SLEMAN, BERNAS.ID – Keberadaan Taksi argometer atau konvensional menjadi seperti anak tiri, semenjak adanya Taksi Online. Karena kebijakan pemerintah dianggap oleh Perkumpulan Pengemudi Taksi Argometer Yogyakarta (Perpetayo) tidak bisa mengatur regulasi transportasi.
“Sejak transportasi online tahun 2016 masuk ke Yogyakarta, kita ini seperti anak tiri. Karena kan plat kuning untuk tarif, plat hitam untuk pribadi, plat merah itu untuk instansi. Nah sekarang plat kuning direbut plat hitam, mobil pribadi bisa narik tanpa adanya uji KIR dan mengurus surat-surat,” terang Ketua Perpetayo Muhammad Amin pada acara Syawalan Perpetayo di Berbah, Sleman, Selasa (24/5/2022).
Muhammad Amin mengatakan, bahkan hingga kini para pengemudi taksi argometer masih bertahan, karena dirasa hingga saat ini masih terdapat adanya penumpang yang fanatik pada taksi berplat nomor kuning tersebut.
Baca Juga : Sniper Menggelar Harlah Dan Syawalan
Amin menegaskan, bahwa pihaknya tidak menolak dengan adanya kemajuan teknologi yang ada saat ini, bahkan dia juga mengaku senang dengan adanya kemajuan teknologi tersebut.
“Kami senang dengan adanya kemajuan teknologi tersebut. Tapi mbok ya diatur antara yang online dengan yang masih menggunakan argometer ini,” tandasnya.
Amin mengakui, hingga saat ini, anggota Perpetayo hanya tersisa sekitar 75 orang.
Sementara itu, Ketua Pembina Perpetayo, Ery Agus Bernardhy berharap Pemda DIY agar lebih memperhatikan lagi nasib para sopir pengemudi taksi argometer yang merupakan para putra daerah.
“Disini kan sopir-sopirnya juga merupakan putra daerah, orang asli Jogja semuanya, mbok ya nasib kami ini dipikirkan,” tutur Bernard.
Baca Juga : Bluebird Dan Toyota Bersinergi Hadirkan Armada Taksi Ramah Lingkungan
Terpisah Ketua BPC PHRI Sleman Joko Paromo mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih membuka diri kepada taksi argometer.
“Kami selaku Ketua BPC PHRI Sleman ikut empati dengan keberadaan taksi konvensional, untuk itu kami ikut mendukung taksi-taksi konvensional itu,” ujar Joko.
Joko menyampaikan, saat ini dibutuhkan personal touch yang hal itu hanya bisa didapat dari taksi konvensional.
“Dikala ada keluhan, kalau kita mengadu pada online hanya diterima oleh mesin, jadi berbeda ya dengan taksi konvensional yang bisa langsung menghandle setiap permasalahan yang ada,” jelas Joko.
Ia juga mengaku pihaknya akan melakukan pendataan kepada para taksi konvensional supaya bisa beroperasi di hotel maupun restoran di wilayah Sleman.
“Nanti kami akan coba lakukan pendekatan dengan restoran dan hotel di wilayah Sleman. Nanti bisa kita data baik itu nomor handphone pengemudinya, jadi ketika dibutuhkan bisa langsung dihubungi,” imbuhnya.
Joko kembali menegaskan, taksi konvensional masih dibutuhkan hingga ini. (cdr)
