Close Menu
BERNAS.id
    Berita Terbaru

    Polres Bogor Bantah Intimidasi Penyidik di Kasus DS dan NA

    May 26, 2026

    Indonesia Walk For Peace 2026: Persaudaraan Lintas Negara Bersemi di Yogyakarta

    May 26, 2026

    Sanksi Preventif Raperda KLA Sasar Pelaku Kenakalan Remaja di Kota Jogja

    May 26, 2026

    Anak Cedera Otak, Penanganan Kasus Kecelakaan Disorot

    May 26, 2026

    Kajati Sulteng Lantik Dua Koordinator Baru Kejati

    May 26, 2026
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    BERNAS.id
    • Home
    • Regional
      • Internasional
      • Nasional
      • Daerah
        • DK Jakarta
        • DI Yogyakarta
        • Jawa Tengah
        • Jawa Timur
    • Finance

      Dorong Tranformasi Digital, Bank Jakarta Raih Penghargaan Digital Brand

      May 24, 2026

      Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan, Menkeu Purbaya Hadiri Jogja Financial Festival 2026

      May 22, 2026

      Siswa SMAN 28 Jakarta Antusias Sambut Program KEJAR DKI

      May 19, 2026

      DIY Jadi Tuan Rumah Pembukaan Seleksi Calon Anggota Industri Kreatif Syariah (IKRA) Tahun 2026

      April 30, 2026

      Ninja Xpress Luncurkan Ninja Cross Border: Dari Indonesia ke Dunia

      April 26, 2026
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Karir
    • Lifestyle
    • Politik
    • Hukum
    • Other
      • Travel
      • Entertainment
      • Opini
      • Tokoh
      • Budaya
      • Religi
      • Lingkungan
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Desa
      • Beragam
        • Bernas TV
        • Citizen Journalism
        • Editorial
        • Highlight
        • Inspirasi
        • Press Release
        • GlobeNewswire
    • Channel Jakarta
    BERNAS.id
    Home»Teknologi»Manakah yang Lebih Dahsyat, Matahari Buatan China atau Korea Selatan?
    Teknologi

    Manakah yang Lebih Dahsyat, Matahari Buatan China atau Korea Selatan?

    Sabila J. FirdaBy Sabila J. FirdaDecember 29, 2020Updated:September 21, 2024No Comments
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email
    Share
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email

    Bernas.id ? Pada masa ini, penggunaan energi diperkiraan akan membuat kelangkaan energi. Energi utama yang berasal dari fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam akan habis. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam jurnal Energy: The Next Fifity Years menyebut bahan bakar fosil tak bisa memenuhi kebutuhan listrik dan transportasi penduduk dunia yang diprediksi lebih dari dua miliar orang pada 2050.

    Para ilmuwan mulai mengembangkan energi alternatif yang ramah lingkungan. Salah satunya lewat pembangkit listrik energi fusi nuklir yang disebut dengan ?Matahari Buatan?. Matahari atau Surya adalah bintang di pusat tata surya. Bentuknya nyaris bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Diameternya sekitar 1.392.684 km, kira-kira 109 kali diameter Bumi, dan massanya (sekitar 2×1030 kilogram, 330.000 kali massa Bumi) mewakili kurang lebih 99,86 % massa total tata surya.

    Secara kimiawi, sekitar tiga perempat massa matahari terdiri dari hidrogen, sedangkan sisanya didominasi helium. Sisa massa tersebut (1,69%, setara dengan 5.629 kali massa Bumi) terdiri dari elemen-elemen berat seperti oksigen, karbon, neon, dan besi. Matahari terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu akibat peluruhan gravitasi suatu wilayah di dalam sebuah awan molekul besar. Sebagian besar materi berkumpul di tengah, sementara sisanya memipih menjadi cakram beredar yang kelak menjadi tata surya. Massa pusatnya semakin panas dan padat dan akhirnya memulai fusi termonuklir di intinya.

    Saat ini, Matahari buatan tersebut diciptakan oleh dua negara, yaitu China dan Korea Selatan. China mengembangkan matahari buatan ini sebagai proyek yang merupakan bagian dari  program Reaktor Termonuklir Internasional (ITER) di Prancis. Sedangkan matahari buatan korea dikembangkan oleh Korea Superconducting Tokamak Advanced Research (KSTAR), merupakan studi bersama Seoul National University (SNU) dan Columbia University, Amerika Serikat.

    Matahari buatan tersebut terbuat dari reaksi fusi nuklir dengan panas yang melebihi panas  inti matahari. Untuk mencapai fusi, dua unsur ringan yaitu Deuterium dan Tritium digabungkan, kemudian dipanaskan dalam suhu 109 derajat Celcius, atau sekitar satu milyar derajat Celcius. Usai dipanaskan mencapai fusi, maka terbentuk plasma panas yang bisa digunakan sebagai energi terbarukan. Energi tersebut diklaim ramah lingkungan, tidak mengeluarkan limbah berbahaya dan minim risiko kebocoran. Bahan bakarnya mudah diperoleh dengan menyunting air laut menjadi Deuterium dan Tritium.  Sehingga  energi ini dapat dibuat secara terus menerus karena sumber daya alam yang melimpah.

