Bernas.id –
?Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya?.
Pepatah tersebut sering terdengar di telinga kita. Namun apa sebenarnya makna pepatah itu? Apakah hanya omng kosong belaka? Apakah pepatah tersebut really works dalam kehidupan nyata?
Setiap Negara pasti memilki pahlawan yang namanya diukir dalam tinta sejarah. Di Indonesia, kita memilki Ir. Soekarno, Pangeran Diponegoro, R.A.Kartini, Cut Nyak Dien, I Gusti Ngurah Rai, dan masih banyak lagi. Mereka berdiri di antara barisan pahlawan yang mengorbankan harta, jiwa, dan raga untuk mengusir para penjajah baik dalam wilayah lokal atau nasional. Skotlandia, memilki William Wallace yang memimpin rakyat Skotlandia yang memenangkan pertempuran bersejarah. Amerika, memiliki Benjamin Franklin, salah satu founding father kemerdekaan rakyat Amerika, yang juga merupakan pejuang penghapusan perbudakan.
Setiap nama yang diukir dalam sejarah yang tak terbatas dalam rentang waktu pasti memilki sejarah panjang perjuangan yang penuh dengan tantangan. Imam Abu Hanifah, imam besar salah satu mahzab fiqih menjelaskan, bahwa beliau lebih suka membaca sejarah hidup orang-orang saleh daripada belajar ilmu fikih. Sebab membaca sejarah hidup orang-orang saleh, selain mendapatkan hikmah-hikmah kehidupan yang berserakan, juga akan mendapatkan ilmu yang berlimpah, termasuk ilmu fikih.
Tak heran di dalam Alquran, banyak berisi tentang kisah nabi dan orang-orang pilihan terdahulu supaya dapat diambil hikmahnya oleh generasi selanjutnya. Itulah mengapa di negara maju, mereka sangat appreciate terhadap sejarah. Bangunan museum banyak dikunjungi oleh penduduknya dan mereka sanggat detail terhadap sejarah. Itulah satu alasan mengapa suatu negara bisa maju, yaitu karena bangsanya menghargai jasa pahlawannya.
Hal ini perlu diperhatikan terutama oleh generasi muda. Supaya semangat untuk mencapai cita-citanya terus berkobar di dalam dada. Serta jiwa patriotisme tetap terjaga.
