Bernas.id ? Pada masa ini, penggunaan energi diperkiraan akan membuat kelangkaan energi. Energi utama yang berasal dari fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam akan habis. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam jurnal Energy: The Next Fifity Years menyebut bahan bakar fosil tak bisa memenuhi kebutuhan listrik dan transportasi penduduk dunia yang diprediksi lebih dari dua miliar orang pada 2050.
Para ilmuwan mulai mengembangkan energi alternatif yang ramah lingkungan. Salah satunya lewat pembangkit listrik energi fusi nuklir yang disebut dengan ?Matahari Buatan?. Matahari atau Surya adalah bintang di pusat tata surya. Bentuknya nyaris bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Diameternya sekitar 1.392.684 km, kira-kira 109 kali diameter Bumi, dan massanya (sekitar 2×1030 kilogram, 330.000 kali massa Bumi) mewakili kurang lebih 99,86 % massa total tata surya.
Secara kimiawi, sekitar tiga perempat massa matahari terdiri dari hidrogen, sedangkan sisanya didominasi helium. Sisa massa tersebut (1,69%, setara dengan 5.629 kali massa Bumi) terdiri dari elemen-elemen berat seperti oksigen, karbon, neon, dan besi. Matahari terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu akibat peluruhan gravitasi suatu wilayah di dalam sebuah awan molekul besar. Sebagian besar materi berkumpul di tengah, sementara sisanya memipih menjadi cakram beredar yang kelak menjadi tata surya. Massa pusatnya semakin panas dan padat dan akhirnya memulai fusi termonuklir di intinya.
Saat ini, Matahari buatan tersebut diciptakan oleh dua negara, yaitu China dan Korea Selatan. China mengembangkan matahari buatan ini sebagai proyek yang merupakan bagian dari program Reaktor Termonuklir Internasional (ITER) di Prancis. Sedangkan matahari buatan korea dikembangkan oleh Korea Superconducting Tokamak Advanced Research (KSTAR), merupakan studi bersama Seoul National University (SNU) dan Columbia University, Amerika Serikat.
Matahari buatan tersebut terbuat dari reaksi fusi nuklir dengan panas yang melebihi panas inti matahari. Untuk mencapai fusi, dua unsur ringan yaitu Deuterium dan Tritium digabungkan, kemudian dipanaskan dalam suhu 109 derajat Celcius, atau sekitar satu milyar derajat Celcius. Usai dipanaskan mencapai fusi, maka terbentuk plasma panas yang bisa digunakan sebagai energi terbarukan. Energi tersebut diklaim ramah lingkungan, tidak mengeluarkan limbah berbahaya dan minim risiko kebocoran. Bahan bakarnya mudah diperoleh dengan menyunting air laut menjadi Deuterium dan Tritium. Sehingga energi ini dapat dibuat secara terus menerus karena sumber daya alam yang melimpah.
Melansir dari CNN Indonesia, Dosen Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada, Yudi Utomo menjelaskan ada kendala serius yang belum bisa diatasi oleh ilmuwan dlam meneliti Matahari Buatan. Yudi mengatakan hingga saat ini, belum ada satu jenis material yang mampu menahan panas hingga satu juta derajat Celcius. Sementara panas plasma pada reaktor fusi bisa mencapai 150 juta derajat Celcius. ?Memerlukan material tahan panas yang sampai satu juta derajat Celcius, dan itu belum ada material bikinan manusia yang bisa mengungkung, karena bisa meleleh,jadi problemya bukan di reaksinya, tapi di material engineering-nya,? kata Yudi.
Matahari buatan China digadang-gadang memiliki panas 10 kali lipat dari inti matahari yaitu mencapai 15 juta derajat Celcius. Matahari buatan ini dinamakan dengan HL-2M Tokamak. Meskipun matahari buatan China berhasil menyala, HL-2M Tokamak ternyata tak sehebat yang dikira. Jika Matahari itu terus menyala selama 4,6 miliar, program tersebut hanya berlangsung beberapa detik saja.Spesifikasi perangkatnya juga tak sehebat itu. Arus listrik terkuat yang dihasilkan fasilitas itu hanya dua hingga tiga mega amper saja. Diketahui bahwa untuk melakukan riset reaktor fusi nuklir yang dilakukan China menggunakan Tokamak menghabiskan sekitar USD 22,5 milyar atau setara dengan Rp. 310 Triliun. HL-2M tokamak rencananya akan dikomersialisasikan pada tahun 2050.
Matahari buatan Korea Selatan berhasil menyala selama 20 detik dengan suhu mencapai 100 juta derajat Celcius. Catatan waktu menyalanya matahari buatan ini lebih kama dari China yang hanya menyala selama beberapa detik saja. Sejauh ini, perangkat fusi lain yang beroperasi di suhu 100 juta derajat atau lbih tinggi belum ada yang berhasil menyala lebih dari 10 detik sehingga Korea Selatan mencetak rekor baru dari keberhasilan tersebut. Meskipun begitu, namun panas matahari buatan Korea Selatan masih dibawah matahari buatan China yang bisa mencapai 150 juta derajat celcius. Matahari buatan Korea Selatan dinamai Superkonduktor Tokamak milik korea (KSTAR). Korea Selatan berencana untuk menyalakan Matahari Buatan lebih lama 300 detik dengan suhu ion lebih tinggi dari 100 juta derajat pada tahun 2025.
Matahari buatan dari kedua negara tersebut tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga kita tidak dapat mengklaim matahari buatan dari negara mana yang lebih baik dan lebih dahsyat. (arl)
