BERNAS.ID – TULISAN ini bermula dari rasa penasaran pribadi atas dua peristiwa. Pertama, dukungan Xi Jinping pada Palestina. Kedua, peluncuran Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Jakarta-Bandung. Mengapa dua peristiwa ini menarik bagi saya?
Pertama, soal dukungan Xi Jinping pada Palestina adalah sesuatu yang tak saya duga. Tiongkok sebagai negara dengan ideologi Marxisme-Leninisme dikesankan tidak peduli pada agama, sehingga persepsi saya, mereka tak akan terlalu peduli pada Palestina, yang sekali lagi dalam persepsi saya juga, memperjuangkan kemerdekaan dari Israel dengan modal semangat keagamaan yang kental.
Di Indonesia sendiri, dukungan kepada Palestina terutama dikemukakan oleh kalangan Muslim. Kenyataannya, Xi Jinping menyatakan dukungan agar Palestina merdeka secara penuh, menjadi anggota penuh PBB (CNBC Indonesia, 14 Juni 2023).
Tak hanya itu, Beijing seolah ingin memposisikan dirinya sebagai mediator di Timur Tengah, salah satunya dengan menengahi pemulihan hubungan antara Iran dan Arab Saudi.
Baca Juga : Meski Sudah Mendesak, Duit APBN untuk Kereta Cepat Tak Kunjung Cair
Kedua, tentang peluncuran KCIC. Oktober 2023, KCIC dibuka untuk publik. Momen ini bersamaan dengan 10 tahun perjalanan Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas oleh pemerintah Tiongkok sejak 2013.
Proyek KCIC memang merupakan salah satu bentuk riil dari BRI yang merupakan inisiatif Tiongkok untuk berkontribusi dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur dalam skala global (BRIN, 27 Oktober 2023).
BRI merupakan perwujudan visi Xi Jinping terkait Global Community of Shared Future. Dengan visi ini, Tiongkok merespons pertanyaan, “Ke mana tujuan umat manusia?” dengan jawaban, “Kita harus menuju ke arah keharmonisan, membangun dunia yang inklusif, bersih dan indah, yang memiliki perdamaian abadi, keamanan universal dan kemakmuran bersama.
Visi ini kiranya merupakan perwujudan filosofi Tianxia yang secara gamblang disebut-sebut oleh Xi Jinping dalam pidatonya di Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19,
“Adalah ide dari Tianxia (segala di bawah langit) membentuk satu keluarga yang harus memandu manusia sehingga kita dapat merangkul satu sama lain dengan lengan terbuka dan menciptakan fondasi yang sama serta menyingkirkan perbedaan-perbedaan kita. Bersama, kita harus berjuang untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama untuk umat manusia” (Raditio, 2021).
Tapi, apa sebenarnya Tianxia itu?
Mengenal Tianxia
Tianxia sering diterjemahkan sebagai ‘all under heaven’ ‘atau segala yang ada di bawah langit’. Ini adalah cara pandang untuk melihat dunia sebagai dunia. Meski berasal dari pemikiran klasik Tiongkok, Tianxia tidak hanya bisa diaplikasikan pada Tiongkok.
Zhao Tingyang (2016: 1) berpendapat bahwa ia bisa jadi merupakan solusi atas permasalahan universal yang dialami dunia. Tianxia sebagaimana yang dipraktikkan oleh Dinasti Zhou memang telah lama hilang.
Namun jejak pemikiran yang masih ada hingga saat ini kiranya bisa menjadi salah satu kemungkinan untuk membayangkan dunia di masa depan.
Konsep politik internasional yang kini menggunakan paradigma etnonasionalisme, imperialisme, dan perjuangan kekuasaan hegemonik perlahan-lahan kehilangan kekuatannya (Tingyang, 2016: 2).
Baca Juga : Luhut: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Bakal Digarap China karena Bunga Pinjaman Rendah
Cara pandang ini mungkin tak lama lagi akan jadi masa lalu. Ini dapat kita lihat di era sekarang, ketika negara-bangsa berdiri tegak merdeka tanpa penindasan negara lain. Pun jika masih ada negara yang dijajah oleh negara lain, dunia tak tinggal diam dan menggemakan demonstrasi untuk mengakhirinya, seperti yang terjadi di Palestina sekarang.
Kolonialisme yang lumrah beberapa abad lalu, kini menjadi ketidakwajaran yang harus dihapuskan. Karena itulah, menurut Tingyang, diperlukan sebuah cara pandang baru untuk mencapai sebuah kondisi pemerintahan global di masa depan. Ia menawarkan tianxia.
Dalam pemikiran Tingyang (2017: 2), Tianxia adalah sebuah konsep imajinatif yang mengandaikan dunia memiliki tata pemerintahan global. Ia berupa sebuah tatanan bersama (order of coexistence) dengan dunia sebagai unit dasarnya.
