YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Menerbitkan jurnal biasanya menjadi salah satu syarat wajib mengikuti ujian akhir atau syarat lulus untuk mahasiswa jenjang magister dan doktoral.
Namun, menerbitkan jurnal seringkali tidak mudah. Banyak mahasiswa jenjang magister dan doktoral yang terhambat proses studinya karena proses penerbitan jurnal ini.
Dalam proses penerbitan jurnal melibatkan reviewer yang menerapkan standar tertentu agar naskah yang kita tulis bisa lolos publikasi, apalagi jika kita ingin menerbitkan jurnal di publisher bereputasi seperti Scopus.
Waktu yang dibutuhkan untuk proses review jurnal juga bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga satu tahun lamanya.
Tak sedikit pula peneliti atau akademisi yang terjebak jurnal predator karena kurangnya informasi atau terburu-buru dalam proses publikasi.
Mengenal jurnal predator
Merangkum data pusat penelitian di University of Texas, jurnal predator merupakan layanan publikasi jurnal tanpa menyediakan peer-review atau editing, lalu mematok biaya tertentu pada penulis untuk proses publikasi.
Karena penerbit predator tidak mengikuti standar akademis yang tepat untuk penerbitan, proses penerbitan jurnal predator biasanya sangat cepat.
Sebaliknya, jurnal akademik berkualitas tinggi membutuhkan waktu lebih lama untuk mempublikasikan artikel karena melalui proses peer review dan copy editing yang tepat.
Kebalikan dari jurnal predator adalah jurnal akses terbuka. Proses penerbitan jurnal akses terbuka memang tetap mematok biaya tertentu dari penulisnya tetapi tetap mempertahankan standar yang tinggi untuk tinjauan dan pengeditan naskah.
Tujuan penerbitan jurnal akses terbuka adalah untuk menyebarkan penelitian ke audiens yang lebih besar dengan menghapus paywall atau tanpa batasan akses ke konten.
Jurnal akses terbuka bisa dikutip dalam penelitian lain, yang nantinya juga bisa meningkatkan nama penulis jurnal tersebut.
Pada 2015, diperkirakan ada 996 penerbit predator (termasuk 447 penerbit jurnal mandiri) yang menerbitkan lebih dari 11.800 jurnal.
Dari jumlah tersebut, sekitar 8.000 judul jurnal aktif dan menerbitkan total sekitar 420.000 artikel.
Baca juga: Penting untuk Mahasiswa, Berikut Tips Publikasi Jurnal Ilmiah
Ciri-ciri jurnal predator
Menurut data akademik University of Massachusetts Lowell berikut ciri-ciri jurnal predator:
Sering mengirim email
Jurnal predator akan secara agresif meminta kita untuk mengirimkan naskah.
Permintaan bisa dalam bentuk spam atau email bertubi-tubi. Jurnal yang bereputasi biasanya tidak meminta penulis, justru pihak penulis yang akan menghubungi publisher.
Waktu review sangat singkat
Hampir semua jurnal predator mengklaim telah melakukan peninjauan oleh tim reviewer khusus. Jangan mudah percaya akan hal itu.
Sebab,proses review biasanya membutuhkan waktu yang lama, sedangkan waktu review jurnal predator tergolong singkat. Bahkan, proses review jurnal predator hanya dalam hitungan hari.
Pihak redaksi tidak memiliki kualifikasi
Anggota dewan redaksi jurnal predator biasanya kurang memiliki kualifikasi di bidangnya. Mereka biasanya menggunakan dewan editorial yang sama untuk jurnal yang berbeda.
Padahal, untuk proses review jurnal membutuhkan orang yang benar-benar ahli di bidangnya.
Memanfaatkan nama cendekiawan terkenal
Jurnal predator kadang-kadang akan meminta cendekiawan terkenal untuk bergabung dengan dewan redaksi mereka.
Hal ini bertujuan untuk memberikan kredibilitas pada jurnal mereka tetapi tidak membiarkan cendekiawan tersebut membuat keputusan.
Selain itu, jurnal predator juga seringkali mendaftarkan nama akademisi sebagai anggota dewan editorial tanpa izin mereka dan tidak mengizinkan akademisi untuk mengundurkan diri dari dewan editorial.
Tidak bisa muncul dalam indeks utama
Jurnal predator tidak bisa muncul dalam indeks utama dan indeks umum, meskipun mungkin pihak redaksi mengklaim demikian.
Beberapa jurnal predator mengklaim bahwa jurnal yang mereka publikasikan bisa diindeks oleh Thomson Reuters, padahal hal itu hanya kebohongan belaka.
