Bernas.id – Mawardi, Dukuh di Kadisobo II, Trimulyo, Sleman, Yogyakarta menyatakan ide kreatif untuk membuat gudeg salak terinspirasi dari harga salak yang cenderung turun. Ia pun bertekad menyelamatkan pohon salak di kawasan Turi dengan inovasinya mengolah buah salak.
“Saya ingin menyelamatkan populasi salak, baik lokal maupun salak pondok. Saya mengajak ibu-ibu terutama untuk mengolah salak sehingga saya bisa beli ke petani seharga 3000. Kalau petani jual di pedagang salak hanya 1500, tapi karena saya olah, saya mau beli ke petani 3000 – 4000 per kilo,” katanya di Pawon Alam Pariyem, Kadisobo II, Trimulyo, Sleman, Kamis 11 Oktober 2018.
“Ini keuntungan bagi petani supaya salaknya tidak dibabat, saat ini sudah banyak pohon salak pondok yang dibabat. Ini salah satu upaya penyelamatan pohon salak di Kadisobo II,” imbuhnya.
Mawardi menjelaskan buah salak ini bisa diolah menjadi beberapa produk makanan ringan seperti pia salak, jenang salak, keripik salak, dan jaserlak (jahe sere salak) minuman penghangat tubuh. “Nah, saya ingin punya ikon yang berbasis makanan khas Yogyakarta yaitu gudeg, tapi bukan dari nangka, melainkan salak,” ujarnya.
Supaya ada tekstur kenyal buah salak di gudegnya nanti, Mawardi mengatakan bahwa daging buah salaknya itu direndam 1 sampai 2 jam di air kapur. “Rasanya memang khas, ada rasa manis dan asam bila menggunakan salak lokal. Ini akan kita jadikan branding di warung alam Pawon Pariyem, salah satu pengembangan desa wisata di bidang kuliner,” ujarnya.
“Kalau salak pondok bahannya cenderung manis banget maka dikurangi kadar gulanya. Kalau salak lokal cenderung asam, harus diimbangi gulanya,” imbuhnya.
Mawardi mengatakan ide gudeg salak ini muncul sebelum puasa tahun ini. “Pernah kita ikutkan di festival desa wisata di bidang kuliner mampu menjadi juara dari 43 desa wisata di Sleman. Ke depan, saya ingin mengeksplorasi agar gudeg ini bisa menjadi gudeg kering,” pungkasnya. (jat)
