Close Menu
BERNAS.id
    Berita Terbaru

    Gerakan Indonesia Makmur Desak DPR Tolak ART, Fokus Lindungi Kedaulatan Ekonomi

    May 15, 2026

    Yogyakarta Tuan Rumah Kongres XV HIMPSI 2026, Ketua AWMI Dukung Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketangguhan Bangsa

    May 15, 2026

    Wakil Bupati Bantul Buka Fun Game Anniversary #2 SSB Panggungharjo

    May 15, 2026

    Pencuri Kabel Perusahaan di Palu Ditangkap Polisi

    May 15, 2026

    Huayan Robotics Memamerkan Solusi Pengelasan dan Otomatisasi di METALTECH & AUTOMEX 2026

    May 14, 2026
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    BERNAS.id
    • Home
    • Regional
      • Internasional
      • Nasional
      • Daerah
        • DK Jakarta
        • DI Yogyakarta
        • Jawa Tengah
        • Jawa Timur
    • Finance

      DIY Jadi Tuan Rumah Pembukaan Seleksi Calon Anggota Industri Kreatif Syariah (IKRA) Tahun 2026

      April 30, 2026

      Ninja Xpress Luncurkan Ninja Cross Border: Dari Indonesia ke Dunia

      April 26, 2026

      XPORIA 2026, Dorong Peran Bank Daerah sebagai Penggerak Ekonomi Ibu Kota

      April 22, 2026

      Bazar XPORIA 2026 Hidupkan Transaksi dan Dongkrak Omzet UMKM

      April 21, 2026

      Bidik ASN Pemprov DKI, Bank Jakarta Gelar XPORIA 2026

      April 20, 2026
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Karir
    • Lifestyle
    • Politik
    • Hukum
    • Other
      • Travel
      • Entertainment
      • Opini
      • Tokoh
      • Budaya
      • Religi
      • Lingkungan
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Desa
      • Beragam
        • Bernas TV
        • Citizen Journalism
        • Editorial
        • Highlight
        • Inspirasi
        • Press Release
        • GlobeNewswire
    • Channel Jakarta
    BERNAS.id
    Home»Opini»Tianxia: Alternatif Tatanan Pemerintahan Dunia ala Tiongkok
    Opini

    Tianxia: Alternatif Tatanan Pemerintahan Dunia ala Tiongkok

    Christina DewiBy Christina DewiJanuary 2, 2024No Comments
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email
    Teddi Prasetya Yuliawan, Mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara - (Foto: dok.pribadi)
    Share
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email

    BERNAS.ID – TULISAN ini bermula dari rasa penasaran pribadi atas dua peristiwa. Pertama, dukungan Xi Jinping pada Palestina. Kedua, peluncuran Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Jakarta-Bandung. Mengapa dua peristiwa ini menarik bagi saya?

    Pertama, soal dukungan Xi Jinping pada Palestina adalah sesuatu yang tak saya duga. Tiongkok sebagai negara dengan ideologi Marxisme-Leninisme dikesankan tidak peduli pada agama, sehingga persepsi saya, mereka tak akan terlalu peduli pada Palestina, yang sekali lagi dalam persepsi saya juga, memperjuangkan kemerdekaan dari Israel dengan modal semangat keagamaan yang kental.

    Di Indonesia sendiri, dukungan kepada Palestina terutama dikemukakan oleh kalangan Muslim. Kenyataannya, Xi Jinping menyatakan dukungan agar Palestina merdeka secara penuh, menjadi anggota penuh PBB (CNBC Indonesia, 14 Juni 2023).

    Tak hanya itu, Beijing seolah ingin memposisikan dirinya sebagai mediator di Timur Tengah, salah satunya dengan menengahi pemulihan hubungan antara Iran dan Arab Saudi.

    Baca Juga : Meski Sudah Mendesak, Duit APBN untuk Kereta Cepat Tak Kunjung Cair

    Kedua, tentang peluncuran KCIC. Oktober 2023, KCIC dibuka untuk publik. Momen ini bersamaan dengan 10 tahun perjalanan Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas oleh pemerintah Tiongkok sejak 2013.

