamita
Artinya matahari terbenam, sore hari. Jadi, sudah menemukan alternatif lain dari senja, kan? Namun sayang, kata yang diambil dari Bahasa Sanskerta ini belum masuk ke dalam kata baku di KBBI.
2. Arunika
Berarti fajar, matahari terbit. Jadi kebalikan dari swasmita. Sesuai namanya, arunika juga memiliki makna yang tak kalah cantik. Bisa menjadi referensi pilihan nama anak kan?
3. Candramawa
Artinya hitam bercampur putih. Dalam KBBI, candramawa diasosiasikan dengan bulu kucing. Meski demikian, juga bisa munggunakan kata ini sebagai kata ganti metamorfosis untuk menggambarkan orang, kebijakan.
4. Kiwari
Artinya modern, kini, kontemporer. Sama seperti swasmita dan arunika, kiwari juga belum menjadi kata baku di KBBI.
5. Senandika
Adalah percakapan tokoh (dalam karya sastra) dengan dirinya sendiri. Namun berbeda dengan monolog, karena senandika tidak disampaikan secara langsung ke penonton. Yakni berbagi macam pikiran tokoh yang biasa di dengar sama oleh seluruh penonton.
6. Nirmala
Artinya tanpa cacat cela, bersih, suci. Nama cantik ini menjadi pilihan untuk menggambarkan karakter seorang gadis yang baik dan suka menolong, dalam sebuah majalah anak-anak. Hmm … jadi ingin punya nama nirmala.
7. Petrikor
Ialah aroma tanah saat terkena hujan. Siapa yang suka aroma tanah setelah hujan? Ternyata aroma ini juga ada padanannya, meski belum masuk ke dalam daftar KBBI.
8. Semenjana
Yakni menengah, sedang. Bentuk tidak baku dari kata ini adalah menjana. Sering disebut untuk merujuk pada tingkatan atau kasta.
9. Candala
Berarti rendah, hina, nista. Tak semanis bunyinya, candala merupakan kata yang merujuk pada sifat rendah diri.
10. Ketaksaan
Adalah keraguan tentang makna, ambiguitas. Yakni gejala dapat terjadinya tafsiran lebih dari satu. Jadi, ketaksaan merujuk pada suatu kalimat atau kata yang memiliki arti lebih dari satu.
11. Swakarya
Artinya hasil karya sendiri. Kata swakarya merupakan sinonim dari kata plagiat.
Nah… ternyata banyak kata-kata yang masih sangat jarang digunakan, bahkan oleh penulis puisi sekaligus. Yuk, populerkan kata-kata indah di atas beserta kata lainnya!
