Fotografi adalah seni melukis atau menangkap cahaya. Alat yang digunakan untuk melakukan kegiatan ini adalah kamera. Perlu diketahui bahwa seni fotografi memiliki banyak aliran seperti human interest photography, journalism photography, street photography, fashion photography dan banyak lainnya.
Gil Chandra adalah seorang fashion photographer dan art director. Laki-laki berusia 26 tahun ini, telah memulai kiprah pada bidang fashion Photography sejak di sekolah menengah. Ia akan berbagi kisahnya kepada pembaca Bernas.id, semoga dapat menginspirasi. Simak percakapan tim Bernas.id dengan Gil.
Apa kabar Gil?
Baik, halo pembaca Bernas.id.
Apa kesibukan anda saat pandemi ini?
Saat ini di Bandung. Bekerja pada sebuah brand sebagai art director dan graphic designer. Meskipun begitu, saya tetap aktif sebagai fashion photographer. Rasanya sulit meninggalkan profesi ini.
Sejak kapan anda tertarik pada bidang fotografi?
Saya tertarik pada dunia fotografi sejak 2008. Pada Saat itu , masih sekolah menengah pertama. Terus terang saja, awalnya bukan dunia fotografi yang mencuri perhatian. Namun, fashion blogging. Pada tahun itu sedang trend. Ada beberapa blogger yang sering unggah foto gaya berpakaiannya, seperti Sonya Erika dan Diana Rikasari.
Saya juga ingin membuat karya seperti itu tetapi rasanya kalau foto sendiri kok kurang cocok ya. Tercetuslah ide memotret gaya orang lain saja. Saya mengajak beberapa teman sebagai modelnya. Membuat konsep dan mengeksekusi pengambilan gambarnya sendiri. Tanpa disengaja, saya telah melakukan fashion photography. Rasa cinta pada dunia fotografi, tumbuh tanpa saya sadari. Terutama Fashion Photography.
Dapatkah anda menjelaskan tentang fashion photography?
Mungkin analoginya ibarat musik, fotografi memiliki banyak genre. Fashion photography adalah salah satu dari genre atau biasa disebut aliran. Perbedaan fashion photography terletak pada proses pengambilan gambar. Berbeda dengan street photography yang hanya membutuhkan seorang fotografer dan objek menarik di jalan. Fotografer mencari sebuah objek saat itu juga. Tidak demikian dengan fashion photography. Dalam proses mengambil gambar, fotografer harus menciptakan objeknya. Menciptakan kejadian. Tak heran jika aliran fotografi ini, membutuhkan banyak orang dari berbagai disiplin ilmu. Seseorang yang memiliki profesi sebagai fashion photographer, seringkali melibatkan tim seperti make-up artist, model, fashion stylist, lighting, art director, dan banyak lainnya.
Menurut anda, apakah profesi fashion photographer adalah profesi yang menjanjikan?
Menurut saya, saat ini profesi fashion photographer menjanjikan. Dulu mungkin belum terlalu, saat ini industri kreatif sedang dalam kondisi baik. Anak muda mulai bangga akan produk lokal. Nah, dengan begini banyak sekali produk lokal yang membutuhkan profesi fashion photographer untuk menghasilkan content. Apalagi jika produk tersebut berkaitan dengan retail dan kecantikan.
Peran sosial media juga membantu profesi ini berkembang. Banyak produk atau brand membutuhkan lebih banyak visual content untuk memasarkan lewat sosial media. Bukan tidak mungkin, kedepannya semakin banyak yang membutuhkan bantuan seorang fashion photographer.

Menurut anda, apa saja hal dibutuhkan untuk menjadi seorang fashion photographer?
Hal paling utama yang dibutuhkan semua fotografer adalah teknik dasar. Belajar teknik dasar ini bisa dari mana saja seperti sekolah, komunitas, dan lainnya. Namun, seorang fashion photographer, wajib memiliki pembeda atau karakteristik. Karakteristik visual yang kuat dapat membedakan karya anda dan orang lain.
Industri kreatif semakin besar dan berkembang. Kebutuhan mereka terhadap fashion photographer akan semakin besar. Ada jutaan orang yang berprofesi sama dengan anda. Jika tidak memiliki karakteristik maka sulit bertahan pada bidang ini.
Bagaimana proses pembeda atau karakteristik dapat terbentuk?
Karakteristik memang akan terbentuk dari jam terbang seorang fashion photographer. Namun, bukan berarti kita hanya menunggu waktu saja bukan. Saya rasa bagi teman-teman yang ingin memulai, ada baiknya cari inspirasi dan referensi sebanyak mungkin. Perhatikan sekitar anda.
Saya mengalami proses pembentukan karakteristik yang cukup panjang. Saya mencoba segala sesuatu untuk mendapatkan inspirasi dan referensi. Menonton film, mendengarkan musik, dan mengamati isu sosial. Ini membuat saya terus berkembang dan akhirnya menemukan style atau karakteristik. Saya yakin teman-teman memiliki metode atau cara lain dalam mencari referensi atau inspirasi. Tidak berhenti belajar dan mengamati hal yang dekat dengan kita akan membantu proses penemuan karakteristik ini. Perbanyak melihat, mendengar, dan kolaborasi dengan teman dari disiplin ilmu lain. Itu akan menambah wawasan dalam proses pembentukan karakter anda.