    Proyek KCIC memang merupakan salah satu bentuk riil dari BRI yang merupakan inisiatif Tiongkok untuk berkontribusi dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur dalam skala global (BRIN, 27 Oktober 2023).

    BRI merupakan perwujudan visi Xi Jinping terkait Global Community of Shared Future. Dengan visi ini, Tiongkok merespons pertanyaan, “Ke mana tujuan umat manusia?” dengan jawaban, “Kita harus menuju ke arah keharmonisan, membangun dunia yang inklusif, bersih dan indah, yang memiliki perdamaian abadi, keamanan universal dan kemakmuran bersama.

    Visi ini kiranya merupakan perwujudan filosofi Tianxia yang secara gamblang disebut-sebut oleh Xi Jinping dalam pidatonya di Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19,

    “Adalah ide dari Tianxia (segala di bawah langit) membentuk satu keluarga yang harus memandu manusia sehingga kita dapat merangkul satu sama lain dengan lengan terbuka dan menciptakan fondasi yang sama serta menyingkirkan perbedaan-perbedaan kita. Bersama, kita harus berjuang untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama untuk umat manusia” (Raditio, 2021).

    Tapi, apa sebenarnya Tianxia itu?

    Mengenal Tianxia

    Tianxia sering diterjemahkan sebagai ‘all under heaven’ ‘atau segala yang ada di bawah langit’. Ini adalah cara pandang untuk melihat dunia sebagai dunia. Meski berasal dari pemikiran klasik Tiongkok, Tianxia tidak hanya bisa diaplikasikan pada Tiongkok.

    Zhao Tingyang (2016: 1) berpendapat bahwa ia bisa jadi merupakan solusi atas permasalahan universal yang dialami dunia. Tianxia sebagaimana yang dipraktikkan oleh Dinasti Zhou memang telah lama hilang.

    Namun jejak pemikiran yang masih ada hingga saat ini kiranya bisa menjadi salah satu kemungkinan untuk membayangkan dunia di masa depan.

    Konsep politik internasional yang kini menggunakan paradigma etnonasionalisme, imperialisme, dan perjuangan kekuasaan hegemonik perlahan-lahan kehilangan kekuatannya (Tingyang, 2016: 2).

    Baca Juga : Luhut: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Bakal Digarap China karena Bunga Pinjaman Rendah

    Cara pandang ini mungkin tak lama lagi akan jadi masa lalu. Ini dapat kita lihat di era sekarang, ketika negara-bangsa berdiri tegak merdeka tanpa penindasan negara lain. Pun jika masih ada negara yang dijajah oleh negara lain, dunia tak tinggal diam dan menggemakan demonstrasi untuk mengakhirinya, seperti yang terjadi di Palestina sekarang.

    Kolonialisme yang lumrah beberapa abad lalu, kini menjadi ketidakwajaran yang harus dihapuskan. Karena itulah, menurut Tingyang, diperlukan sebuah cara pandang baru untuk mencapai sebuah kondisi pemerintahan global di masa depan. Ia menawarkan tianxia.

    Dalam pemikiran Tingyang (2017: 2), Tianxia adalah sebuah konsep imajinatif yang mengandaikan dunia memiliki tata pemerintahan global. Ia berupa sebuah tatanan bersama (order of coexistence) dengan dunia sebagai unit dasarnya.

    Berpikir dalam kerangka Tianxia berarti kita mengambil keseluruhan dunia sebagai unit berpikir dalam menganalisis berbagai persoalan, yang memungkinkan kita untuk memahami tatanan politik yang lebih selaras dengan globalisasi.

    Cara pandang ini dilawankan dengan imperialisme yang didasarkan pada konsep negara-bangsa, sehingga melihat ‘yang lain’ hanyalah sebagai tempat untuk ditaklukkan.

    Imperialisme memandang dunia sebagai objek untuk ditaklukkan, didominasi, dieksploitasi–tanpa memandang dunia sebagai agensi politik pada dirinya sendiri.

