SLEMAN, BERNAS.ID – Salah satu kebutuhan dasar bagi setiap orang, termasuk kelompok penyandang disabilitas adalah paham keuangan agar terhindar dari masalah keuangan, seperti penipuan, investasi bodong, jeratan rentenir.
Kelompok difabel lebih rentan terdampak keuangan, seperti terjerat rentenir, penipuan hadiah bank, dan modus kejahatan lain karena selama ini masih minim yang melakukan litarasi ataupun edukasi keuangan, terlebih lagi keuangan syariah.
Sebagai tanggungjawab perguruan tinggi atas problema minimnya pemahaman keuangan pada kelompok difabel, maka dosen dan mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta secara bertahap melakukan pemberdayaan pada aspek literasi keuangan ini.
Salah satu programnya telah dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juni 2019 dalam beberapa kali pertemuan pendampingan edukasi keuangan termasuk keuangan syariah pada pada komunitas difabel di Kecamatan Gamping. Kegiatan ini dikoordinir oleh Ahmad Ma?ruf selaku Dosen Ilmu Ekonomi dan dibantu oleh beberapa relawan dari mahasiswa semester akhir.
“Hasil evaluasi pada hari ini mendapatkan bahwa kegiatan literasi keuangan meningkatkan kesadaran betapa pentingnya tingkat ?melek? keuangan pada semua masyarakat, termasuk pada kelompok difabel,” ungkap Ahmad Ma'ruf, Senin (24/6/2019).
Secara umum, lanjutnya hasil kegiatan masih memerlukan tindak lanjut berupa pendampingan lanjutan agar penyandang disabilitas benar-benar paham tentang keuangan syariah. “Hal ini karena latarbelakang pendidikan yang beragam,” tambahnya.
Sementara itu Yuliana, Ketua Kelompok Difabel Gamping, mengakui kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan tentang perbankan umum dan syariah, produk perbankan dan investasi.
Namun karena anggota difabel mayoritas pendidikan menengah kebawah, maka perlu sering diulang. “Kegiatan ini masih perlu dilanjutkan agar penyandang disabilitas tidak menjadi lebih paham keuangan dan tidak menjadi korban penipuan,” terangnya. (cdr)
