Bernas.id – Salah satu kesuksesan dalam bidang pendidikan adalah kualitas para guru. Karena guru merupakan pihak yang mendesain proses pendidikan tersebut serta perantara seseorang untuk mendapatkan ilmu. Kita bisa lihat belakangan ini masih terdengar berbagai permasalahan pendidikan yang disebabkan belum maksimalnya peran guru dalam menjalankan tugasnya. Padahal, kita sepakat bahwa nasib peradaban dan generasi penerus ada di tangan para guru.
Jika kita buka lembaran Alquran, maka kita menemukan satu ayat yang menjelaskan tentang bagaimana guru menjalankan perannya. Dan ini sudah dibuktikan oleh Rasulullah Saw. sebagai suri tauladan hidup seorang muslim, terutama peran beliau sebagai guru peradaban yang telah berhasil mengubah kondisi sosial masyarakat Mekah yang masih jauh dari nilai?nilai kemanusiaan menjadi peradaban yang penuh dengan nilai?nilai sosial yang tinggi.
?Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersifat keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. SesungguhnyaAllah menyukai orang?orang yang bertawakal kepada-Nya (Q.S. Ali Imran: 159)
Hikmah apa yang bisa kita temukan di ayat ini? Yuk simak!
1. Bersikap lembut
Lingkungan pendidikan yang nyaman juga menentukan keberhasilan proses pendidikan. Guru yang bisa menghadirkan sikap lembut dalam pembelajaran, ini akan mengundang kenyamanan bagi peserta didik. Dengan bahasa yang lembut, nada suara yang enak didengar dan ekspresi wajah yang meneduhkan akan membuat para peserta didik lebih bisa menerima pembelajaran. Sebaliknya, jika guru menghadirkan suasana yang horor bahkan menegangkan, maka peserta didik akan menjauh dan secara sistematis kerja otak akan melahirkan mental blocking yang membuat sulitnya menerima informasi yang sedang disampaikan.
2. Memahami kondisi peserta didik
Dalam menjalani proses pendidikan, semua orang pasti akan menemukan kesalahan atau kegagalan. Itu adalah keniscayaan dalam usaha untuk menjadi bisa atau paham. Maka, guru hendaklah menanamkan sifat sabar dalam hatinya, karena mereka melakukan kesalahan itu disebabkan belum paham atau belum mengetahui hakekat kebenaran. Karena itu, maafkanlah kekhilafan mereka sebagaimana Rasulullah pernah memaafkan seorang yang membuang hajat di pelataran masjid yang disebabkan ketidaktahuannya.
3. Doakan mereka
Jangan lupa, setiap keberhasilan kita ada peran Allah yang memudahkan lisan, ide atau metode yang kita pilih untuk mendidik mereka. Dan kita juga memahami bahwa ilmu itu datangnya dari Allah. Marilah kita meminta kemudahan kepada-Nya, agar setiap kata yang keluar dari mulut kita, atau tindakan kita yang mereka lihat menjadi sebab datangnya hidayah-Nya.
4. Membuat kesepakatan bersama
Kesepakatan adalah kunci untuk saling menghormati. Dalam proses belajar mengajar hendaklah ada aturan main yang kemudian ini menjadi batasan yang jelas antara hak dan kewajiban. Baik untuk diri seorang guru ataupun para peserta didik. Seseorang akan merasa ringan untuk menjalani kesepakatan jika sebelumnya ada porsi komunikasi untuk mencapai keputusan. Bahkan seseorang akan siap bertanggungjawab atas konsekuensi jika mereka paham kenapa dan bagaimana konsekuensi itu harus dilakukan.
5. Fokus kepada proses
Dalam dunia ini, tidak ada yang terjadi di luar kehendak Allah. Tugas kita hanyalah berusaha. Hasilnya kita serahlan kepada keputusan Allah. Karena tidak semua keinginan dan harapan kita itu baik untuk diri kita. Allah Maha Tahu akan kebutuhan diri kita. Apa yang kita sangka baik, belum tentu baik di mata Allah. Sebaliknya, apa yang kita sangka buruk, jangan ? jangan itu baik di sisi Allah.
Selamat berjuang para guru, luruskan niat. Karena profesi ini bertabur kebaikan dan kebahagiaan. Ganjaran dari Allah melebihi kebaikan dari dunia dan seisinya. Mari kita ganti slogan “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”, menjadi “Guru adalah pahlawan dengan sejuta kebaikan.”
