SLEMAN, BERNAS.ID – Tes acak terhadap 6.742 pemudik melalui pos penyekatan dengan hasil sekitar 4.123 pemudik terkonfirmasi positif tidak bisa dianggap sebagai gambaran sebenarnya tentang kondisi penularan Covid-19. Sebab, tes tersebut dilakukan secara acak dan tidak disebutkan alat tes deteksi Covid-19 yang digunakan.
Epidemiolog UGM, Bayu Satria Wiratama mengatakan, meski dari data Komite Penanganan Covid-19 diketahui lebih dari 60 persen pemudik terkonfirmasi positif, data itu belum menunjukkan situasi yang sebenarnya. “Belum tentu (angka sebenarnya), karena untuk menggambarkan kondisi sebenarnya kita perlu kaidah yg benar dalam mengambil sampel secara acak,” kata Bayu Satria, Selasa (12/5/2021).
Untuk mencapai gambaran sebenarnya, Bayu menyebut perlunya sistematika pengambilan sampel acak yang sesuai kaidah. “Jika tes secara acak itu pun menggunakan tes rapid antigen, swab PCR atau Genose C19 maka angka terkonfirmasi positif sebesar itu menunjukkan hal yang mengkhawatirkan,” ujarnya.
“Namun, angka itu tidak bisa menjadi dasar untuk mengatakan secara keseluruhan kondisi gambaran pemudik yang terpapar Covid-19,” imbuhnya.
Ia pun menyetujui kebijakan pelarangan mudik Pemerintah untuk antisipasi gelombang kedua pandemi seperti yang terjadi di India. Meski sudah ada larangan mudik tetap ada saja warga yang memilih mudik jauh-jauh hari bahkan menerobos pos-pos penyekatan mudik.
“Pelarangan mudik susah dilakukan apalagi tanpa penjelasan dan komunikasi yang bagus dari pemerintah seperti kenapa mudik dilarang tapi berwisata boleh,” imbuhnya.
Baca juga : Libur Lebaran, Dinas Pariwisata Sleman Monitor Prokes di Obyek Wisata
Untuk warga yang terlanjur mudik di kampung, Bayu berharap adanya penguatan sistem surveilans dan monitoring kasus di masing-masing wilayah sampai tingkat RT/RW. “Hal itu perlu dilakukan agar dapat dilakukan deteksi dini dan diisolasi dengan cepat jika kasus muncul sehingga bisa ditekan penyebarannya,” jelasnya.
Menurut Bayu, pelaporan di tingkat RT/RW juga diperlukan untuk mencatat siapa saja pemudik yang datang sampai dengan kontak asal dan alamat asal untuk dilaporkan ke satgas daerah. “Tujuannya untuk mempermudah kontak tracing jika terjadi kasus,” ucapnya.
Selain itu, Bayu juga menyarankan agar setiap pemudik melakukan tes Covid-19 sebanyak dua kali saat kedatangan dan dikarantina terlebih dahulu. “Intinya jika memungkinkan semua pemudik yang kembali pulang dikarantina dulu 5 hari dan dites dua kali,” katanya.
Tak kalah penting, Bayu mengingatkan kembali sosialisasi pentingnya penggunaan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan hingga rajin mencuci tangan. “Kunci utama penanggulangan penyebaran Covid-19 terletak di masing masing individu sehingga edukasi tetap menjadi bagian yang penting dalam pencegahan Covid-19,” tuturnya. (jat)
