SLEMAN, BERNAS.ID – Jelang akad nikah, Erina Gudono melakukan rangkaian prosesi siraman di kediamannya Purwosari Sinduadi Mlati Sleman, Jumat (9/12). Setelahnya, Erina menjalankan prosesi sungkeman dan langkahan.
Prosesi siraman diawali dengan siraman pertama oleh sang Ibu, Sofiatun Gudono, dari ujung kepala hingga ujung kaki Erina. Air siraman berasal dari tujuh sumber, yakni air Zamzam dari Masjidil Haram, kediaman calon pengantin wanita, kediaman calon pengantin pria, Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Erina juga tampak diluluri lima macam warna yang secara simbolis mengingatkan pada kewajiban rukun Islam.
Baca Juga Gunungkidul Punya Potensi Besar Di Sektor Kerajinan
Selain sang Ibu, tampak juga sejumlah tamu turut memberikan siraman sekaligus doa restu kepada Erina Gudono. Yaitu, GKR Hemas, GKBRAy Atika Purnomowati, Siti Faridah Pratikno, Sutati Muhaimin, Zulaikha Surenggane, dan Nyai Hj Fatimatuz Zahro.
Setelah itu, Erina dikenakan singep kain batik Yogyakarta bermotif grompol di pundak Erina. Motif grompol diyakini memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan segala cinta dari kedua keluarga. Grompol juga memiliki arti menyatu, rukun, sedangkan kain batik yang dikenakan saat menjalani upacara siraman bermotif Nogosari.
Baca Juga DKP Gunungkidul Lepas 400 Ribu Benih Ikan Ke 20 Telaga
Selanjutnya, Sofiatun Gudono memotong rambut Erina di tiga bagian, yakni rambut yang tumbuh di dahi, di ubun kepala, dan di tengkuk. Ketiganya memiliki makna yang berbeda. Pemotongan rambut di dahi bermakna ikhlas, siap meninggalkan masa muda, masa lajang, jiwa kekanak-kanakan menuju dewasa dan berumah tangga.
Kemudian, memotong rambut di ubun kepala mengingatkan agar walaupun diberikan kelebihan, haruslah tetap rendah hati dan tidak sombong. Sedangkan, rambut yang tumbuh di tengkuk mengingatkan agar berani untuk introspeksi diri. Prosesi potong rambut ini mengakhiri rangkaian acara siraman. (jat)
