JAKARTA, BERNAS.ID – Wabah Covid-19 memberikan dampak buruk bagi hampir semua profesi. Para pekerja seni termasuk mereka yang paling terdampak. Data yang dihimpun dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terdapat 226.586 seniman dan pekerja kreatif yang terdampak pandemi Covid-19 di seluruh Indonesia.
Data Koalisi Seni Indonesia misalnya mengungkapkan terdapat 204 acara seni yang ditunda atau dibatalkan selama pandemi. Data itu mencakup proses produksi, rilis, dan festival film (24 acara); konser, tur, dan festival musik (107 acara); pameran dan museum seni rupa (20 acara); pertunjukan tari (9 acara); acara sastra (2 acara); serta pentas teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng (42 acara).
Beberapa rekomendasi bantuan yang disampaikan Koalisi Seni di antaranya adalah membuat program dana bantuan pengganti pekerjaan seni yang hilang, penyaluran bantuan yang cepat dan tidak berbelit-belit, memudahkan akses seniman berkarya, dan memudahkan akses masyarakat menikmati karya seniman selama dampak pandemi dirasakan.
Merekam beragam bentuk perubahan yang ada dalam masyarakat adalah bagian utama dari kerja kreatif yang selama ini dilakukan oleh anggota ADN yang tersebar di segenap wilayah. Adanya ketersebaran pola perekaman ini, tentu akan memberikan warna keberagaman karya.
Karya yang muncul akan kental dengan perubahan dan persoalan lokal yang tengah dihadapi di banyak wilayah. Bagaimana persoalan itu dihadapi, tentu akan menjadi satu pengetahuan, referensi dan pustaka baru yang bisa dibagikan ke ruang yang lebih luas.
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan untuk memberikan stimulus dan jaring pengaman sosial bagi pekerja seni dan budaya yang terdampak, khususnya dokumenteris, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berinisiatif meluncurkan ?Program Rekam Pandemi?. Lewat Rekam Pandemi, terbukti ada cara cara baru dalam menyikapi guna menemukan siasat yang lebih tepat, inspiratif dan edukatif dalam diri masyarakat.
Bekerja sama dengan Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN), Direktur Jenderal Kebudayaan Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid menjelaskan bahwa sebanyak 300 dokumenteris akan mendokumentasikan perubahan signifikan sosial dan budaya masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi global terbesar dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir.
?Selama bulan Mei-Juli 2020 akan dihasilkan 2400 menit video pendek yang merekam tema: Belajar di Rumah, Religi dan Mitos/Mistis, Lebaran/Coronasiana, Usaha Mandiri, Perubahan Perilaku Keluarga, Gotong Royong, Kreativitas, dan Isu Lingkungan dari Aceh sampai ke Papua,? Jelas Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/6).
Sementara itu, Ketua ADN, Tonny Trimarsanto menjabarkan bahwa program Rekam Pandemi ini setidaknya akan mewakili cara tutur audio visual yang sangat Indonesia. Karena, pola perekaman yang dikemas dalam film dokumenter pendek ini, dilakukan oleh anggota Asosiasi Dokumenteris Nusantara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
?Jadi, persoalan persoalan yang sangat lokal, spontan dan sehari hari sebagai bagian dari perubahan sosial masyarakat di masa Pandemi Covid 19 ini, direkam oleh mereka yang berada terdekat dengan peristiwanya. Sehingga, akan terasa, keberagaman yang sangat kaya dari karya karya ini,” ungkap Tonny. (van)
