Bernas.id – Now! Kata yang singkat yang tren di masa kini dan banyak dibicarakan di semua bidang. Maka, pendidikan harus menyasar pada zaman now yang mengalami perubahan cepat untuk kepentingan masyarakat. Apa yang harus diubah di ?Pendidikan Now??
Dunia pendidikan seolah-olah diberi tanggung jawab untuk mengatasi kegalauan masyarakat dengan maraknya pengangguran, dunia kerja yang menuntut sumber daya manusia terampil, kebingungan masyarakat untuk usaha mandiri. Solusinya adalah dengan penggalian skill performance di lembaga sekolah.
Lembaga sekolah yang mengaplikasikan program pendidikan, diberikan secara langsung kepada anak-anak bangsa yang dididiknya setiap hari, baik di kelas maupun di luar kelas. Program di dalam kelas yang mengikat adalah kurikulum. Di sinilah peran pemerintah yang melakukan perubahan ?Pendidikan Now?. Supaya mengintegrasikan kurikulum dengan skill performance untuk anak bangsa, secara langsung maupun tidak langsung yang tertuang dalam kurikulum.
Pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki pendidikan yang sesuai dengan tuntutan abad 21. Salah satunya dengan terus me-refresh kurikulum 2013, yang di dalamnya ada pembelajaran abad 21, pembelajaran karakter, pembelajaran literasi, pembelajaran HOTS. Pembelajaran abad 21 terintegrasi pada 4C, yaitu critical thingking, communication, collaboration, creation. Mulai terpetalah ada tuntutan yang diminta dari kurikulum 2013 tersebut dengan memiliki skill performance. Kemampuan 4C tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk soft skill performance yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran.
Fokus pada pembelajaran, tidak terlepas dari materi yang diajarkan pada setiap mata pelajaran yang banyak. Anak bangsa harus menguasai teori-teori yang ada di materi pelajaran yang tidak diaplikasikan dalam dunia nyata. Maka, yang pas adalah pembelajaran konstektual untuk solusi tersebut. Namun, masalah tersebut belum maksimal keberhasilannya jikalau belum diterapkannya penggalian skill performance. Penggalian skill performance pada setiap sisi materi yang ada pada pelajaran dan bentuk nyata yang mengarah kepada profesi. Sehingga anak-anak bangsa now akan tertarik belajarnya.
Salah satu contoh, pembelajaran materi sejarah dianggap cerita peristiwa masa lalu yang usang atau jadul (jaman dulu; tidak up to date). Anak-anak bangsa tidak tertarik untuk mempelajarinya dan dianggap tidak berarti. Maka, di sinilah perlu adanya keberanian untuk membuat formula baru untuk mengaktualisasi materi sejarah sesuai abad 21. Formula ini tidak menghapus materi yang sudah ditetapkan baku dalam kurikulum, hanya memilah mana materi sejarah yang sekiranya ada contoh aktual atau peristiwa yang mengarah pada bentuk skill performance yang mengarah pada profesi.
Pemikiran ini berlandaskan, pertama bermula dari pemikiran bahwa tokoh besar pendidikan, Ki Hajar Dewantara, mengatakan bahwa, ?Pendidikan adalah upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya.? Dari pemikiran beliau inilah bahwa Pendidikan Now harus diselaraskan dengan dunia anak-anak sekarang, yaitu abad 21, yang sangat berbeda dengan tuntutan pada zaman dahulu.
Kemudian, menganalisis bahwa Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Terlihat dalam lampiran di Bab I Pendahuluan menyatakan bahwa Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Standar Proses tersebut mengacu kepada SKL dan Standar Isi yang mempunyai Prinsip Pembelajaran.
Prinsip Pembelajaran di antaranya berbasis kompetensi. Pembelajaran yang verbalisual menuju keterampilan aplikatif, peningkatan dan keseimbangan antar keterampilan fisikal (hard skill) kepada keterampilan mental (soft skill), dan pembelajaran yang membangun keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso) dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Semua mengetahui tentang sejarah, kan? Sebaran materi pelajaran sejarah di tingkat Sekolah Menengah Atas memiliki tingkat pendalaman materi yang berbeda. Ternyata memiliki keterampilan aplikatif dan ada keseimbangan antara keterampilan fisikal (hard skill) dan keterampilan mental (soft skill). Tahu, kan? Tentang Pra Aksara, di dalamnya memberikan nuansa dahulu nenek moyang sudah memiliki keterampilan, seperti memahat, melukis, bertani, membuat logam. Hal tersebut dapat dijadikan skill performance pada saat ini karena berkaitan dengan keterampilan seni.
Peristiwa keruntuhan pemerintahan Orde Baru disebabkan salah satunya karena adanya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) dari pengalaman tersebut dapat dijadikan sebagai soft skill performance dalam pembentukan karakter anak bangsa. Peristiwa sejarah tentang PEMILU pertama pada tahun 1955, ternyata sudah ada Panitia Penyelenggara PEMILU. Maka, dalam pembelajaran sejarah dapat dijadikan profesi bagi anak-anak bangsa sekarang. Sudah ada lembaga independen yang mengurus PEMILU yaitu KPU se-Indonesia, Bawaslu dan Panwaslu se-Indonesia juga.
Hasil PEMILU tahun 1955 membentuk badan legislatif, yaitu DPR. Sehingga dibutuhkan orang-orang yang berperan di dalamnya, untuk menjadi anggota dewan. Anak-anak bangsa banyak bertanya, bagaimana cara untuk dapat duduk menjadi anggota DPR tersebut? Maka, anak-anak bangsa harus mempelajari Undang-Undang PEMILU, sehingga mengetahui tata cara menjadi anggota DPR.
Aplikasi yang sangat menarik jikalau diterapkan terhadap anak-anak bangsa di lembaga sekolah. Karena signifikan terhadap terbukanya wawasan anak bangsa, terhadap kehidupan yang nanti mereka geluti dan alami di lapangan. Sehingga tidak gagap lingkungan baru setelah mereka selesai menempuh pendidikannya.
Perubahan Pendidikan Now yang mengarah kepada skill performance pada profesi ternyata berpengaruh kepada antusias dan motivasi anak bangsa dalam belajar. Sehingga membawa dampak positif terhadap perkembangan kompetensi, baik yang hard skill maupun soft skill.
