Bernas.id – Kata 'karakter' sangat ramai dibicarakan di semua kalangan. Baik di lingkungan pendidikan, politikus, sosial media, para pelajar, para mahasiswa, anak-anak, para pegawai, para pejabat pemerintahan. Ada apa dengan kata itu, sehingga orang-orang sekarang membicarakannya?
Kerusakan moral di mana-mana, di lingkungan sekitar kita, di kalangan pejabat, pegawai, anak-anak bangsa sudah tidak dapat dibiarkan. Melakukan perbuatan yang tidak bermoral seperti korupsi di kalangan pegawai pemerintahan atau instansi-instansi. Kenakalan remaja pada miras dan narkoba, hubungan seksual bebas, merokok di lingkungan sekolah, game porno. Perbuatan tersebut merusak moral anak bangsa jikalau bersentuhan dengan hal tersebut.
'Solusi', itulah yang dibutuhkan untuk memutus tali rantai yang hitam tersebut dengan menebas dari akar yang paling dalam, supaya tumbuh lurus dan putih tidak ternoda dan anak bangsa siap serta kuat menyongsong kehidupan yang keras penuh cobaan untuk melakukan hal yang tidak bermoral.
Siapa yang berkewajiban untuk melakukan solusi ini? Jawabannya adalah pemerintah. Mengapa? Dalam Al-Qur?an menyebutkan ?Athiullahu waathi?u rasul wa ?ulil amri minkum?. Kata ?ulil ?amri minkum adalah pemerintah yang mempunyai kebijakan yang harus dikeluarkan untuk membuat aturan yang berpengaruh untuk perbaikan anak bangsa. Mencanangkan bangsa yang berkarakter melalui pendidikan yang menyasar langsung kepada anak bangsa. Sehingga mudah untuk diterapkan sejak dini. Pendidikan adalah corong terpenting untuk memperbaiki karakter anak bangsa. Maka harus didukung oleh semua kalangan, terutama lingkungan keluarga yang berperan sangat penting untuk pembentukan karakter di rumah.
Salah satunya program pemerintah adanya Kurikulum 2013 yang mencakup 4 (empat) komponen yang harus terwujud pada pembelajaran. Pertama, keterampilan abad 21, kedua pembelajaran karakter, ketiga pembelajaran literasi dan keempat pembelajaran HOTS.
Mudahkah?, memperbaiki karakter anak bangsa di lembaga sekolah dengan waktu yang sedikit dan lebih banyak di lingkungan yang sangat mempengaruhi perubahan dirinya kembali. Maka disinilah perlu ada pola yang membuat karakter ini tumbuh dengan baik sejak dini yang di mulai dari lingkungan sekolah.
Tiga pola membangun karakter anak bangsa:
1. Pembiasaan;
Abudin Nata (1997:100-101) mengungkapkan bahwa:?Pembiasaan digunakan dalam Al-Qur?an dalam memberikan materi pendidikan melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini mengubah kebiasaan-kebiasaan negatif. Kebiasaan ditempatkan istimewa oleh manusia karena sudah melekat dan spontan, agar kekuatan itu digunakan untuk kegiatan yang produktif, bekerja, beraktivitas”.
Pembiasaan terbentuk karena dibiasakan dan dilakukan terus menerus secara konsisten untuk waktu yang lama sehingga kebiasaan itu sulit ditinggalkan atau kebiasaan dapat diartikan sebagai gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan berjalan dengan sendirinya.
Perbuatan ini awalnya terjadi dikarenakan pikiran yang melakukan pertimbangan dan perencanaan sehingga nantinya menimbulkan perbuatan dan apabila perbuatan ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan.
Pembiasaan yang dilakukan di sekolah-sekolah misalnya dengan adanya program IMTAQ yang dilakukan pagi hari jam 06.40-07.15, anak-anak bangsa melakukan kegiatan ini secara rutin dengan diawali membaca Al-Qur?an dan terjemahannya, budaya infaq, literasi, sholat Dhuha terlaksana dengan baik. anak-anak bangsa sudah melekat dan spontan melakukan hal tersebut baik indoor maupun outdoor.
Sehingga dari upaya perbuatan yang dilakukan terus-menerus ini akan menjadi kebiasaan yang baik yang akan membentuk karakter baik. Alur sehinga menjadi karakter adalah: mengetahui-memahami-menerima-melakukan-membiasakan.
2. Keteladanan;
Sosok adalah orang yang dilihat sebagai contoh karena berperilaku baik dalam kesehariannya. Suri tauladan yang ditiru dan dipraktikkan dari sosok tersebut maka dapat membentuk karakter pada anak bangsa, terutama bagi anak-anak didik yang sangat mengagumi gurunya. Guru sebagai ?hidden curriculum? yang memberikan nilai-nilai karakter.
3. Pembudayaan.
Penekanan karakter yang dituangkan dalam pembelajaran di kelas, dituangkan dalam ?explicit curriculum? yang ditekankan pada mata pelajaran PPkn, PAI & Budi Pekerti yang tertuang dalam kurikulum inti dan kompetensi dasar. Artinya bahwa penekanan karakter dituangkan dalam pembelajaran supaya anak-anak bangsa langsung menerapkan nilai-nilai karakter di kelas saat belajar. Mata pelajaran selain PPkn dan PAI juga berkontribusi untuk penekanan pada pengamatan dan hasilnya dilaporkan kepada wali kelas untuk rekam karakter selama pembelajaran.
Menjadi budaya merupakan proses yang melalui tahapan: diajarkan-dibiasakan-dilatih konsisiten-menjadi kebiasaan-menjadi karakter-menjadi budaya.
Itulah tiga pola untuk membangun pendidikan anak bangsa yang berkarakter. Mudah-mudahan dengan dibentuk semenjak dini di tempat yang strategis akan mengubah bangsa kita melalui penerus bangsa yang berkarakter sehingga terjadi keharmonisan di dalam pekerjaan yang produktif, bermoral dan bermartabat.