    Tianxia dan Prinsip Internalitas

    Berpikir dalam kerangka Tianxia berarti mengandaikan prinsip yang disebut ‘tidak ada yang lain di luar tianxia’ (Tingyang, 2016: 3). Karena tian (atau ‘langit’) adalah sebuah eksistensi holistik, maka tianxia (atau ‘segala yang ada di bawah langit’) pastilah juga merupakan eksistensi holistik.

    ‘Tidak ada yang lain di luar Tianxia’ adalah sebuah pengandaian bahwa dunia merupakan sebuah konsep politik yang holistik. Karenanya, sistem Tianxia hanya memiliki internalitas dan tidak memiliki eksternalitas.

    Maka tak ada konsep ‘kawan’ dan ‘musuh’ dalam wacana politiknya. Tak satu orang pun yang dipandang sebagai orang asing; dan tak ada satu pun negara-bangsa, etnisitas, atau budaya, yang dianggap sebagai musuh.

    Cara pandang ini berbeda dengan cara pandang oposisi yang mewarnai pemikiran politik dunia sekarang (Tingyang, 2016: 3), seperti: perjuangan antara Kristianitas dengan pagan di Eropa, antara pemikiran state of nature Hobbes dengan teori Marx tentang perjuangan kelas, hingga pemikiran Huntington tentang benturan antar peradaban.

    Teori yang didasarkan pada konflik tidak akan mungkin menciptakan perdamaian. Diperlukan sebuah pemikiran yang didasarkan pada cara pandang ko-eksistensi.

    Dunia dalam Kemungkinan Terbaik

    Dalam pemikiran Hobbes, posisi dasar yang digunakan adalah dunia dalam kemungkinan yang terburuk (Tingyang, 2016: 5). Karena itulah, negara diandaikan sebagai Leviathan yang hendak mengontrol agar manusia tidak saling menyakiti.

    Sebaliknya, Xunzi (Tingyang, 2016: 6) berpandangan bahwa manusia dalam kodratnya demikian lemah secara fisik. Namun memiliki keunggulan dalam kerjasama. Karenanya, agar dapat bertahan hidup, manusia justru perlu bekerja sama. Posisi dasar yang harus jadi perhitungan bukanlah konflik, melainkan kerjasama.

    Eksistensi sosial mendahului eksistensi individual. Karena itulah, Tianxia menawarkan cara pandang yang berbeda, yakni dunia dalam kemungkinan yang terbaik. Apakah itu?

    Menurut Confucius (Tingyang, 2016: 7), dunia dalam kemungkinan yang terbaik adalah yang disebut dengan datong, yang dapat diterjemahkan sebagai Expansive Harmony.

    Ini adalah dunia yang mengandung di dalamnya rasa aman, harmoni, perdamaian, saling percaya, saling membantu, dan pemenuhan kebutuhan dasar untuk hidup dan berkembang.

    Namun demikian, ia tidak mengharuskan kesamaan budaya dan keagamaan. Ia mengandaikan pluralitas jalan hidup. Keberagaman dan pluralisme tanpa keseragaman.

    Unit Politik dalam Pandangan Tianxia

    Pemikiran politik modern pada umumnya memiliki tiga level struktur yakni: individu, masyarakat, dan etnis-negara-bangsa (Tingyang, 2016: 9). Individu adalah dasar dari seluruh kerangka politik modern dan pada saat yang sama menjadi faktor penjelasan utama dalam keseluruhan struktur politik.

    Berkebalikan dengan itu, dalam kerangka pemikiran politik Tiongkok, terdapat tiga level unit politik: Tianxia, negara, dan keluarga. Individu adalah unit biologis, namun bukan unit politik. Karenanya, pemikiran politik Tiongkok tidak pernah menghasilkan liberalisme politik dan hak individu sebagai isu politik.

    Baca Juga : Kabinda DIY Petakan Daerah yang Rawan Konflik pada Pemilu 2024

    Tianxia tidak hanya ukuran unit politik terbesar, melainkan juga prinsip utama yang menjelaskan keseluruhan kerangka berpikir politik. Jika tak ada level tianxia, maka tatanan institusional politik dunia tak memiliki basis apapun.

