Bernas.id – Limbah dari industri tekstil sudah lama menjadi isu tersendiri bagi pencemaran lingkungan. Sayangnya, industri-industri tekstil yang
makin banyak bermunculan karena permintaan pasar atau market fesyenseolah mengabaikan hal tersebut.
Padahal, limbah tekstil yang sebagian besar berbentuk cair bisa menyebabkan pencemaran dan kontaminasi pada air permukaan dan setiap tetes
air yang digunakan oleh manusia. Limbah tersebut juga bisa mengganggu bahkan dapat mematikan kehidupan dan ekosistem perairan, menimbulkan bau.
Tak cukup sampai disitu, limbah tekstil juga turut mengambil andil besar dalam kotornya lautan. Berdasarkan riset yang diterbitkan dalam Jurnal Perikanan dan Kelautan 2013, limbah berbahaya yang sering digunakan dalam industri tekstil adalah kromium (Cr) yang merupakan salah satu logam berat.
Limbah industri tekstil yang mengandung Cr dibuang langsung ke dalam lingkungan tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu akan menambah jumlah ion logam pada air lingkungan, serta akan menimbulkan dampak negatif bagi keberlangsungan hidup biota air dan lingkungannya.
Contoh Penanganan Limbah Tekstil
Sebagai salah satu langkah untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan, merek asal Australia Piping Hot Australia dan University of Technology Sydney (UTS) menjalin kerja sama riset untuk mengembangkan serat tekstil berkelanjutan (sustainable fibre) dari rumput laut.
Piping Hot menjalankan riset biomaterial inovatif ini sebagai investasi penting dalam misinya, yakni mewujudkan laut yang bersih.
Berdasarkan data tertulis yang diterima tim Bernas.id, ahli iklim UTS akan membuat prototipe serat yang memenuhi ambisi Piping Hot untuk melestarikan laut bagi generasi masa depan mulai Februari 2022.
Solusi dari bahan nabati (biobased) ini akan menyerap karbon dari laut dan mengurangi dampak negatif serat sintetis terhadap lingkungan hidup. Inovasi buatan Australia ini dapat mengubah industri poliester global.
“Kami gembira dan mendapat kehormatan berkolaborasi dengan Guru Besar Istimewa Peter Ralph dan UTS Climate Change Cluster. Sebagai bagian dari misi Piping Hot, yakni menjaga laut, investasi dalam teknologi kelautan dan teknik material ini sangat penting. Kami ingin membuat perubahan lewat teknik kelautan dan mengubah ketergantungan industri terhadap bahan bakar fosil,” Stan Wan CEO & Managing Director, Piping Hot Australia.
“Kami gembira berkolaborasi dengan Piping Hot dalam proyek riset menarik ini. UTS Climate Change Cluster and Piping Hot sama-sama berkomitmen terhadap masa depan yang lebih lestari bagi bumi.
Pengembangan material dari suplai berkelanjutan berperan besar dalam memenuhi komitmen tersebut. Pengembangan material alternatif yang memakai bahan-bahan alami di industri mode dan tekstil berpotensi mengubah produk dan mengatasi dampak negatif terhadap laut.” ucap Guru Besar Istimewa Peter Ralph, Director, UTS Climate Change Cluster.
Piping Hot telah berkomitmen terhadap keluarga Australia sejak 1975. Piping Hot juga mencerminkan gaya hidup pesisir di Ausralia, menawarkan berbagai jenis produk mode, alas kaki, dan aksesori bagi keluarga.
Baca juga: Mahasiswi UNY Bikin Masker Nanofiber dari Limbah Ampas Tebu
Piping Hot bermisi membantu keluarga menghemat uang dan melestarikan laut. Dengan mengutamakan transparansi, sirkularitas, dan material daur ulang, produk Piping Hot menggunakan material yang dipasok secara berkelanjutan. Piping Hot dijual di beberapa peritel dan media daring di pipinghot.shop.
UTS adalah universitas teknologi terkemuka yang terletak di pusat kawasan inovasi Sydney. UTS memiliki model pendidikan unik, kinerja riset yang baik, serta reputasi dalam menjangkau kalangan industri serta praktisi. Dengan mengutamakan dampak sosial dan sangat berkomitmen terhadap aspek keberlanjutan, UTS meraih gelar “No.1 young university” di Australia.
Langkah untuk Indonesia
Langkah yang dilakukan oleh merek asal Australia tersebut bisa menjadi contoh yang bagus bagi Indonesia. Apalagi, Indonesia memiliki wilayah lautan luas, yang tentunya hasil produksi rumput laut sangat tinggi. Di Indonesia, industri tekstil merupakan salah satu penghasil devisa negara, dimana pergerakan dan perubahan tren fesyen sangat cepat menyebabkan permintaan tekstil semakin besar.
Selain memanfaatkan bahan yang mampu menjamin suistanable, industri tekstil juga perlu memperhatikan zat pewarna yang digunakan. Limbah cair yang dihasilkan dalam proses pewarnaan tekstil berupa cairan berwarna merupakan senyawa kimia sintetis, mempunyai kekuatan
pencemar yang kuat dengan nilai COD (Chemical Oxygen Demand) dan BOD (Biological Oxygen Demand) tinggi dan bahan-bahan lain dari
zat warna yang dipakai.
Salah satu contoh hasil percobaan di laboratorium BBT (Balai Besar Tekstil) menunjukkan bahwa air dari limbah cair tekstil yang mengandung beberapa zat warna reaktif sebanyak 225 mg/l mempunyai COD sebesar 534 mg/l dan BOD 99 mg/l.
Jika dibuang ke dalam sungai, limbah tersebut dapat mempengaruhi transparansi warna air sungai sehingga sinar matahari terhalang masuk ke dalam dasar sungai. juga bersifat toksik (mengurangi kadar oksigen) dan mutagenik terhadap organisme dalam air sungai.
Hal ini tentu bisa menjadi bencana ekologis bagi manusia. Karena itu, diperlukan regulasi dalam penggunaan zat kimia untuk kebutuhan produksi dan treatment limbah cair tekstil baiknya disertai implementasi dalam realitanya seperti regulasi mengenai pengolahan limbah cair secara biologis dengan memanfaatkan mikroorganisme yang dapat menguraikan zat organik terlarut dalam air limbah menjadi bahan seluler yang baru dan sumber tenaga.
