Bernas.id – Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat atas suatu barang atau jasa meningkatkan permintaan pasar. Kenaikan permintaan pasar atas produk tersebut dapat menyebabkan inflasi. Oleh karena itu, keseimbangan antara permintaan dan penawaran atas produk menjadi perhatian utama pemerintah untuk menekan laju inflasi yang berlebih.
Berbicara tentang inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) senantiasa mengumumkan tingkat inflasi setiap bulan. BPS membandingkan pergerakan inflasi dengan bulan sebelumnya (mont to mont), tahun berjalan (year to date), dan inflasi tahunan (year on year). Hal ini membuktikan bahwa inflasi menjadi perhatian khusus dan memiliki peran penting bagi perekonomian nasional.
Lantas apa yang dimaksud dengan inflasi dan apa saja indikator yang dipakai untu mengukurnya? Penjelasan tentang inflasi dapat Anda simak pada artikel ini.
Baca juga: 9 Perusahaan Consumer Goods di Indonesia dengan Nilai Saham Terbesar
Mengenal Apa Itu Inflasi

Melalui artikel ini, anda akan mengerti tentang pengertian inflasi, objek pengukuran Indeks Harga Konsumen (IHK), dan beberapa hal penting terkait inflasi. Berikut ini adalah pembahasan tentang inflasi yang dapat anda pelajari.
Pengertian Inflasi
Definisi inflasi adalah proses kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dan mempengaruhi mekanisme pasar. Faktor yang menyebabkan inflasi umumnya karena konsumsi masyarakat terus meningkat, likuiditas berlebihan yang memicu sikap konsumtif dan adanya spekulasi, serta distribusi barang tidak lancar.
Dalam mengukur laju inflasi ada banyak cara, akan tetapi yang biasa dipakai yaitu Indeks Harga Konsumen (IHK) dan disagregasi. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam mengukur inflasi, tidak dapat hanya menilai harga dari satu atau dua barang saja kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.
Baca juga: Inflasi Bukanlah Akhir Dunia, Yuk Kenali Lebih Dekat
Objek Pengukuran IHK
Pengelompokkan IHK dibagi menjadi tujuh kelompok yang diperoleh dari data hasil Survei Biaya Hidup (SBH). Berikut tujuh pengelompokan IHK yaitu:
- Bahan Makanan.
- Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau.
- Perumahan.
- Sandang.
- Kesehatan.
- Pendidikan dan Olahraga.
- Transportasi dan Komunikasi.
Baca juga: Strategi Kementan Jaga Inflasi Pangan
Disagregasi Inflasi
Selain kelompok inflasi di atas, BPS juga mengklasifikasikan inflasi dengan cara lain yaitu disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi tersebut menghasilkan indikator yang berpengaruh secara fundamental.
Pengelompokan disagregasi inflasi ada dua yaitu inflasi inti dan non inti, berikut penjelasannya:
1. Inflasi Inti
Dalam komponen inflasi dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti:
- Interaksi permintaan-penawaran.
- Lingkungan eksternal yaitu berhubungan dengan nilai tukar rupiah, harga komoditi internasional, dan inflasi mitra dagang.
- Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
2. Inflasi non-inti
Komponen ini dipengaruhi oleh faktor selain yang bersifat fundamental. Komponen inflasi non-inti terdiri dari:
- Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food): Inflasi ini dipengaruhi oleh gangguan alam sehingga gagal panen, harga komoditas dan pangan nasional dan internasional.
- Inflasi Komponen Harga yang diatur oleh pemerintah seperti penghapusan subsidi, kenaikan tarif listrik dan transportasi atau lainnya akan berpengaruh pada kejutan (shocks)
Baca juga: 3 Cara Membeli Saham Bagi Pemula dengan Mudah
Determinan Inflasi
Determinan inflasi adalah sebuah peristiwa ekonomi yang disebabkan oleh adanya tekanan supply atau cost push inflation, permintaan atau demand pull inflation, dan ekspektasi inflasi di suatu wilayah. Faktor-faktor penyebabnya yaitu:
1. Cost push inflation
Adanya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (Administered Price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.
