Bernas.id – Banyak orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis best seller dengan royalti ratusan juta hingga miliaran rupiah. Namun, layaknya profesi lainnya, dibutuhkan modal yang tidak kecil. Jika hanya bermodalkan bisa dan suka menulis saja tidaklah cukup.
Banyak yang baru bisa menulis satu dua artikel lalu menganggap dirinya sudah mumpuni menjadi penulis handal. Atau bisa menulis satu buku lalu merasa sudah menjadi penulis hebat, walau kenyataannya bukunya tidak laku di pasaran.
Baca juga: Cara Menulis Kutipan Langsung dan Kutipan Tidak Langsung Lengkap
Apa yang menyebabkan seorang penulis tidak menghasilkan karya yang hebat dan malah berhenti menjadi penulis di tengah jalan?
1. Mudah menyerah
Kalau menulis dengan maksud menjadi konsumsi publik maka kita harus memperhatikan faktor penerbit dan konsumen. Tidak semua karya tulis dinilai bagus oleh penerbit, bisa jadi malah dianggap sampah.
Banyak buku-buku best seller yang awalnya ditolak oleh penerbit, sebut saja Chicken Soup For the Soul yang terjual hingga 100 juta eksemplar ditolak oleh 33 penerbit awalnya. Harry Potter ditolak di mana-mana tapi sekarang menjadi buku terlaris sepanjang sejarah yang merubah kehidupan J.K Rowling. Seorang Asma Nadia saja, tulisan pertamanya menjadi bahan tertawaan keluarganya, termasuk anaknya.
Jadi, dibutuhkan mental baja untuk menjadi seorang penulis buku best seller, tidak mudah menyerah apalagi putus asa dan berhenti menjadi penulis.
Baca juga: Interpretasi : Pengertian , Tujuan, dan Macam-macamnya
2. Malas dan cepat puas
Ini adalah penyakitnya para penulis. Bagaimana kita dapat mengetahui tulisan yang baik kalau kita malas membaca tulisan orang lain sebagai bahan referensi.
Malas belajar mengembangkan tulisan karena merasa puas dengan tulisan yang sudah ada. Kalau hanya dibaca sendiri tidak masalah, tapi kalau ingin dibaca orang dan mendapat penilaian yang baik tentunya tulisan kita harus berkembang.
Nah yang lebih parah lagi adalah malas menulis. Ide yang muncul tidak ditulis sehingga menguap begitu saja. Tulisan yang baru setengah tidak diselesaikan atau tulisan yang sudah jadi tidak disempurnakan kembali.
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya
3. Hati yang tidak peka
Untuk menulis dibutuhkan sebuah ide yang menjadi bahan bakarnya. Banyak penulis yang berhenti menulis karena merasa kehabisan ide atau biasa disebut writer block. Padahal, ide itu ibarat oksigen yang selalu kita hirup, ada di mana-mana.
Kenapa ide yang ada di sekitar kita tidak bisa dijadikan bahan tulisan? Karena hatinya tidak peka dan pikirannya tidak tajam sehingga ide itu lewat begitu saja. Banyak buku-buku best seller yang lahir dari sebuah ide sederhana yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
4. Tidak memiliki motivasi yang kuat
Jika menulis hanya sebatas kesenangan atau sekadar hobi maka saat ada kesibukan lain maka kegiatan menulis ditinggalkan. Akhirnya menulis hanya iseng-iseng mengisi waktu luang. Bukankah intan yang berkilau karena sering diasah?
Tulisan yang baik lahir karena kebiasaan menulis yang kontinyu. Kebiasaan terjadi karena adanya motivasi yang kuat. Kalau motivasi menulis sebagai kebutuhan hidup maka kita akan menyiapkan waktu, pikiran dan mental kita untuk terus menulis, apapun kondisinya. Seorang wartawan perang dapat menulis walau di tengah-tengah peperangan sengit dan taruhannya nyawa.
Jika ingin menjadi penulis best seller perhatikan 4 hal di atas dan teruslah menulis dengan hati. Hati yang baik akan melahirkan tulisan yang jujur dan bermanfaat untuk yang membacanya.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021