Bernas.id – 72 tahun sudah Indonesia merdeka. Bagi generasi muda zaman now, rasa peluh pada masa perjuangan tentu tidak dirasakan. Namun, coba bayangkan betapa besar nikmat kemerdekaan yang kita rasakan kini. Nikmat bersekolah, bekerja, bahkan sekedar berpergian tanpa rasa takut dan cemas akan adanya serangan penjajah, merupakan nikmat yang patut disyukuri. Tetapi, pernahkah terbayangkan bagaimana nasib para pahlawan kini?
Para pahlawan tidak hanya jenderal dan komandan pasukan, namun juga prajurit. Bukankah jenderal maupun prajurit sama-sama berjuang di medan tempur? Bukankah keduanya bertaruh nyawa demi mempertahankan negeri ini? Namun, bagaimana nasib para pahlawan kini? Usia yang pasti tidak lagi muda, menjadi keniscayaan. Bahkan lebih tua dari usia bangsa ini. Tak heran jika terdapat pahlawan dengan usia hampir seabad.
Tidak semata-mata dari usia. Namun, bagaimana kesehatan, kegiatan, dan kesejateraan para pahlawan kini? Mari lihat sejenak sebuah kisah dari Bapak Anwar, Lettu yang kini hidup tak menentu. Bapak Anwar bukanlah pahlawan biasa. Kemampuannya berkomunikasi dalam 4 bahasa, menjadikannya berbeda dari pahlawan lainnya. Memiliki pengalaman sebagai Komandan Kompi 3 Sumatera Bagian Selatan, dengan pangkat Letnan Satu, menjadikan sosoknya memiliki banyak cerita.
Pria kelahiran Tanah Kuranji 94 tahun yang lalu ini, menghabiskan masa mudanya di wilayah Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat yang ditempuhnya, nasib membawanya bekerja sebagai anak buah kapal. Kurang lebih selama 7 tahun ia berlayar. Tahun 1939, dirinya mengambil keputusan untuk pulang ikut berjuang di Indonesia. Pengalamannya berlayar mengelilingi Asia hingga Ausralia, ditinggalkannya.
Rasa cinta tanah air, begitu menggelora. Semangat ini yang menjadi modalnya untuk bergabung bersama barisan pejuang lainnya, demi mempertahankan bangsa. Luka bekas hantaman peluru pada kaki kanan, menjadi saksi bisu perjuangannya kala itu. Berjalan tertatih, hanya menjadi kerikil kecil yang dirasakannya hingga kini. Tidak hanya itu, luka bekas sayatan belati pada pipi bagian kiri, ikut mengisahkan perjuangannya.
Namun kini, hampir tidak ada yang mengetahui bahwa sosoknya adalah pejuang bangsa. Kegiatannya sebagai pengemis, telah melunturkan perawakan tegap nan gagah yang dimilikinya dulu. Setelah masa perjuangan, hidup yang dilaluinya terus membutuhkan perjuangan. Tidak ada lencana penghormatan. Tidak ada Surat Bintang Gerilya sebagai bukti dalam menerima tunjangan yang merupakan hak yang diberikan pemerintah.
Tinggal berpindah-pindah dan kesulitan hidup yang dialami, menjadikannya tidak tahu di mana keberadaan surat pamungkas itu. Surat yang menjadi dasar dalam menerima haknya sebagai pejuang negeri ini, telah hilang. Hal ini menjadikannya tidak memiliki kesempatan dalam menerima tunjangan yang diberikan kepada para pejuang. Kemiskinan serta kematian istri dikarenakan sakit kolera dan kekurangan gizi, menjadi salah satu liku kehidupannya.
Ini hanyalah sepotong kisah dari nasib para pahlawan kini. Tentu, tidak harus menanti kehadiran Bapak Anwar lainnya, bangsa ini baru bergerak untuk lebih peduli terhadap nasib para pahlawan. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang pandai menghormati jasa pahlawannya?
.jpg)