BANTUL, BERNAS.ID- Industri fesyen menjadi salah satu penyumbang limbah bagi lingkungan. Padahal, produksi limbah ini saat ini semakin meningkat seiring dengan tingginya konsumsi manusia kepada pakaian.
Jejak karbon dan limbah dari pakaian banyak ditemukan terutama di tempat-tempat pembuangan akhir. Untuk itu diperlukan gerakan atau kampanye untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas.
Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Eart Hour Yogyakarta, Maulida Rita Widyana mengatakan peningkatan limbah produksi pabrik garmen dipengaruhi oleh tingginya minat beli masyarakat terhadap pakaian. ?Kita tidak bisa menyalahkan pabrik secara langsung terkait limbah yang dihasilkan. Sebab, bahan berbahaya yang dihasilkan dari pabrik tersebut dipengaruhi oleh daya konsumtif kita sebagai konsumen,? ujarnya saat mengisi Workshop Limbah Kain yang diadakan oleh Fismo Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis 24 Oktober 2019.
“Semakin sering kita beli baju, maka semakin banyak limbah yang dihasilkan,” imbuhnya.
Ia juga mengatakan peran Indonesia sebagai negara pengekspor teksil ke berbagai negara juga menjadi penyebab semakin tingginya produksi limbah pakaian. Banyak pabrik dari berbagai merek ternama di dunia menempatkan negara berkembang sebagai penghasil produk yang mereka jual karena biaya produksi yang rendah. ?Indonesia menjadi salah satu pengeskpor barang garmen tertinggi di dunia. Ditambah lagi dengan pabrik yang tidak mengolah limbahnya dengan baik,? kata Maulida.
“Kami menemukan fakta bahwa ada salah satu pabrik di daerah Jakarta Utara yang membuang limbahnya langsung ke laut, itu kan bisa berbahaya sekali bagi lingkungan,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama Diah Andeswon dari DHI Project memaparkan bahwa sebagai pelaku bisnis di bidang sandang sangat miris melihat banyak sekali limbah bekas bahan baku pakaian yang terbuang pecuma. Untuk itu, Diah berharap ada kesadaran dari pelaku bisnis pakaian sendiri untuk membantu menangani permasalahan lingkungan.
?Peningkatan limbah kain dipengaruhi dengan silih bergantinya gaya feysen. Namun saat ini banyak juga desainer baju yang mulai sadar akan dampak negatif yang dihasilkan. Maka kami sebisa mungkin untuk memakai kembali limbahnya sesuai dengan fungsi serta kebutuhan. Karena tidak semua limbah bisa didaur ulang,?ujarnya.
Oleh karena itu, Maulida mengajak masyarakat untuk melakukan hal terbaik dalam mengelola limbah kain mulai dari diri sendiri. Maulida mengajak untuk melakukan hal kecil mulai dari mengurangi pembelian baju secara berlebihan. Lalu, mengombinasikan pakaian lama dengan barang lain sebagai pernak pernik, kemudian mendaur ulang pakaian lama menjadi barang baru.
Sementara itu, Diah menyarankan untuk menyumbangkan pakaian layak, tetapi sudah jarang dipakai kepada orang lain atau menjualnya. Ia juga meminta agar pemerintah pusat atau pun daerah untuk mengakomodasi gerakan-gerakan untuk menangani permasalahan limbah kain. Selain itu kesadaran akan dampak lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. (jat)
