GUNUNGKIDUL, BERNAS.ID —Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Begitu kata sebuah peribahasa untuk memacu semangat dalam belajar. Dan mungkin peribahasa itu yang menjadi pegangan bagi Daneswara Satya Swandaru, seorang dalang cilik berbakat asal Dusun Nogosari, Desa Bandung, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.
“Saya ingin jadi profesor dan dalang,” jawab Danes, sapaannya, saat ditanya cita-citanya kelak setelah dewasa, ketika ditemui Bernas.id di rumahnya di RT 03/RW 01 Dusun Nogosari, Desa Bandung, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul atau sekitar 200 meter selatan pertigaan traffict light (lampu lalu-lintas) Gading, Playen, Gunungkidul, Minggu (10/3/2019).
Tentu suatu cita-cita yang tidak sulit terwujud bila tekun belajar sejak dini. Dan menjadi dalang (profesional) sudah di depan mata tentunya. Sebab, dalam usianya yang masih sangat belia itu, ia sudah lincah memainkan wayang dan lancar/fasih menceritakan lakon pewayangan dalam bahasa Jawa yang kental. “Saya suka gerakkannya dan tertarik dengan cerita-cerita dalam pewayangan dengan karakter masing-masing tokoh wayang,” kata Danes saat ditanya alasan tertarik menjadi dalang. Ia pun mengidolakan dalang kondang Ki Seno Nugroho dari Jogja dan Ki Bayu Aji dari Solo.
Dalang cilik kelahiran 14 Agustus 2011 (7 tahun 5 bulan), anak pasangan Yosef Harjanto dan Sisilia Ratna ini sudah mahir mementaskan wayang kulit di panggung resmi, baik dalam festival tingkat Kabupaten Gunungkidul maupun dalam acara-acara resmi lainnya. Dan siswa kelas I SD Kanisius Wonosari, Gunungkidul ini begitu semangat ketika diminta memainkan wayang. Tak tanggung-tanggung, ia langsung mementaskan lakon Perang Kembang antara Janoko dan Butho Cakil yang diperlihatkannya kepada Bernas.id, sejak awal hingga selesai, Minggu kemarin.
“Pokoknya begitu diminta mementaskan sebuah lakon, dia langsung membawakan lakon tersebut sampai selesai. Dia gak mau berhenti di tengah jalan. Dia benar-benar menikmati jalan cerita sejak awal hingga akhir,” kata Yosef Harjanto, sang ayah, yang mendampingi Danes.
Minat dan bakat Danes menjadi dalang mulai tumbuh sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saat berusia 4 tahun menjelang Taman Kanak-kanak (TK). Minat itu muncul setelah sering melihat sang kakek, Antonius Tumio (66), menonton wayang lewat Compact Disk (CD) maupun saat sang kakek sering mendengar lagu-lagu campursari dan klenengan atau instrumental musik gamelan pementasan wayang.
“Mungkin karena sering mendengar lagu-lagu dan musik klenengan itu, jiwa seni dan bakat jadi dalang mulai tumbuh. Dan sejak itu pula ia sering minta belikan wayang sesuai tokoh wayang yang diinginkan. Dan satu per satu wayang yang sesuai karakter tokoh masing-masing itu dibelikan hingga hampir lengkap seperti sekarang,” kata sang ayah yang mengaku membeli wayang dengan cara menyicil saat ada permintaan dari anaknya. “Dan tentu baru beli kalau sudah ada uang. Kalau belum ada uang ya belum bisa dibelikan meski anaknya minta,” kata Yosef sambil tersenyum.Menurut Yosef Harjanto, saat ini di rumahnya sudah disediakan perangkat gamelan imitasi (bukan dari kuningan atau perunggu) lengkap dengan wayang yang dibeli dengan cara menyicil. Ia membeli wayang mulai dari yang harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. “Kalau perangkat gamelan yang asli dengan 160 biji wayang harganya mencapai Rp 200-an juta. Ya kami belum mampu membeli seperangkat gamelan yang asli dan lengkap seperti itu,” kata Yosef.
Dengan perangkat yang ada, putra tunggalnya itu hampir setiap hari berlatih sehingga semakin mahir. “Bahkan hampir semua cerita pewayangan dan karakter semua tokoh wayang sudah dia kuasai. Ini menjadi pendidikan karakter yang baik karena dia mengenal semua karakter tokoh wayang mulai dari yang jahat hingga yang baik. Dengan belajar karakter dari tokoh-tokoh wayang, ia bisa mengenal dan tahu mana yang baik dan yang jahat. Dan tentu ia meniru karakter tokoh wayang yang baik,” kata Yosef.
Melihat bakat sang cucu, Antonius Tumio, sang kakek pun membawa Danes ke sanggar Pedhalangan Pengalasan di Gunungkidul pimpinan Slamet Hariyadi SPd untuk belajar mendalang. Sanggar yang kini sudah berusia 20 tahun itu telah melahirkan ratusan dalang cilik maupun dewasa. “Saat saya minta syarat mendaftar untuk belajar mendalang di sanggar itu, pimpinan sanggar bilang silahkan datang saja tak perlu mendaftar. Yang penting anaknya berminat dan punya bakat silahkan belajar,” kata Antonius Tumio.
Dan sejak usia TK hingga kini, Danes pun belajar di sanggar tersebut untuk mengasah kemampuan dan mengembangkan bakat mendalang bersama ratusan dalang lainnya. Dari sanggar itu, menurut Yosef, lahir ratusan dalang cilik dan dewasa yang berbakat. Bahkan salah satu senior Danes, Gymna Cahyo Nugroho, sudah pernah pentas tingkat internasional di dua tempat di Amerika Serikat atas undangan KBRI setempat. “Saat ini Gymna Cahyo Nugroho sudah duduk di SMP,” kata Yosef.
Karena sudah mahir mementaskan wayang, menurut Yosef, Danes sudah sering tampil di acara-acara resmi tingkat Kabupaten Gunungkidul. Selain beberapa kali ikut festival tingkat kabupaten, ia juga pernah pentas wayang kulit dalam acara resmi warga perantau Gunungkidul dari Jakarta. “Dalam pagelaran wayang kulit di Dusun Purwosari, Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul dalam rangka reuni Paguyuban Perantau 'Telo' Gunungkidul, Danes tampil membawakan lakon 'Aji Narantak' bekerja sama dengan Sanggar Pedhalangan 'Pengalasan' Wiladeg pada 27 Desember 2018,” kata Yosef.
Dalam pentas reuni paguyuban 'Telo' Gunungkidul kerja sama sanggar tersebut, menurut Yosef, menampilkan 9 dalang cilik termasuk Danes, yang memainkan wayang secara bergiliran. Masing-masing dalang memainkan fragmen dengan durasi 1 jam. “Sebagai dalang cilik, dalam satu lakon biasanya dimainkan dalam durasi 60 menit. Kalau durasi lama hingga semalam suntuk biasanya dimainkan secara estafet atau bergiliran,” kata Yosef seraya menambahkan bahwa dalam sebuah pertunjukkan mulai dari wiyaga atau penabuh dan dalang, semuanya melibatkan siswa sanggar usia mulai SD hingga SMA. (lip)
