SLEMAN, BERNAS.ID – Program Studi Teknologi Survei dan Pemetaan Dasar, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY melakukan riset monitoring deformasi dan dokumentasi secara digital tiga dimensi Candi Prambanan dengan menggunakan teknologi Drone Lidar dan Trestrial Laser Scanner. Dokumentasi digital ini nanti dapat dipakai untuk melestarikan bangunan cagar budaya jika mengalami perubahan atau deformasi karena bencana.
Ketua Peneliti, Ir Rochmad Muryamto, M.Eng.Sc mengatakan, pentingnya pendokumentasian secara digital 3 dimensi Candi Prambanan karena lokasinya terletak di Sesar Patahan Opak yang masih aktif. “Kami sebagai orang akademik ingin melakukan riset untuk melestarikan salah satu bangunan budaya yang merupakan warisan budaya UNESCO sejak 1991 sebagai World Heritage,” jelasnya, di Komplek Candi Prambanan, Senin 31 Agustus 2020.
“Kami sudah melakukan riset sejak tahun 2018, ketika itu riset dalam rangka melakukan pergerakan dengan memasang titik-titik pantau untuk kita ukur koordinat sehingga kita bisa memantau pergeseran, baik vertikal atau horisontal,” imbuhnya.
Ir Rochmad mengatakan riset pendokumentasian memang tidak bisa dilakukan dalam kurun waktu hanya satu tahun. “Kami harus melakukan secara per tahun atau time series. Tahun 2018, kita ukur lagi. Tahun 2019, kita ukur lagi. Tahun 2020,k ukur lagi sehingga pergeseran bisa diketahui karena masing-masing memiliki titik koordinat,” ujarnya.
Menurut Ir Rochmad, dengan memiliki dokumentasi secara digital, pihaknya juga berniat untuk membangun miniatur tiga dimensi yang nantinya bisa digunakan pihak BPCB bila terjadi bencana. “Dokumentasi sangat penting, misal ada relief yang patah, kita tidak bisa rebuild lagi, tapi jika punya scan yang tidak sekedar foto, kita bisa merestorasi sesuai aslinya,” ucapnya.
Untuk membuat dokumentasi digital yang akurat, Ir Rochmad mengatakan bahwa pihaknya menggabungkan beberapa teknologi karena secara arsitektur candi Prambanan itu unik sekali, menjulang tinggi. “Kami tidak mungkin melakukan proses scanner sampai ke atas, kami menggabungkan teknologi dari Geotronix dengan Teknologi Lidar dan PT Asaba, Teknologi Trestrial Laser Scanner,” ujarnya.
Sedangkan, Fajar Setioadi, Direktur Geotronix mengatakan, pihaknya menggunakan dua microdrones untuk melakukan pendokumentasian secara digital Candi Prambanan, yaitu mdLidar1000 dan mdMapper1000. “Microdrones merupakan drone survei dan pemetaan paling canggih di dunia saat ini,” ucapnya.
“Microdrones mdLidar1000 membawa sensor Lidar yang dapat menghasilkan foto tiga dimensi dengan ketelitian yang tinggi dan mdMapper1000 membawa sensor kamera resolusi tinggi 42 megapixel,” imbuhnya.
Untuk output yang dihasilkan, Fajar menyebut peta situasi komplek Candi Prambanan dengan akurasi tinggi dan resolusi tinggi. “Nantinya dokumentasi ini untuk keperluan konservasi. Jika kita memiliki dokumentasi dengan resolusi tinggi dan ketelitian tinggi jika ada bencana atau hal-hal yang menyebabkan candi ini mengalami perubahan atau deformasi maka kita punya data untuk merekonstruksi candi ini kembali. Dokumentasi ini seperti database,” jelasnya.
Fajar mengatakan pemakaian microdrones buatan Jerman untuk kawasan heritage baru yang pertama kali. Ia mengatakan untuk pemetaan area seluas komplek Candi Prambanan, tidak kurang dari 25 menit dengan jangkauan pemetaan lebih luas, cover area 100 persen tanpa ada gap. “Kami juga menggunakan produk GPS dari Sokkia, digunakan sebagai titik referensi untuk meningkatkan koordinat dari drone terhadap koordinat di darat,” ucapnya.
Lalu, Wahyu Widiat Miko, Technical Support Manager dari PT Asaba mengatakan alat yang dipakai untuk mendokumentasikan Candi Prambanan secara digital bernama 3D Laser Scanner. Alat ini sangat cocok dipakai untuk analisis suatu bidang konstruksi.
“Alat pemetaan topografi berupa laser scanner, memetakan objek dengan menggunakan laser yang akan membentuk hasil tiga dimensi,” ujarnya.
Wahyu mengatakan alat ini memiliki jarak jangkauan sampai 350 meter sehingga bila dipakai untuk analisa suatu bangunan konstruksi seperti Candi Prambanan akan sangat tepat. “Alat ini akan melihat secara real objek di depannya dengan tepat, mulai dari patahan atau retakan sehingga nanti bisa cepat mengambil kesimpulan,” katanya.
Sebelumnya, Wahyu mengatakan alat 3D Lasser Scanner pernah dipakai untuk melakukan pemetaan di Candi Borobudur. “Tahun 2009, 2012, 2014, kita rutin untuk mensuport,” katanya.
Sementara itu, Dra Zaimul Azzah MHum, Kepala BPCB DIY tak memungkiri bahwa dokumentasi pemetaan digital yang dihasilkan akan sangat komprehensif. “Hasilnya kami tunggu-tunggu karena memang berbeda dari pendokumentasian secara manual. Hasil penelitian ini lebih detail lagi,” katanya.
“Ini akan sangat bermanfaat bagi kami untuk upaya pelestarian Candi Prambanan sebagai warisan budaya dunia, misal untuk stabilitas Candi Prambanan, jika punya dokumentasi yang detail, bisa cermat dalam melakukan penanganan ke depan,” imbuhnya.
Ia pun menyebut pihaknya sebenarnya sudah melakukan pemetaan, tapi dengan peralatan pemetaan yang masih sangat sederhana. (jat)