Baca juga: 6 Langkah Belajar Investasi dan Trading Saham dari Nol
2. Demand pull inflation
Permintaan barang dan jasa relatif yang begitu tinggi berpotensi menyebabkan demand pull inflation berpengaruh terhadap ketersediaannya.
3. Ekspektasi inflasi
Penggunaan ekspektasi inflasi digunakan untuk mengambil keputusan dalam aktivitas ekonomi negara.
Pembentukan harga terlihat menjelang hari-hari besar tercermin dari perilaku produsen dan pedagang dan penentuan upah minimum provinsi (UMP). Meskipun barang yang tersedia mencukupi permintaan yang terus baik tapi pada hari besar seperti hari raya keagamaan tersebut tetap meningkat lebih tinggi dari kondisi supply-demand.
Ketika diadakan kenaikan UMP, pedagang ikut pula meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tersebut tidak terlalu signifikan dalam mendorong peningkatan permintaan.
Baca juga: 10 Perusahaan Properti Terbesar di Indonesia Meraih Penghargaan
Pentingnya Kestabilan Harga
Kestabilan harga dan tingkat inflasi yang rendah merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat. Sedangkan ketika inflasi tinggi dan tidak stabil akan berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat, sehingga akan mengalami hal-hal sebagai berikut:
- Pendapatan riil masyarakat yang turun terus akan membuat standar hidup masyarakat semakin turun terutama golongan masyarakat miskin.
- Inflasi yang tidak stabil akan membentuk ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam menentukan keputusan seperti investasi, melakukan konsumsi, dan produksi, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi.
- Tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tidak boleh lebih rendah dibanding inflasi domestic karena akan memberi tekanan pada kurs rupiah.
- Pentingnya kestabilan harga kaitannya dengan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK).
Baca juga: Sumbangan Terbesar Inflasi DIY Juni 2021 Dari Naiknya Harga Telur
Sasaran Inflasi
Sasaran inflasi yaitu untuk menstabilkan nilai rupiah. Kestabilan dari nilai rupiah mengandung dua arti yaitu kestabilan kurs mata uang negara-negara lain terhadap nilai rupiah dan kestabilan nilai mata uang terhadap produk barang atau jasa.
Dalam upaya pencapaian tujuannya, harus ada keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi agar mencapai hasil yang optimal dan berkesinambungan dalam jangka panjang.
Pengendalian Inflasi
Ada faktor lain yang berpotensi mampu mempengaruhi inflasi. Faktor tersebut adalah penyebab kejutan (shocks) seperti kenaikan harga minyak dunia dan adanya masalah gagal panen atau musibah banjir. Faktor ini memiliki bobot hingga 40 persen di IHK. Apabila terjadi peristiwa kejutan (shocks) maka Bank Indonesia memiliki kemampuan terbatas untuk mengabil kebijakan dalam mengendalikan inflasi.
Baca juga: Terjual 90 persen! Hunian Asri dengan Harga Minimalis Siap Huni Ada Di Jogja!
Penetapan Target Inflasi
Penetapan sasaran inflasi berdasarkan UU diatur oleh Pemerintah guna meningkatkan kredibilitas BI. Pemerintah menetapkan sasaran inflasi untuk tiga tahun ke depan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Berdasarkan PMK No.124/PMK.010/2017 tentang Sasaran Inflasi tahun 2019 sebesar 3,5 persen, tahun 2020 sebesar 3 persen, dan tahun 2021 juga sebesar 3 persen. Setiap tahun deviasi yang ditetapkan sama yaitu ±1%. Deviasi adalah keadaan penurunan harga barang terus-menerus dalam periode yang singkat.
Demikian penjelasan inflasi yang dapat kamu jadikan acuan dalam mengamati perekonomian yang ada disekitar kamu. Kamu harus dapat membedakan juga antara inflasi dan deflasi. Berbeda dengan inflasi, deflasi adalah penurunan harga terus menerus dikarenakan produksi dan tingkat konsumsi tidak seimbang.
Baca juga: Solusi Hadapi Inflasi dengan Berinvestasi Kavling Tanah Jonggol