Berpikir dalam kerangka Tianxia berarti kita mengambil keseluruhan dunia sebagai unit berpikir dalam menganalisis berbagai persoalan, yang memungkinkan kita untuk memahami tatanan politik yang lebih selaras dengan globalisasi.
Cara pandang ini dilawankan dengan imperialisme yang didasarkan pada konsep negara-bangsa, sehingga melihat ‘yang lain’ hanyalah sebagai tempat untuk ditaklukkan.
Imperialisme memandang dunia sebagai objek untuk ditaklukkan, didominasi, dieksploitasi–tanpa memandang dunia sebagai agensi politik pada dirinya sendiri.
Tianxia dan Prinsip Internalitas
Berpikir dalam kerangka Tianxia berarti mengandaikan prinsip yang disebut ‘tidak ada yang lain di luar tianxia’ (Tingyang, 2016: 3). Karena tian (atau ‘langit’) adalah sebuah eksistensi holistik, maka tianxia (atau ‘segala yang ada di bawah langit’) pastilah juga merupakan eksistensi holistik.
‘Tidak ada yang lain di luar Tianxia’ adalah sebuah pengandaian bahwa dunia merupakan sebuah konsep politik yang holistik. Karenanya, sistem Tianxia hanya memiliki internalitas dan tidak memiliki eksternalitas.
Maka tak ada konsep ‘kawan’ dan ‘musuh’ dalam wacana politiknya. Tak satu orang pun yang dipandang sebagai orang asing; dan tak ada satu pun negara-bangsa, etnisitas, atau budaya, yang dianggap sebagai musuh.
Cara pandang ini berbeda dengan cara pandang oposisi yang mewarnai pemikiran politik dunia sekarang (Tingyang, 2016: 3), seperti: perjuangan antara Kristianitas dengan pagan di Eropa, antara pemikiran state of nature Hobbes dengan teori Marx tentang perjuangan kelas, hingga pemikiran Huntington tentang benturan antar peradaban.
Teori yang didasarkan pada konflik tidak akan mungkin menciptakan perdamaian. Diperlukan sebuah pemikiran yang didasarkan pada cara pandang ko-eksistensi.
Dunia dalam Kemungkinan Terbaik
Dalam pemikiran Hobbes, posisi dasar yang digunakan adalah dunia dalam kemungkinan yang terburuk (Tingyang, 2016: 5). Karena itulah, negara diandaikan sebagai Leviathan yang hendak mengontrol agar manusia tidak saling menyakiti.
Sebaliknya, Xunzi (Tingyang, 2016: 6) berpandangan bahwa manusia dalam kodratnya demikian lemah secara fisik. Namun memiliki keunggulan dalam kerjasama. Karenanya, agar dapat bertahan hidup, manusia justru perlu bekerja sama. Posisi dasar yang harus jadi perhitungan bukanlah konflik, melainkan kerjasama.
Eksistensi sosial mendahului eksistensi individual. Karena itulah, Tianxia menawarkan cara pandang yang berbeda, yakni dunia dalam kemungkinan yang terbaik. Apakah itu?
Menurut Confucius (Tingyang, 2016: 7), dunia dalam kemungkinan yang terbaik adalah yang disebut dengan datong, yang dapat diterjemahkan sebagai Expansive Harmony.
Ini adalah dunia yang mengandung di dalamnya rasa aman, harmoni, perdamaian, saling percaya, saling membantu, dan pemenuhan kebutuhan dasar untuk hidup dan berkembang.
Namun demikian, ia tidak mengharuskan kesamaan budaya dan keagamaan. Ia mengandaikan pluralitas jalan hidup. Keberagaman dan pluralisme tanpa keseragaman.
Unit Politik dalam Pandangan Tianxia
Pemikiran politik modern pada umumnya memiliki tiga level struktur yakni: individu, masyarakat, dan etnis-negara-bangsa (Tingyang, 2016: 9). Individu adalah dasar dari seluruh kerangka politik modern dan pada saat yang sama menjadi faktor penjelasan utama dalam keseluruhan struktur politik.
Berkebalikan dengan itu, dalam kerangka pemikiran politik Tiongkok, terdapat tiga level unit politik: Tianxia, negara, dan keluarga. Individu adalah unit biologis, namun bukan unit politik. Karenanya, pemikiran politik Tiongkok tidak pernah menghasilkan liberalisme politik dan hak individu sebagai isu politik.
Baca Juga : Kabinda DIY Petakan Daerah yang Rawan Konflik pada Pemilu 2024
Tianxia tidak hanya ukuran unit politik terbesar, melainkan juga prinsip utama yang menjelaskan keseluruhan kerangka berpikir politik. Jika tak ada level tianxia, maka tatanan institusional politik dunia tak memiliki basis apapun.
