BERNAS.ID – Di era digital saat ini, kita sering mendengar istilah “bipolar” digunakan secara luas dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan remaja milenial.
Namun, apakah kita benar-benar memahami makna sesungguhnya dari gangguan bipolar? Lebih dari sekadar perubahan mood yang ekstrem, gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan jiwa yang serius dan memerlukan pemahaman mendalam.
Pemahaman Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar, dikenal juga sebagai gangguan manik depresif, adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan mood ekstrem, dari mania atau hipomania hingga depresi. Gejala ini jauh lebih intens daripada fluktuasi mood biasa yang dialami setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Mengenal Perbedaan Mood Swings dan Bipolar
Mania dan Hipomania
Di satu sisi, fase mania atau hipomania dapat membuat seseorang merasa sangat bahagia, penuh energi, atau mudah tersinggung. Dalam fase ini, seseorang mungkin merasa memiliki kemampuan luar biasa, kurang memerlukan tidur, atau membuat keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Depresi
Di sisi lain, fase depresi mirip dengan depresi mayor. Seseorang mungkin merasa sangat sedih, tidak berdaya, kehilangan minat atau kesenangan dalam kebanyakan aktivitas, mengalami perubahan berat badan, gangguan tidur, kelelahan, perasaan tidak berharga, atau pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Penyebab dan Faktor Risiko
Meskipun penyebab pasti gangguan bipolar masih belum sepenuhnya dipahami, kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, dan perubahan struktural atau fungsional otak berperan. Stres berat, pengalaman traumatis, dan perubahan hormonal juga dapat memicu perkembangan atau memperburuk kondisi ini.
Prevalensi di Kalangan Remaja Milenial
Remaja milenial, yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan media sosial, terlihat menghadapi tekanan unik yang dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Perbandingan konstan dengan standar kehidupan yang seringkali tidak realistis di media sosial, tekanan akademik, dan tantangan dalam membangun identitas diri dapat menjadi faktor yang memperberat kondisi bagi mereka yang rentan terhadap gangguan bipolar.
Baca Juga : Posyandu Kit Bantu Kader Posyandu Monitor Stunting
Diagnostik dan Tantangan
Diagnosa gangguan bipolar seringkali sulit, terutama pada remaja. Gejala yang berhubungan dengan perubahan mood dan perilaku remaja seringkali dianggap sebagai bagian dari proses pertumbuhan, sehingga menyebabkan keterlambatan dalam pengenalan dan penanganan kondisi ini.
Oleh karena itu, kesadaran tentang gejala dan karakteristik gangguan bipolar sangat penting, baik bagi remaja itu sendiri maupun orang tua dan pendidik.
Penanganan dan Dukungan
Pengobatan untuk gangguan bipolar biasanya melibatkan kombinasi terapi obat dan psikoterapi. Obat-obatan seperti stabilisator mood, antipsikotik, dan antidepresan sering digunakan. Psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT), dapat membantu individu mengelola gejala, mengembangkan strategi coping yang sehat, dan memperbaiki pola pikir dan perilaku.
Penting juga untuk membangun sistem dukungan yang kuat. Keluarga, teman, dan komunitas dapat berperan penting dalam proses pemulihan. Kesadaran dan pengertian dari lingkungan sekitar sangat berarti bagi remaja yang mengalami gangguan bipolar, memberikan mereka rasa diterima dan didukung.
Tantangan dan Stigma
Salah satu tantangan terbesar dalam menangani gangguan bipolar adalah stigma. Stigma sosial seringkali membuat remaja enggan mencari bantuan dan mendiskusikan kondisi mereka. Ini menyebabkan isolasi dan memperburuk kondisi kesehatan mental. Oleh karena itu, pendidikan dan advokasi tentang kesehatan mental sangat penting untuk mengurangi stigma dan mendukung mereka yang terkena dampak.
Harapan dan Masa Depan
Dengan pengobatan yang tepat dan dukungan yang kuat, banyak remaja dengan gangguan bipolar dapat menjalani kehidupan yang produktif dan memuaskan. Meningkatkan kesadaran, pendidikan, dan sumber daya untuk kesehatan mental adalah langkah penting untuk membantu remaja milenial menghadapi tantangan ini.
Gangguan bipolar di kalangan remaja milenial bukanlah sekadar “galau” yang sederhana. Ini adalah kondisi kesehatan mental yang serius yang memerlukan pemahaman, penanganan, dan dukungan yang komprehensif. Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat membantu mereka menghadapi tantangan ini dan membangun masa depan yang lebih cerah dan sehat. Singkatnya, meskipun galau, penderita bipolar tetap tegar.
[Penulis: Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.(Cand.) adalah dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar; kandidat doktor dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University, Taiwan; Ketua Komisi Kesehatan Ditlitka PPI Dunia, penulis puluhan buku, reviewer jurnal nasional dan Internasional, trainer bersertifikasi BNSP]
