GUNUNGKIDUL, BERNAS.ID – Desa Wisata Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang meraih predikat Desa Wisata Terbaik Dunia 2021 atau Best Tourism Village dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO) di Madrid, Spanyol.
Predikat tersebut telah diumumkan pada Kamis (2/12/2021) waktu setempat. Pada ajang tersebut, Desa Wisata Nglanggeran masuk nominasi bersama dua desa lainnya yakni Desa Wisata Tete Batu (Provinsi NTB) dan Desa Wisata Wae Rebo (Provinsi NTT).
Baca Juga Menakjubkan! Indahnya Bias Matahari Terbenam di Embung Nglanggeran
Adapun Nglanggeran bersanding dengan 43 desa wisata lain dari seluruh dunia untuk memperebutkan predikat tersebut. Beberapa desa wisata dari luar Indonesia seperti Caspala (Argentina), Castelo Rodrigo (Portugal), dan Batu Puteh (Malaysia).
Sembilan kriteria dasar yang menjadi penilaian, meliputi: 1) Budaya dan sumber daya alam, 2) Promosi dan konservasi sumber daya alam, 3) Keberlanjutan ekonomi, 4) Keberlanjutan sosial, 5) Ketahanan lingkungan, 6) Potensi dan pengembangan pariwisata, 7) Tata kelola dan prioritas pariwisata, 8) Infrastruktur dan konektivitas, 9) Kesehatan, keselamatan, dan keamanan.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Rahardja mengungkapkan, apresiasinya kepada pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengingat predikat tersebut diraih atas keberhasilan program Community Based Tourism (CBT) atau pemberdayaan masyarakat di daerah destinasi wisata yang diterapkan di Nglanggeran.
“Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Desa Wisata Nglanggeran dan masyarakat yang ada di situ bersama stakeholder, sudah sesuai dengan yang harus dilakukan. Sebetulnya penghargaan tertinggi itu bukan tujuan, namun pengakuan. UNWTO telah mengakui Desa Nglanggeran telah menerapkan metode yang tepat untuk CBT-nya,” tuturnya, Minggu (5/12/2021).
Baca Juga Sandiaga Uno Jadi Pengunjung Pertama Nglanggeran, Simbol Indonesia Bangkit
Menurut Singgih, keberhasilan Desa Wisata Nglanggeran dengan penerapan CBT sudah sepatutnya menjadi contoh bagi desa wisata lain untuk dapat mengembangkan desanya seperti Nglanggeran. “Ya mempertahankan keaslian, budaya, masyarakatnya, yang selalu melestarikan lingkungan dan memberdayakan masyarakat termasuk kolaborasi dengan stakeholder baik pariwisata maupun bukan,” ujar Singgih.
Selain itu, pengembangan pariwisata yang ada di Nglanggeran, menurut Singgih, telah menunjukkan contoh pola pengembangan quality tourism. “Desa wisata tidak menetapkan jumlah kunjungan wisatawan, namun dapat menentukan capaian atau target ekonomi tertinggi tanpa mematok jumlah wisatawan. Termasuk penguatan daya tarik wisata, sehingga menambah masa length of stay untuk tinggal di desa wisata yang ada di sana,” jelas Singgih.
Beberapa cara yang dilakukan Nglanggeran, lanjut Singgih, misalnya seperti penguatan story telling atau narasi untuk paket wisata, tapi ekonomi kreatifnya juga diminculkan. “Misalnya cokelat Nglanggeran, peternakan kambing yang memproduksi susu, ini bisa jadi daya tarik yang bagus,” imbuhnya.
Dengan disandangnya predikat sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia, Nglanggeran akan semakin dikenal di kancah global. “Sebelumnya desa ini telah mendapatkan predikat sebagai desa wisata terbaik di level ASEAN. Sekarang terkenalnya versi UNWTO, sekarang tentu mengglobal. Saya yakin jika situasi membaik, kunjungan wisatawan ke Nglanggeran akan semakin tinggi. Ini akan berdampak pada perbaikan ekonomi,” terang Singgih.
Adanya kemungkinan lonjakan wisatawan di Nglanggeran, akan diatur secara mandiri oleh pengelola dari Nglanggeran sendiri. “Saya kira sistem reservasi susah mulai diberlakukan, sehingga caring capacity tidak akan terganggu. Ini yang kemudian kelsetarian alam selalu terjaga di sana,” urai Singgih.
Ke depan, Singgih menyebut Dinas Pariwisata DIY akan senantiasa melakukan upaya-upaya pengembangan desa wisata di DIY. “Sekarang ini ada 130 lebih desa wisata di DIY dari berbagai macam kategori. Kemarin sudah dibuktikan ada 4 desa wisata yang masuk dalam 50 desa wisata terbaik di Indonesia. Cikal bakal seperti Nglanggeran dan Pentingsari akan menjadi role model sehingga memungkinkan munculnya desa wisata lain dengan konsep serupa,” tuturnya.
Adapun beberapa upaya yang dilakukan untuk dapat mewujudkannya misalnya penguatan kelompok sadar wisata (pokdarwis), pembinaan dan pelatihan SDM yang ada di desa wisata, pendampingan untuk lebih mendorong adanya paket wisata yang terintegrasi antara satu dengan.lainnya. “Juga pengembangan produk wisata yang dihasilkan warga sekitar supaya quality tourism betul-betul dirasakan oleh wisatawan. Tujuannya untuk memberikan pengalaman mendalam tentang kunjungan dan kesan mendalam ke desa wisata tersebut,” ungkapnya.
Singgih berharap pencapaian prestasi Desa Wisata Nglanggeran akan menginspirasi desa wisata lain untuk memberikan layanan kepariwisataan kepada wisatawan yang memberikan cultural experience, sehingga dapat turut memperkenalkan budaya lokal Yogyakarta ke dunia luar. (jat)