Karenanya, tak ada jalan untuk mentransendensi situasi tatanan yang anarkis untuk mencapai perdamaian dan harmoni. Dalam pandangan Tingyang, politik dunia saat ini tidak memiliki level berpikir seperti unit tianxia. Karenanya, akan sulit untuk menciptakan perdamaian dan harmoni.
Politik yang Dimulai dari Tatanan Dunia
Tingyang (2019: 2) berpendapat bahwa kita tak bisa menciptakan masa depan dari sesuatu yang kosong. Kita pasti membutuhkan sebuah basis.
Dalam pandangannya, pemikiran politik memiliki setidaknya dua titik tolak: ide polis dari Yunani kuno dan ide Tianxia dari Tiongkok kuno.
Ide polis menarik, karena ia mengandaikan adanya sebuah ruang publik yang memisahkan urusan pribadi dan masyarakat secara jelas.
Sementara ide Tianxia, lebih menarik lagi karena ia lahir jauh sebelum era Yunani kuno sejak masa Dinasti Zhou (abad ke-11 SM hingga 256 SM).
Sedikit menilik sejarah, Dinasti Zhou lahir dari sebuah daerah kecil yang dipimpin oleh seorang raja yang terkenal karena keutamaannya (Tingyang, 2019: 4).
Ia dianggap sebagai pemimpin dari banyak kerajaan kecil lain karena kemampuannya untuk mengelola berbagai kerjasama mengatasi permasalahan yang terjadi seperti pengendalian banjir, penentuan kalender, dan kesepakatan lain.
Seiring kompeksitas permasalahan yang meningkat, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mungkin ‘yang kecil mengendalikan yang besar’ dan pada saat yang sama ‘yang satu mengelola yang banyak’.
Keutamaan moral yang dimiliki mungkin mampu menggerakkan orang dalam jangka pendek, namun dukungan dan kesetiaan dalam jangka panjang tentu membutuhkan lebih dari hanya keutamaan moral.
Pilihannya hanya satu: menyusun sebuah model pemerintahan yang menekankan pada kekuatan sistem yang memungkinkan keteraturan hegemonik yang melahirkan keuntungan dari kerjasama (Tingyang, 2019: 5).
Dengan kata lain, Dinasti Zhou perlu membangun sistem universal yang memungkinkan terjadinya kerjasama dalam kesepakatan yang dapat diterima oleh semua negara.
Tantangannya adalah mengubah eksternalitas berbagai negara kecil tersebut ke dalam sebuah sistem internal.
Artinya, mereka perlu menciptakan sebuah sistem dunia yang akan mentransendensi negara-negara untuk merealisasikan sebuah internalitas dunia. Tujuannya, setiap negara akan merasa lebih menguntungkan untuk tetap bergabung daripada melawan atau memberontak. Ide ini jelas membutuhkan imajinasi yang luar biasa.
Tingyang (2019: 6) berargumen, bahwa meskipun pada mulanya Dinasti Zhou mengembangkan sistem Tianxia hanya untuk secara spesifik menjawab pertanyaan tentang ‘yang kecil mengelola yang besar’, sistem ini memiliki signifikansi yang universal.
Baca Juga : Penjualan CPO ke Tiongkok Tidak Mengganggu Kebutuhan Dalam Negeri
Sistem Tianxia memiliki tiga karakteristik yang diperlukan untuk mendesain tatanan dunia bersama (Tingyang, 2019: 7). Pertama, sistem Tianxia harus menjamin bahwa keuntungan dari bergabung lebih besar daripada tidak bergabung.
Kedua, sistem Tianxia harus memastikan bahwa semua negara berada memiliki kepentingan yang saling tergantung dan saling menguntungkan, sehingga menjamin terciptanya rasa aman secara universal dan perdamaian jangka panjang.
Ketiga, sistem Tianxia harus mampu menumbuhkan kepentingan publik, kepentingan bersama, dan institusi publik yang menguntungkan bagi semua negara, sehingga memastikan keuntungan universal. Singkatnya, sistem Tianxia harus menciptakan internalisasi dari dunia, sehingga tak ada eksternalitas.
Tianxia mencakup dunia dan sesuatu yang lebih besar dari dunia (Tingyang, 2019: 10). Ada tiga lapisan dalam konsep ini.
Pertama, secara geografis, Tianxia mengacu pada keseluruhan dunia fisik (semua di bawah langit).
Kedua, secara sosio-psikologis, Tianxia mengacu pada sebuah dunia yang semua orang diakui dan tergabung di dalamnya, yakni sebuah dunia psikologis yang semua hati orang berada di dalamnya.
Ketiga, secara politis, Tianxia mencakup dunia politis yang didefinisikan dalam bentuk sistem tatanan dunia. Dapat dilihat bahwa tianxia merupakan sebuah pandangan dunia yang komprehensif, lebih menyeluruh daripada pandangan dunia pada umumnya.
