Bernas.id – Universitas Gadjah Mada dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyelenggarakan BEKRAF Creative Labs 2018- Indonesia Culinary Conference dan Creative Expo selama dua hari, 9-10 Oktober 2018 di Grha Saba Pramana, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut diisi dengan seminar nasi goreng dan sate, parade sate, master class, bazar kuliner unggulan Indonesia, serta lomba fotografi.
Dalam sambutannya, ketua panitia Dr Ir Retno Indrati, MSc menyebut BEKRAF Creative Labs 2018- Indonesia Culinary Conference dan Creative Expo memiliki beberapa kegiatan seperti seminar nasi goreng dan sate dengan tema “Mengupas Tuntas Strategi Nasi Goreng dan Sate dalam Menembus Citarasa dan Pasar Dunia”.
“Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 300 peserta dari seluruh Indonesia dan berbagai pihak. “Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, akademisi dari perguruan tinggi, para pelaku usaha kuliner, komunitas dan asosiasi kuliner, media, dan masyarakat sebagai konsumen,” imbuhnya.
Retno Indrati pun berharap dengan sinergi Hexa-helix ini, perkembangan kuliner di Indonesia akan semakin baik.
Sedangkan, Panut Mulyono, Rektor UGM, dalam sambutannya yang dibacakan Irfan Prijambada, Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM mengatakan industri kuliner di Indonesia mempunyai potensi yang sangat kuat untuk berkembang. “Oleh karena itu, perlu adanya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri agar kuliner Indonesia semakin berkembang.
Panut menyebut Bekraf sebagai perwakilan pemerintah telah memfasilitasi pengembangan kuliner Indonesia. “Salah satunya melalui kegiatan ini. Sedangkan, UGM sebagai perwakilan dari akademisi dan universitas kerakyatan sangat mendukung upaya pengembangan kuliner Indonesia,” imbuhnya.
Terkait pengembangan kuliner Indonesia, Rektor Panut menyebut dengan berbagai kegiatan seperti pendampingan para pelaku industri kuliner, promosi kuliner, promosi kuliner lokal atau daerah agar lebih dikenal, advokasi kebijakan di bidang kuliner pada pemerintah, dan lainnya.
“Pelestarian kuliner asli dan unggulan Indonesia wajib dilakukan dan dikembangkan sebagai salah satu upaya untuk mendukung kemajuan pariwisata Indonesia. Industri kreatif kuliner memberikan kontribusi yang cukup besar sekitar 30% dari total pendapatan sektor pariwisata,” tambahnya.
Rektor Panut menceritakan dalam World 50 Best Food versi polling CNN pada bulan Juli 2017 menempatkan rendang dan nasi goreng sebagai makanan favorit urutan pertama dan kedua, serta sate di peringkat keempat belas.
“Nasi goreng dan sate diharapkan dapat menjadi representasi cita rasa Indonesia di antara bangsa-bangsa di dunia,” tuturnya.
Sementara itu, Wawan Rusiawan, Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf sangat serius mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia, khususnya kuliner.
“Bekerjasama dengan stakeholder lain yang diwujudkan dalam kegiatan yang nyata. Ini yang penting. Konsepnya, berjejaring dengan lebih luas,” ujarnya. di
Terkait berjejaring, Wawan menyebut telah berjasama dengan ITB melalui Bandung Connect. Untuk Jogja, bekerjasama dengan Gayam 16, Loka Art, Banjar Mili, Teater Garasi, Jogja Creative Society, Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo,” ucap rincinya.
Wawan pun menggarisbawahi bahwa Bekraf mempunyai tugas dari pemerintah untuk berjualan. Ia pun mengatakan sektor kuliner menjadi salah satu kontributor PDB kreatif sebesar 30%. “Kita punya sate, kopi, dan nasi goreng. Bagaimana ini bisa berkembang. Kita punya 5,5 juta usaha kuliner,” bebernya.
Wawan pun menyinggung pemanfaatan e-commerce yang masih sebesar 38 % sehingga artinya masih masih banyak yang berjualan secara manual atau konvensional. Selain itu, 90% masih belum punya badan usaha sehingga tahun depan, Bekraf akan mendukung pembentukan badan usaha, khusus di subsektor kuliner agar ada kemudahan mengakses dana dari bank.
“Semoga dengan kegiatan ini, kita akan terus berkembang mendukung program kuliner secara nasional. Ujungnya, kita ingin menciptakan nilai tambah yang sangat besar,” pungkasnya. (jat)
