YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Momen liburan Natal dan Tahun Baru 2024, Yogyakarta menjadi salah satu kota tujuan favorit wisatawan untuk menikmati masa liburan. Puncak kedatangan wisatawan hotel diperkirakan pada tanggal 24-25 Desember, kemudian tanggal 30-31 Desember.
Yogyakarta masih menjadi daya tarik wisatawan ke Yogyakarta di antaranya karena destinasi wisata di Yogyakarta dinilai terlengkap mulai wisata alam, budaya pendidikan dan sejarah.
Baca Juga 7000 Lurah Dan Pamong Se-DIY Siap Deklarasi Pesta Demokrasi Damai
Menurut Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, peningkatan kunjungan wisatawan diprediksi meningkat pada minggu ketiga sebelum Nataru hingga setelah tahun baru 2024 mendatang.
“Tingkat reservasi di periode itu mulai tanggal 20 desember hingga 2 Januari 2024 sudah mencapai 60-70 persen. Tingkat kunjungan terutama banyak di wilayah Kota Yogya dan Sleman. Untuk Gunungkidul, Bantul dan Kulonprogo masih 40 persen,” tuturnya, Senin (11/12/2023).
PHRI DIY sendiri optimis menarget okupansi semua wilayah rata-rata 90 persen berdasarkan perkembangan reservasi per tanggal 10 Desember di semua wilayah yang terus mengalami peningkatan.
Menurutnya, karakter wisatawan yang datang ke Yogyakarta masih didominasi oleh pengunjung yang datang langsung ke hotel atau walking guess.
“Nah kalo ke Jogja pola wisatawannya itu walking guess atau menginap langsung datang ke hotel. Reservasi harus jauh jauh hari, seperti tahun tahun sebelumnya maupu saat event event besar di Yogyakarta,” jelas Deddy.
Berbagai persiapan juga terus dilakukan pihak PHRI menyambut musim libur Nataru terutama bagaimana agar wisatawan lebih lama tinggal di Yogyakarta atau meningkatkan lama tinggalnya.
Baca Juga Festival Lereng Merapi Tanamkan Pendidikan Karakter
“Momen Nataru pasti akan ada event malam tahun baru, ada hiburan juga, ada beberapa yang menggunakan paket malam tahun baru, ada dinner dan hiburan. PHRI sendiri mendata masing masing akan menjual paket Nataru. Nah untuk hotel itu ada batas atas di harga publish rate dan kenaikan maksimal 15 persen,” jelas Deddy.
Deddy juga mengimbau agar anggota PHRI tidak menggunakan aji mumpung, misalnya mengenai parkir juthuk atau harga kuliner yang nuthuk. Ia ingin wisatawan merasa nyaman dan aman agar wisata di Yogyakarta bisa berada di posisi terbaik.
“Jangan sampai ada kenaikan harga misalnya harga paket Nataru yang tak wajar. Saya pastikan kalo ada kenaikan harga tak wajar itu bukan anggota PHRI. Jadi jangan digebyah uyah karena hal itu justru akan merusak destinasi Yogya dan nama PHRI. Menjaga jangan sampai aji mumpung. Kita ingin pariwisata maju berkelanjutan,” pungkas Deddy. (jat)