    Karenanya, tak ada jalan untuk mentransendensi situasi tatanan yang anarkis untuk mencapai perdamaian dan harmoni. Dalam pandangan Tingyang, politik dunia saat ini tidak memiliki level berpikir seperti unit tianxia. Karenanya, akan sulit untuk menciptakan perdamaian dan harmoni.

    Politik yang Dimulai dari Tatanan Dunia

    Tingyang (2019: 2) berpendapat bahwa kita tak bisa menciptakan masa depan dari sesuatu yang kosong. Kita pasti membutuhkan sebuah basis.

    Dalam pandangannya, pemikiran politik memiliki setidaknya dua titik tolak: ide polis dari Yunani kuno dan ide Tianxia dari Tiongkok kuno.

    Ide polis menarik, karena ia mengandaikan adanya sebuah ruang publik yang memisahkan urusan pribadi dan masyarakat secara jelas.

    Sementara ide Tianxia, lebih menarik lagi karena ia lahir jauh sebelum era Yunani kuno sejak masa Dinasti Zhou (abad ke-11 SM hingga 256 SM).

    Sedikit menilik sejarah, Dinasti Zhou lahir dari sebuah daerah kecil yang dipimpin oleh seorang raja yang terkenal karena keutamaannya (Tingyang, 2019: 4).

    Ia dianggap sebagai pemimpin dari banyak kerajaan kecil lain karena kemampuannya untuk mengelola berbagai kerjasama mengatasi permasalahan yang terjadi seperti pengendalian banjir, penentuan kalender, dan kesepakatan lain.

    Seiring kompeksitas permasalahan yang meningkat, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mungkin ‘yang kecil mengendalikan yang besar’ dan pada saat yang sama ‘yang satu mengelola yang banyak’.

    Keutamaan moral yang dimiliki mungkin mampu menggerakkan orang dalam jangka pendek, namun dukungan dan kesetiaan dalam jangka panjang tentu membutuhkan lebih dari hanya keutamaan moral.

    Pilihannya hanya satu: menyusun sebuah model pemerintahan yang menekankan pada kekuatan sistem yang memungkinkan keteraturan hegemonik yang melahirkan keuntungan dari kerjasama (Tingyang, 2019: 5).

    Dengan kata lain, Dinasti Zhou perlu membangun sistem universal yang memungkinkan terjadinya kerjasama dalam kesepakatan yang dapat diterima oleh semua negara.

    Tantangannya adalah mengubah eksternalitas berbagai negara kecil tersebut ke dalam sebuah sistem internal.

    Artinya, mereka perlu menciptakan sebuah sistem dunia yang akan mentransendensi negara-negara untuk merealisasikan sebuah internalitas dunia. Tujuannya, setiap negara akan merasa lebih menguntungkan untuk tetap bergabung daripada melawan atau memberontak. Ide ini jelas membutuhkan imajinasi yang luar biasa.

    Tingyang (2019: 6) berargumen, bahwa meskipun pada mulanya Dinasti Zhou mengembangkan sistem Tianxia hanya untuk secara spesifik menjawab pertanyaan tentang ‘yang kecil mengelola yang besar’, sistem ini memiliki signifikansi yang universal.

    Baca Juga : Penjualan CPO ke Tiongkok Tidak Mengganggu Kebutuhan Dalam Negeri

    Sistem Tianxia memiliki tiga karakteristik yang diperlukan untuk mendesain tatanan dunia bersama (Tingyang, 2019: 7). Pertama, sistem Tianxia harus menjamin bahwa keuntungan dari bergabung lebih besar daripada tidak bergabung.

    Kedua, sistem Tianxia harus memastikan bahwa semua negara berada memiliki kepentingan yang saling tergantung dan saling menguntungkan, sehingga menjamin terciptanya rasa aman secara universal dan perdamaian jangka panjang.

    Ketiga, sistem Tianxia harus mampu menumbuhkan kepentingan publik, kepentingan bersama, dan institusi publik yang menguntungkan bagi semua negara, sehingga memastikan keuntungan universal. Singkatnya, sistem Tianxia harus menciptakan internalisasi dari dunia, sehingga tak ada eksternalitas.

