Bernas.id – Valentine menjadi salah satu hari yang paling dinanti nantikan banyak pasangan. Sebab, di momen yang jatuh setiap tanggal 14 Februari, banyak orang memberikan hadiah untuk mengekspresikan rasa cinta kepada orang tersayang, baik itu berupa coklat, bunga, boneka, dan sejenisnya. Karena itu, momen valentine juga disebut dengan hari kasih sayang.
Namun jauh sebelum dikenang sebagai hari kasih sayang, ternyata hari valentine memiliki sejarah panjang yang cukup kelam.
Sejarah mengenai hari Valentine sendiri datang dari zaman Romawi kuno di masa saat itu terdapat seorang pria bernama Santo Valentine. Namun, siapakah St. Valentine itu dan mengapa namanya diabadikan sebagai hari kasih sayang? Berikut kisahnya:
Sejarah Hari Valentine
Sejarah Valentine tidak bisa dilepaskan dari sejarah Romawi kuno karena kata valentine sendiri selalu dikaitkan dengan nama St. Valentinus, yang hidup di masa pemerintahan kaisar Claudius II. Kaisar Claudius II memimpin pada tahun 268 hingga 270. Di saat pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi berada dalam masa krisis yang dikenal dengan sebutan krisis abad ke III.
Krisis yang terjadi tersebut sangat krusial sehingga kekaisaran yang sangat kuat hampir mengalami keruntuhan. Krisis tersebut terjadi karena berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan, antara lain krisis suksesi yang memicu perang saudara, penjagaan perbatasan yang tidak ketat hingga suku Barbar berhasil melakukan penjarahan.
Akibat perang saudara tersebut, wilayah kekaisaran tersebut juga mendapat serangan dari kekaisaran Persia di bawah kepemimpinan dinasti Sassania, musuh utama kekaisaran Romawi.
Baca juga: Mengenal Prinsip Bela Bangsa dan Bela Bumi Ala Lord Rangga, Mantan Pentinggi Sudan Empire
Mereka menyerang Romawi untuk mengembalikan kejayaan Persia seperti saat zaman kekaisaran Persia I yang didirikan Raja Koresh yang agung. Berbagai faktor tersebut membuat kekaisaran Romawi harus memobilisasi seluruh sumber daya manusia yang tersisa untuk mengembalikan stabilitas kekaisarannya seperti dulu kala.
Sebagai pemimpin kekaisaran Romawi, Raja Claudius II juga harus selalu memiliki pasukan yang siap berperang melawan suku-suku asing yang akan menyerangnya atau warganya sendiri yang hendak melakukan pemberontakan.
Akibatnya, Romawi harus menjalankan berbagai kampanye militer tanpa akhir sehingga kondisi pasukannya terus menurun Sebab, seluruh pasukan Romawi harus terus menerus melakukan pelatihan sehingga tak bisa bertemu orang tersayang.
Padahal, para pasukan tersebut tetaplah manusia biasa yang butuh bertemu keluarga dan pasangannya. Menyadari hal itu, Raja Claudius II mencoba mencari solusi untuk meningkatkan kualitas pasukan militer Romawi. Akhirnya, dia melarang seluruh pemuda Romawi yang menjalankan kewajiban wajib militer untuk menikah dengan pasangannya.
Namun, anggota militer Romawi pun diam-diam meminta pemuka agama untuk menjalankan upacara pernikahan sesuai kepercayaan mereka masing-masing. Di momen tersebut, terdapat seorang pemuka agama Kristen bernama St Valentinus. Konon, di masa itu agama Kristen merupakan agama minoritas yang sering mendapatkan penganiayaan otoritas kekaisaran Romawi.
Tokoh tersebut melawan kebijakan dilarang menikah yang dibuat oleh Raja Claudius. St. Valentinus tetap menjalankan upacara pernikahan para pemuda kristen yang ingin menikah secara diam-diam. Akan tetapi, aksi mereka tetap diketahui oleh otoritas pemerintahan Romawi. St Valentinus pun dijatuhi hukuman mati karena dianggap melawan kebijakan negara.
Pada 14 Februari 496 atau setelah dua abad kematian St Valentinus, Paus Gelasius I menetapkan hari kematian St Valentinus sebagai hari valentine atau hari kasih sayang untuk mengenang perjuangan St Valentinus. Dengan ditetapkannya hari Valentine, Juno Februarta atau salah satu hari raya orang Romawi pada waktu itu tergeser popularitasnya.
Pada abad 14, perayaan hari Valentine pertama kali menjadi hal yang romantis karena diinisiasi oleh salah satu karya dari Geoffrey Chaucer, seorang sastrawan Inggris ternama di waktu itu. Saat itu, ia membuat sebuah karya puisi berjudul “Parlement of Foules”.
Puisi tersebut ditulis untuk mengenang satu tahun hari pertunangan Raja Richard ke II dan permaisurinya Ratu Anne. Pada abad ke 19, kartu hari Valentine bergambar hati dan cupid bersayap mulai diproduksi masal.
Meski awalnya hari valentine diperingati sebagai hari kematian salah satu tokoh ternama di agama Kristen, kini hari yang jatuh setiap 14 Februari tersebut menjadi hari perayaan sekuler dengan tema bernuansa romantisme dan kasih sayang.
