BANTUL, BERNAS.ID – Pura Jagatnatha Banguntopo, Banguntapan, Bantul yang merupakan pusat Pura di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar ritual upacara Ngenteg Linggih, Sabtu (12/10/2019) di Pura setempat.
Upacara Ngenteg Linggih dikatakan Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIY, Ida Bagus Agung merupakan rangkaian akhir dari pelaksanaan upacara mendirikan tempat suci atau melakukan renovasi Pura. “Etimologi dari kata Ngenteg Linggih adalah, Ngenteg berarti menetapkan, dan Linggih berarti mensthanakan,” ujarnya disela upacara.
Dijelaskan Ida Bagus Agung, tahapan upacara itu sendiri meliputi, upacara Ngeruak atau upacara Pamungkah, yang dilakukan sebagai upacara awal dalam persiapan membangun Pura/Pelinggih yang status tanahnya mungkin pekarangan dan sawah, atau bila Pura tersebut akan menambah Pelinggih baru sehingga seperti membangun pura baru.
“Yang kedua upacara Nyukat Karang, dilakukan dengan maksud mengukur tata letak dan tata ruang pura atau pelinggih yang akan dibangun, serta luasan pelinggih, tata letak pelinggih masing-masing, apakah di mandala utama atau tempat pelemahan lainnya, sehingga tercipta sebuah tatanan dan tata letak yang sesuao dengan aturan yang termuat dalam Asta Kosala-Kosali pembangunan tempat suci umat Hindu,” terangnya.
Selanjutnya diikuti dengan upacara Nasarin yang merupakan adalah peletakan batu pertama yang biasanya didahului dengan upacara pemakluman pada Ibu Pertiwi dengan mempersembahkan sesayut, banten pejati, dan lainnya. “Dilanjutkan dengan upacara Memakuh dan Malaspas yang bertujuan membersihkan semua pelinggih dari semua kotorab termasuk kotoran dari tangan tukang yang membangun pura atau pelinggih agar para dewa/bhatari berkenan melinggih di pura ini setiap saat terutama pada setiap melakukan upacara seperti hari raya dan piodalan pura,” bebernya.
Dan semua rangkaian upacara tersebut ditutup dengan upacara Nganteg Linggih. Dalam upacara ini terdapat upacara inti, adalah upacara pemlaspas pura yang kemudian diikuti dengan mendem pedagingan sebagai lambang Singgasana Hyang Widhi Wasa yang di Sthanakan di tempat suci tersebut. “Bentuk serta jenis pedagingan dari satu pelinggih dengan pelinggih lainnya tidaklah sama, tergantung dari jenis dan cara memendem pedagingan ini mengikuti sastra Hindu. Adapun pedagingan tersebut adalah logam mulia, yang terdiri dari lempeng emas, perak, tembaga, dan berbagai logam mulia,” jelasnya.
Sementara itu Ketua Panitia Acara, Wayan Tunas Artama mengungkapkan fungsi dan makna Ngenteg Linggih yang merupakan upacara Mensthanakan Ida Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya pada pelinggih yang telah dipersiapkan sehingga dia (Ida Hyang Widhi Wasa) berkenan kembali pada setiap saat terutama bila dilakukan upacara di pura yang telah disucikan.
“Pada dasarnya ada dua jenis upacara Ngenteg Linggih yaitu Ngenteg Linggih Mamungkah, berupa upacara ketika sebuah pura baru pertama kali selesai dibangun dan belum pernah dilakukan upacara. Yang kedua upacara Ngenteg Linggih Mupuk Pedagingan yang merupakan upacara yang dilakukan setiap 15 hingga 25 tahun sekali dengan melakukan menanam pedagingan baru dengan maksud melakukan revitalisasi pura yang telah berdiri puluhan tahun sebelumnya,” katanya.
Upacara yang dilakukan mengikuti petunjuk Jnana Mana Karya yaitu Sulinggih yang dihaturi untuk memuput karya dan besarannya atau tingkat upacara di Pura Jagatnatha Banguntopo ini termasuj terbesar di wilayah Yogyakarta dengan tingkatan yang disebut sebagai Utamaning Madya. (cdr)
