Bernas.id ? ?Dilan? merupakan tokoh dalam novel yang sering diperbincangkan oleh kaum muda. Style bicara ala Dilan seringkali mewarnai obrolan baik dalam ruang media maupun nyata. Kabarnya film Dilan akan tayang 25 Januari mendatang. Lantas apakah fenomena ini bisa membuat wajah sastra lebih dikenali dan kembali digemari? Setelah sekian lama terjadi krisis sastra yang diungkapkan oleh Soejatmoko.
Di Indonesia, sastra menjadi ranah yang termarginalkan. Tak banyak yang mengenal karya sastra. Generasi muda, apalagi kaum milenial tak mengenal nama-nama penyair tersohor di masanya seperti NH Dini, Sultan Takdir Alisjahbana. Tak ada lagi bacaan sastra yang menjadi buku wajib bagi para pelajar, sehingga sastra menjadi ranah yang tak terjamah.
Mahasiswa jurusan sastra dan bahasa kerap dianggap memiliki masa depan suram, karena tak memiliki tujuan hidup yang jelas. Mereka dianggap hanya mempelajari hal yang abstrak yang tak penting bagi kehidupan manusia.
Dari sisi media, yang bersentuhan langsung dengan publik seperti iklan televisi. Dari puluhan iklan, tak ada yang mengenalkan ranah sastra kepada pemirsanya. Well walaupun tanpa disadari semua iklan menggunakan aplikasi dari kajian ilmu bahasa. Profesi sebagai seorang ahli bahasa tak pernah terekspos.
Dari sekian banyaknya iklan suplemen otak, susu pertumbuhan, dan aneka vitamin, tak ada iklan suplemen nutrisi yang mengatakan ?kalau besar nanti aku ingin menjadi ahli bahasa? atau ?aku ingin menjadi sastrawan?. Semuanya pasti menampilkan profesi dalam bidang umum dan scientific seperti dokter, ilmuan, arsitek, guru, dan lain sebagainya.
Kehadiran Film Dilan yang diadaptasi dari novel laris karya Pidi Baiq membuat dunia sastra kembali menarik di hati masyarakat Indonesia. Puisi-puisi Dilan yang romantis membuat film ini lebih banyak digemari oleh para remaja perempuan. Karakter Dilan yang penuh kejutan lewat kata-katanya. Sederhana dan penuh ketulusan membuat kata-kata yang dilontarkan semakin menjerat Milea untuk jatuh cinta pada sosok Dilan.
Film yang kabarnya akan tayang pada 25 Desember itu dapat membuat pamor sastra lebih tinggi. Sehingga istilah ?termarginalkan? tak melekat lagi pada ranah sastra.