    Tianxia mencakup dunia dan sesuatu yang lebih besar dari dunia (Tingyang, 2019: 10). Ada tiga lapisan dalam konsep ini.

    Pertama, secara geografis, Tianxia mengacu pada keseluruhan dunia fisik (semua di bawah langit).

    Kedua, secara sosio-psikologis, Tianxia mengacu pada sebuah dunia yang semua orang diakui dan tergabung di dalamnya, yakni sebuah dunia psikologis yang semua hati orang berada di dalamnya.

    Ketiga, secara politis, Tianxia mencakup dunia politis yang didefinisikan dalam bentuk sistem tatanan dunia. Dapat dilihat bahwa tianxia merupakan sebuah pandangan dunia yang komprehensif, lebih menyeluruh daripada pandangan dunia pada umumnya.

    Sebuah dunia yang 3 in 1 (geografis, sosio-psikologis, dan politis). Sebuah dunia yang hanya memiliki internalitas tanpa eksternalitas. Tianxia tidak dimiliki oleh seseorang, sebab ia dimiliki oleh semua orang.

    Kesimpulan dan Refleksi Kritis

    Sampai di titik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Tianxia kiranya memang merupakan sebuah tawaran pemikiran yang berbeda dengan tatanan dunia yang ada di masa kini.

    Konsepsi negara-bangsa, meski dicoba diselaraskan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), tetap merupakan konsepsi yang mengandaikan adanya kepemilikan individual.

    Jadilah sebuah negara kuat masih saja berkeinginan menginvasi negara lain yang dianggap lebih lemah dan menguntungkan. PBB sendiri tak benar-benar sanggup untuk menghentikan bibit-bibit imperialisme yang masih dimiliki oleh Israel kala menjajah Palestina, misalnya.

    Maka tatanan dunia yang berangkat dari pengandaian untuk menginternalisasikan sehingga tak ada eksternalitas, merupakan sebuah pengandaiaan yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut implementasinya.

    Tepat di titik implementasi itulah kiranya pertanyaan bermunculan, sebagaimana telah ditengarai oleh Zhao Tingyang sendiri (2016, xiii).

    Banyak yang bertanya kepadanya, “Siapa yang akan memimpin dunia Tianxia ini? Adakah ini sejatinya merupakan justifikasi atas ambisi Tiongkok untuk menguasai dunia? Seperti apakah kiranya institusi politik yang akan dibentuk untuk menjalankan tatanan dunia seperti ini?”

    Dan sependek yang saya tangkap, ia pun belum mampu merumuskan jawaban yang pasti. Kecurigaan para penanya beralasan, sebab Tiongkok kini sebagai negara memegang marxisme-leninisme sebagai ideologinya—ideologi yang menakutkan bagi sebagian besar orang yang terbiasa hidup di dalam liberalisme-kapitalisme.

    Bagaimana mungkin tianxia dapat menampung seluruh perbedaan pemikiran dan ideologi yang ada di seluruh dunia jika RRT pun masih menerapkan komunisme dalam sistem pemerintahannya?

    Pun implementasi filosofi Tianxia dalam bentuk BRI dipandang secara skeptis sebagai strategi jangka panjang Beijing untuk menguasai perekonomian negara lain dengan secara bertahap menciptakan ketergantungan melalui utang.

    Bukankah pada akhirnya seluruh ide BRI itu mengarahkan jalan menuju Tiongkok dan bermuara pada Tiongkok? Bagaimana ia bisa menjawab kepentingan seluruh dunia jika Tiongkok yang menjadi pusatnya?

    Pertanyaan-pertanyaan di tataran praktis ini tentu masih membutuhkan proses panjang untuk menjawabnya. Namun terlepas dari keraguan di tataran implementasi, sebagai sebuah pemikiran ia layak untuk diseriusi.

    Sebab tawaran Tianxia sebagai alternatif tatanan pemerintahan dunia memang memiliki kemungkinan yang baik. Pengandaian dunia dalam versinya yang terbaik, misalnya, adalah pemikiran yang khas dan orisinil, sebagai alternatif dari pemikiran ala Thomas Hobbes.