Sebuah dunia yang 3 in 1 (geografis, sosio-psikologis, dan politis). Sebuah dunia yang hanya memiliki internalitas tanpa eksternalitas. Tianxia tidak dimiliki oleh seseorang, sebab ia dimiliki oleh semua orang.
Kesimpulan dan Refleksi Kritis
Sampai di titik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Tianxia kiranya memang merupakan sebuah tawaran pemikiran yang berbeda dengan tatanan dunia yang ada di masa kini.
Konsepsi negara-bangsa, meski dicoba diselaraskan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), tetap merupakan konsepsi yang mengandaikan adanya kepemilikan individual.
Jadilah sebuah negara kuat masih saja berkeinginan menginvasi negara lain yang dianggap lebih lemah dan menguntungkan. PBB sendiri tak benar-benar sanggup untuk menghentikan bibit-bibit imperialisme yang masih dimiliki oleh Israel kala menjajah Palestina, misalnya.
Maka tatanan dunia yang berangkat dari pengandaian untuk menginternalisasikan sehingga tak ada eksternalitas, merupakan sebuah pengandaiaan yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut implementasinya.
Tepat di titik implementasi itulah kiranya pertanyaan bermunculan, sebagaimana telah ditengarai oleh Zhao Tingyang sendiri (2016, xiii).
Banyak yang bertanya kepadanya, “Siapa yang akan memimpin dunia Tianxia ini? Adakah ini sejatinya merupakan justifikasi atas ambisi Tiongkok untuk menguasai dunia? Seperti apakah kiranya institusi politik yang akan dibentuk untuk menjalankan tatanan dunia seperti ini?”
Dan sependek yang saya tangkap, ia pun belum mampu merumuskan jawaban yang pasti. Kecurigaan para penanya beralasan, sebab Tiongkok kini sebagai negara memegang marxisme-leninisme sebagai ideologinya—ideologi yang menakutkan bagi sebagian besar orang yang terbiasa hidup di dalam liberalisme-kapitalisme.
Bagaimana mungkin tianxia dapat menampung seluruh perbedaan pemikiran dan ideologi yang ada di seluruh dunia jika RRT pun masih menerapkan komunisme dalam sistem pemerintahannya?
Pun implementasi filosofi Tianxia dalam bentuk BRI dipandang secara skeptis sebagai strategi jangka panjang Beijing untuk menguasai perekonomian negara lain dengan secara bertahap menciptakan ketergantungan melalui utang.
Bukankah pada akhirnya seluruh ide BRI itu mengarahkan jalan menuju Tiongkok dan bermuara pada Tiongkok? Bagaimana ia bisa menjawab kepentingan seluruh dunia jika Tiongkok yang menjadi pusatnya?
Pertanyaan-pertanyaan di tataran praktis ini tentu masih membutuhkan proses panjang untuk menjawabnya. Namun terlepas dari keraguan di tataran implementasi, sebagai sebuah pemikiran ia layak untuk diseriusi.
Sebab tawaran Tianxia sebagai alternatif tatanan pemerintahan dunia memang memiliki kemungkinan yang baik. Pengandaian dunia dalam versinya yang terbaik, misalnya, adalah pemikiran yang khas dan orisinil, sebagai alternatif dari pemikiran ala Thomas Hobbes.
Dunia tidak hanya membutuhkan negara-negara yang saling bekerja sama. Namun lebih dari itu kita membutuhkan negara-negara yang hidup dalam semangat satu dunia yang sama: warga dunia dan sesama manusia.
(Penulis: Teddi Prasetya Yuliawan |
Mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)
Referensi :
BRIN.go.id. 27 Oktober 2023. Indonesia – Tiongkok Tingkatkan Hubungan dalam Proyek Pembangunan Infrastruktur Skala Global. Diakses pada 2 Januari 2024, https://www.brin.go.id/news/116170/indonesia-tiongkok-tingkatkan-hubungan-dalam-proyek-pembangunan-infrastruktur-skala-global
CNBCIndonesia.com. 14 Juni 2023. Xi Jinping Dukung Kedaulatan Palestina, Jadi Kawan Lama China. Diakses pada 2 Januari 2024, dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20230614203513-4-446002/xi-jinping-dukung-kedaulatan-palestina-jadi-kawan-lama-china
Raditio, Klaus Heinrich. 2021. Tianxia: Filsafat Cina tentang Tata Pemerintahan Dunia dalam Majalah Basis, Nomor 01-02, Tahun ke-70, 2021.
Tingyang, Zhao. 2016. All Under Heaven: The Tianxia System for a Possible World Order. Oakland: University of California Press.
Tingyangm, Zhao. 2019. Redefining a Philosophy for World Governance. Singapore: Springer Nature Singapore.