    Melansir dari CNN Indonesia, Dosen Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada, Yudi Utomo menjelaskan ada kendala serius yang belum bisa diatasi oleh ilmuwan dlam meneliti Matahari Buatan. Yudi mengatakan hingga saat ini, belum ada satu jenis material yang mampu menahan panas hingga satu juta derajat Celcius. Sementara panas plasma pada reaktor fusi bisa mencapai 150 juta derajat Celcius. ?Memerlukan material tahan panas yang sampai satu juta derajat Celcius, dan itu belum ada material bikinan manusia yang bisa mengungkung, karena bisa meleleh,jadi problemya bukan di reaksinya, tapi di material engineering-nya,? kata Yudi.

    Matahari buatan China digadang-gadang memiliki panas 10 kali lipat dari inti matahari yaitu mencapai 15 juta derajat Celcius. Matahari buatan ini dinamakan dengan HL-2M Tokamak. Meskipun matahari buatan China berhasil menyala, HL-2M Tokamak ternyata tak sehebat yang dikira. Jika Matahari itu terus menyala selama 4,6 miliar, program tersebut hanya berlangsung beberapa detik saja.Spesifikasi perangkatnya juga tak sehebat itu. Arus listrik terkuat yang dihasilkan fasilitas itu hanya dua hingga tiga mega amper saja. Diketahui bahwa untuk melakukan riset reaktor fusi nuklir yang dilakukan China menggunakan Tokamak menghabiskan sekitar USD 22,5 milyar atau setara dengan Rp. 310 Triliun. HL-2M  tokamak rencananya akan dikomersialisasikan pada tahun 2050.

    Matahari buatan Korea Selatan berhasil menyala selama 20 detik dengan suhu mencapai 100 juta derajat Celcius. Catatan waktu menyalanya matahari buatan ini lebih kama dari China yang hanya menyala selama beberapa detik saja. Sejauh ini, perangkat fusi lain yang beroperasi di suhu 100 juta derajat atau lbih tinggi belum ada yang berhasil menyala lebih dari 10 detik sehingga Korea Selatan mencetak rekor baru dari keberhasilan tersebut. Meskipun begitu, namun panas matahari buatan Korea Selatan masih dibawah matahari buatan China yang bisa mencapai 150 juta derajat celcius. Matahari buatan Korea Selatan dinamai Superkonduktor Tokamak milik korea (KSTAR). Korea Selatan berencana untuk menyalakan Matahari Buatan lebih lama 300 detik dengan suhu ion lebih tinggi dari 100 juta derajat pada tahun 2025.

    Matahari buatan dari kedua negara tersebut tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga kita tidak dapat mengklaim matahari buatan dari negara mana yang lebih baik dan lebih dahsyat. (arl)

    inovasi
    Share. Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email
    Sabila J. Firda

    Related Posts

    Jelang Idul Adha, Fapet UGM Kenalkan Gama Abilawa Portable Restraining Box untuk Hewan Kurban

    May 18, 2026

    Apa yang Membatasi Umur Baterai Ponsel Berkapasitas Besar?

    May 17, 2026

    Aplikasi Simetris Berbasis AI Siap Cegah Kasus Keracunan MBG di Yogyakarta

    May 13, 2026

    Gabungkan Kekuatan, ASUS, Intel dan Microsoft, ASUS ExpertBook Ultra, The Flagship of the Industry, Hadirkan Tenaga 50W Tanpa Kompromi

    May 7, 2026

    5 Mobil Keluarga Terbaik yang Nyaman untuk Liburan dan Aktivitas Sehari-hari

    May 3, 2026

    Tri Atmodjowati: Kesiapan Psikologis Jadi Tantangan di Era AI

    April 30, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Internasional Terbaru

    Google Cloud Security Menggunakan Platform Instruqt untuk Melatih Lebih dari 150 Praktisi tentang AI Agentik pada Google Next 2026

    May 26, 2026

    EMGA memfasilitasi pembiayaan senilai USD 15 juta untuk Asia Alliance Bank dari OeEB

    May 23, 2026
    Berita Nasional Terbaru

    28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Luncurkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa

    May 21, 2026

    Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

    April 13, 2026
    Berita Daerah Terbaru

    Indonesia Walk For Peace 2026: Persaudaraan Lintas Negara Bersemi di Yogyakarta

    May 26, 2026

    Sanksi Preventif Raperda KLA Sasar Pelaku Kenakalan Remaja di Kota Jogja

    May 26, 2026
    BERNAS.id

    Office Address :
    Jakarta
    Menara Cakrawala 12th Floor Unit 05A
    Jl. MH Tamrin Kav. 9 Menteng, Jakarta Pusat, 10340

    Yogyakarta
    Kawasan Kampus Universitas Mahakarya Asia,
    Jl. Magelang KM 8, Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281

    Email :
    info@bernas.id
    redaksi@bernas.id

    Advertisement & Placement :
    +62 812-1523-4545

    Link
    • Google News BERNAS.id
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    • Kode Etik
    • Verifikasi Dewan Pers BERNAS.id
    BERNAS.id
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    © 2015 - 2026 BERNAS.id All Rights Reserved.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.