Bernas.id ? Kabar memprihatinkan disampaikan oleh WHO. Menurut hasil riset terbaru lembaga kesehatan PBB tersebut, sebanyak 1 dari 10 produk kesehatan yang beredar di negara-negara berpendapat menengah ke bawah adalah produk palsu. Padahal penggunaan produk kesehatan yang tidak tepat bisa berdampak fatal pada konsumennya.
?Bayangkan seorang ibu yang lebih memilih untuk tidak makan atau membeli kebutuhan pokok lainnya demi membelikan obat untuk anaknya. Tanpa sadar kalau obat yang ia gunakan tidak memenuhi standar atau dipalsukan, dan kemudian sang anak meninggal akibat obat yang dikonsumsinya. Ini tidak bisa diterima,? kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Sejak tahun 2015, WHO sudah menerima 1.500 laporan mengenai produk kesehatan yang dipalsukan atau tidak memenuhi standar. Antibiotik dan obat malaria adalah produk kesehatan yang paling sering mengalami kasus tersebut.
Sebanyak 42 persen laporan yang masuk berasal dari negara-negara sub-Sabara Afrika, 21 persen dari Amerika, dan 21 persen lagi dari Eropa. Hanya 2 persen laporan yang datang dari kawasan Asia Tenggara, namun rendahnya angka tersebut bisa jadi karena kasus-kasus yang ada di lapangan tidak terdeteksi dan tidak masuk ke dalam laporan resmi.
Sejak tahun 2013, WHO mendirikan lembaga khusus untuk memantau peredaran obat-obatan palsu. Laporan dari banyak negara mengenai peredaran obat, vaksin, dan peralatan medis palsu pun bermunculan sejak itu. Untuk menangani laporan tersebut, WHO sudah melatih 550 tenaga pengawas yang berasal dari 141 negara berbeda.
?Pada akhirnya, ini adalah masalah global,? kata Mariangela Simao yang juga berasal dari lembaga WHO. ?Semua negara harus menganalisa cakupan permasalahan mereka di wilayahnya masing-masing dan bekerja sama secara regional serta global untuk mencegah peredaran produk-produk ini.?
