Bernas.id – Syarat untuk menjadi negara maju adalah jumlah pelaku entrepreneur harus lebih dari 14% dari rasio penduduknya. Sementara di Indonesia masih mencapai angka 3,1% para pelaku entrepreneurship-nya. Tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu adalah senjata utama untuk memerangi kemiskinan. Negara-negara maju telah membuktikan semakin tinggi tingkat pendidikan di suatu negara, semakin sejahtera warga negaranya.
Di Indonesia angka sarjana masih tergolong rendah. Hal ini mungkin salah satu penyebabnya adalah karena biaya kuliah yang tinggi. “Sejumlah 59% tenaga kerja di Indonesia masih berpendidikan SMP atau di bawah SMP, skill tidak memadai dengan pertumbuhan ekonomi dan modernisasi yang semakin meningkat,” ungkap Sri Mulyani, Menteri Keuangan, dalam sebuah kesempatan. Sementara menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyebutkan agka partisipasi kasar (APK) dalam arti masyarakat yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi hanya 38,58%. Itu artinya 65,5% penduduk usia kuliah belum bisa menikmati 4.741 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Sebagian masyarakat masih berpikir jika kuliah hanya membuang waktu dan uang. Mereka beransumsi meskipun tidak menjadi sarjana, mereka bisa mendapat pekerjaan. Pendapat itu tidak salah, tetapi alangkah sempunanya jika kita mengerjakan sesuatu dengan ilmu yang matang. Salah satu alternatif yaitu dengan kuliah. Mengambil jurusan atau program studi pun harus memperhatikan prospek pekerjaannya. Agar terprogram dari awal dan bisa maksimal hingga kita siap terjun di pekerjaan. Kuliah tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga akan menambah jaringan yang luas, serta saling mendukung antar mahasiswa untuk meraih kesuksesan bersama.
Universitas Mahakarya Asia hadir menjadi solusi terhadap kondisi tersebut. Kampus pencetak pengusaha akan melatih mahasiswanya membangun bisnis sejak menjadi mahasiswa. “Melalui WBTKM diharapkan mampu mencetak pengusaha “pemula” dan mandiri, sehingga dapat mendorong munculnya kegiatan ekonomi baru yang dapat memberikan nilai tambah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Manaker Ida Fauziyah saat memberikan sambutan Rapat Koordinasi Perluasan Kesempatan Kerja (PKK) Ditjen Binapenta dan PKK 2020, di Jakarta, Selasa (3/3/2020). Beliau juga mengatakan, ”Kami yakin akan semakin banyak angka wirausaha muda di Indonesia. Terbukti berbagai platform wirausaha online atau startup business hasil karya anak bangsa berkembang pesat dan berhasil menjadi unicorn perekonomian Indonesia.”
Universitas Mahakarya Asia – Jogja, Jakarta, Baturaja merupakan kampus yang tepat untuk melahirkan generasi pengusaha bahkan sejak menjadi mahasiswa. Untuk memperluaskan jangkauan mahasiswa di seluruh Indonesia, UNMAHA membuka kelas online dengan SPP mulai Rp200.000,00 saja per-bulan. Dengan adanya jalur online ini diharapkan akan menjangkau mahasiswa di seluruh Indonesia agar semakin besar tercetak generasi pengusaha. Mahasiswa akan dilatih menjadi pengusaha oleh Ustadz Yusuf Mansur dan seluruh tim beliau selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Universitas Mahakarya Asia. Tunggu apa lagi, jadilah salah satu pengusaha yang bakal meningkatkan ekonomi nasional di negara tercinta, Indonesia.