    Dunia tidak hanya membutuhkan negara-negara yang saling bekerja sama. Namun lebih dari itu kita membutuhkan negara-negara yang hidup dalam semangat satu dunia yang sama: warga dunia dan sesama manusia.

    (Penulis: Teddi Prasetya Yuliawan |
    Mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)

     

    Referensi :

    BRIN.go.id. 27 Oktober 2023. Indonesia – Tiongkok Tingkatkan Hubungan dalam Proyek Pembangunan Infrastruktur Skala Global. Diakses pada 2 Januari 2024, https://www.brin.go.id/news/116170/indonesia-tiongkok-tingkatkan-hubungan-dalam-proyek-pembangunan-infrastruktur-skala-global

    CNBCIndonesia.com. 14 Juni 2023. Xi Jinping Dukung Kedaulatan Palestina, Jadi Kawan Lama China. Diakses pada 2 Januari 2024, dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20230614203513-4-446002/xi-jinping-dukung-kedaulatan-palestina-jadi-kawan-lama-china

    Raditio, Klaus Heinrich. 2021. Tianxia: Filsafat Cina tentang Tata Pemerintahan Dunia dalam Majalah Basis, Nomor 01-02, Tahun ke-70, 2021.

    Tingyang, Zhao. 2016. All Under Heaven: The Tianxia System for a Possible World Order. Oakland: University of California Press.

    Tingyangm, Zhao. 2019. Redefining a Philosophy for World Governance. Singapore: Springer Nature Singapore.

     

    KCIC Presiden Xi Jinping proyek kereta cepat Sistem Tianxia Tiongkok
    Share. Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email
    Christina Dewi

      Related Posts

      Ketika Kartini Membuka Jalan, Mengapa Sebagian Lelaki Justru Kehilangan Arah?

      April 22, 2026

      Durian Sulteng Tembus Tiongkok, Gubernur Bangga

      April 16, 2026

      Durian Sulteng Tembus Tiongkok, Dongkrak Ekonomi Daerah

      April 16, 2026

      Barantin Lepas Ekspor 459 Ton Durian Asal Sulawesi Tengah Ke Tiongkok Senilai Rp42,5 Miliar 

      April 16, 2026

      “Pesan Rahasia” Sel Punca: Harapan Baru Terapi Tanpa Operasi

      April 14, 2026

      Evaluasi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota, Bandung Masih di Persimpangan Jalan

      March 2, 2026
      Leave A Reply Cancel Reply

      Berita Internasional Terbaru

      Huayan Robotics Memamerkan Solusi Pengelasan dan Otomatisasi di METALTECH & AUTOMEX 2026

      May 14, 2026

      Green Building Initiative Mengumumkan Pengunduran Diri CEO Vicki Worden

      May 13, 2026
      Berita Nasional Terbaru

      Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

      April 13, 2026

      Era Yuldi, Imigrasi Raup PNBP Rp10,4 Triliun

      April 2, 2026
      Berita Daerah Terbaru

      Gerakan Indonesia Makmur Desak DPR Tolak ART, Fokus Lindungi Kedaulatan Ekonomi

      May 15, 2026

      Yogyakarta Tuan Rumah Kongres XV HIMPSI 2026, Ketua AWMI Dukung Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketangguhan Bangsa

      May 15, 2026
      BERNAS.id

      Office Address :
      Jakarta
      Menara Cakrawala 12th Floor Unit 05A
      Jl. MH Tamrin Kav. 9 Menteng, Jakarta Pusat, 10340

      Yogyakarta
      Kawasan Kampus Universitas Mahakarya Asia,
      Jl. Magelang KM 8, Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281

      Email :
      info@bernas.id
      redaksi@bernas.id

      Advertisement & Placement :
      +62 812-1523-4545

      Link
      • Google News BERNAS.id
      • Tentang BERNAS
      • Redaksi BERNAS
      • Pedoman Media Siber
      • Kode Etik
      • Verifikasi Dewan Pers BERNAS.id
      BERNAS.id
      Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
      • Google News BERNAS
      • Tentang BERNAS
      • Redaksi BERNAS
      • Pedoman Media Siber
      © 2015 - 2026 BERNAS.id All Rights Reserved.

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.