Bernas.id – Esensi gerak bukanlah ekspresi, namun lebih merupakan bentuk transformasi. Bentuknya bisa sangat bervariasi; pergerakan dari sebuah ketidaksadaran menjadi sebuah kesadaran, maupun keberadaan menjadi ketidakberadaan.
Kurang lebih itulah yang disampaikan Suprapto Suryodarmo, seniman gerak senior saat menjadi pembicara maupun di sela diskusi Temen Ngobrol #8 berjudul Arsitektur Tubuh dan Pertunjukan yang digelar di PKKH UGM, Senin (30/4/2028).
Di kalangan koreografer, Mbah Prapto dikenal sebagai penganut gerak bebas. Ia mengaku bukan penari, namun banyak sekali penari datang kepadanya untuk mendapatkan inspirasi, untuk merasakan ?pencerahan? dari gerak bebas-nya.
Lahir 71 tahun lalu di Kampung Kemlayan, Solo, sejak kecil Prapto telah mengenal gerak, mulai tari klasik Jawa, silat hingga kungfu. Ia lantas belajar meditasi Buddhis Vipassana serta ajaran Kejawen Sumarah yang menurutnya sangat berguna untuk mengeksplorasi alam dan kesadaran.
“Dari situ saya belajar tentang resonansi, kepekaan tubuh,” ungkapnya.
Awalnya Mbah Prapto berguru tari pada koreografer S Ngaliman, serta Mloyo Widodo dan Guno Pengrawit untuk musik. Ketika koreografer Sardono W Kusuma belum hijrah ke Jakarta, Mbah Prapto banyak menghabiskan waktu belajar dengannya di Solo.
Pengalaman spiritual di berbagai tempat keramat bersama sang ayah juga ia jadikan pijakan dalam berkesenian, ke dalam ?gerak bebas? yang ditekuninya hingga kini. Mbah Prapto sendiri lebih senang menggunakan istilah joget dibanding tari untuk gerakannya.
?Namanya Joget Amerta. Saya sebut joget, karena lebih merujuk pada orang yang sedang belajar menari dari dasar,? terang pemimpin Padepokan Lemah Putih, Karanganyar, Jawa Tengah, ini.
Joget Amerta sendiri menurut Mbah Prapto, diadopsi dari gerak sehar-hari, seperti tidur berikut perubahan posisinya, berjalan, merangkul, lambaian tangan dan sebagainya. Gerak-gerak itulah yang menjadi dasar dari Joget Amerta.
Mbah Prapto menambahkan secara filosofi jogetnya bertolak dari konsep tradisi, yaitu hubungan manusia, alam dan The Unknown, atau Tuhan Yang Tak Diketahui. Transformasi harus selalu mengacu ke tiga hal itu. Sedangkan dari sisi bentuk, Joget Amerta adalah olah tubuh sehari-hari yang mengabaikan pakem yang selama ini berlaku dalam olah tubuh. Lewat Joget Amerta inilah ia mengajarkan murid-muridnya untuk merespon dirinya sendiri dan atmosfir di sekelilingnya.
?Orang asing yang belajar dengan saya sebenarnya tidak paham. Namun karena budaya mereka yang ingin tahu, sedikit-sedikit mereka paham. Ingin tahu inilah yang harus kita kembangkan,” lanjut pria yang pernah menari di depan Piramida di Mesir itu.
Seniman yang masih terlihat energik di usia senja ini juga tergolong nyentrik. Ia seringkali menari meski tidak ada orang yang menonton dan memperhatikan. Ia juga tak pernah memakai sepatu.
“Sebenarnya untuk apa? Untuk siap menuju pemudaran. Ada sesuatu yang menjadi, ada proses peleburan,” katanya.
Kiprah kesenian Mbah Prapto diawali tahun 1966, ketika ia mendirikan grup Barada (binaraga budaya), tempatnya melatih tari dan beladiri. Pada era tahun 1974-1975, ia menciptakan Wayang Buddha yang menjadi pembicaraan banyak kalangan. Wayang Buddha Sutasoma karyanya adalah pementasan wayang gaya baru yang menggabungkan seni rupa, musik dan dunia pewayangan.
Pentasnya ke Jerman dalam Festival Pantomim Internasional tahun 1982 mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki pendekatan gerak bebas, sama dengan dirinya. Setiap tahun sejak lawatannya yang perdana itu, Mbah Prapto terus-menerus diundang untuk memberikan workshop dan mementaskan jogetnya di Eropa, Australia, Filipina, Korea, Jepang dan Amerika Serikat.
Saat jaringannya mulai tersebar di banyak negara, tahun 1986 ia mendirikan Padepokan Lemah Putih, sebuah wadah untuk menampung murid-muridnya. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas Sharing Movement. Istilah ini untuk menyebut teknik mengajar Mbah Prapto yang lebih banyak sharing.
Sebuah metode belajar unik tentang gerak yang sering ia lakukan adalah belajar di kawasan Pantai Parangkusumo Jogja. Sebab di kawasan ini, menurutnya gerak ombak sangat tak terduga.
“Ini menjadi pola untuk membangun sesuatu, sebuah konstelasi kita bisa membangun instalasi arsitektur tubuh yang tidak terduga,” ungkapnya. (Den)
