YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Lukisan mural bertema politik yang mengkritisi kondisi politik di Indonesia tiba-tiba menghilang, setelah sebelumnya viral. Lukisan yang terletak di Jembatan Kewek, Kleringan, Danurejan, Yogyakarta itu dihapus oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pada hari Minggu (22/8).
“Karya Mural dan Graffiti dengan Kata Di Bungkam, dilindas pagi ini oleh penguasa, karena kata 'Bungkam' di tembok ini belum berumur 24 jam sudah membuat pemerintah makin panik! Bah….. Ini bentuk pengendalian dan memperhangus kesenian yang mengeritik pemerintahan,” demikian tulis akun instagram @yogya_streetart_studio terkait insiden tersebut.
Tembok tempat tulisan bernada satir tersebut ditutup cat putih hingga tak menyisakan jejak. Akan tetapi, pada hari Senin (223/8) pagi, cat putih tersebut kembali ditimpa dengan tulisan dari cat semprot berwarna merah yang bertuliskan 'Bangkit Melawan Atau Tunduk Ditindas'.
Sama nasibnya, tulisan ini kembali dihapus oleh Satpol PP Kota Yogyakarta dengan cat putih pada hari Senin (23/8) siang.
Baca juga: Pemkot Jogja Mundurkan Tanggal Pencairan Bansos APBD
Wakil Komandan Operasi Lapangan Wilayah Utara Satpol PP Kota Yogyakarta, Achmad Solikin, mengatakan penghapusan tulisan 'Bangkit Melawan Atau Tunduk Ditindas' adalah bentuk penegakkan Peraturan Daerah DIY Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat.
“Provokatif,” kata Achmad sebagaimana dikutip oleh CNN Indonesia. “Kalau gambar yang sifatnya membangun tidak kita hapus.”
Lebih lanjut, Achmad mengimbau masyarakat tak membuat tindakan provokasi semacam ini, terutama saat Pemkot Yogyakarta tengah fokus pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Secara terpisah, Bamsuck, seorang seniman yang yang mengaku terlibat dalam pembuatan mural 'Dibungkam' di Jembatan Kewek, mengaku mural tersebut dibuat pada hari Sabtu (21/8). Mengenai aksinya, Bamsuck beranggapan melukis mural bukanlah tindak kriminal, melainkan sarana menyalurkan aspirasi melalui kesenian.
“Kita bersuara, seniman kan juga rakyat, berhak bersuara. Apa salahnya rakyat untuk bersuara,” ucap dia.
Bamsuck menambahkan bahwa karya 'Dibungkam' itu merupakan respons dari tindakan pemerintah baru-baru ini yang menghapus mural-mural bernada kritik lainnya di berbagai daerah.
