BERNAS.ID – Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit infeksi paling tua dan mematikan dalam sejarah manusia, yang hingga kini tetap menjadi tantangan kesehatan global. Meski kemajuan dalam ilmu kedokteran dan kebijakan kesehatan masyarakat telah banyak dicapai, TB masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia.
Opini ini akan mengulas sejarah TB, beban global, mekanisme penyakit, inovasi dalam diagnosis dan pengobatan, serta upaya global untuk memberantas penyakit ini.
Sejarah Singkat Tuberkulosis
TB dikenal sebagai “penyakit konsumsi”, pada abad ke-19 karena penderitanya mengalami penurunan berat badan yang drastis.
Robert Koch, seorang ilmuwan Jerman, menemukan bakteri penyebab TB, Mycobacterium tuberculosis, pada tahun 1882, membuka jalan bagi penemuan cara penanganan penyakit ini.
Baca Juga : Kabupaten Sleman Eliminasi TBC 2030 dengan Kolaborasi
Penemuan vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) oleh Albert Calmette dan Camille Guérin pada tahun 1921 adalah tonggak penting dalam pencegahan TB.
Tren Epidemiologi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 10 juta orang di seluruh dunia mengembangkan TB setiap tahun, dan 1,4 juta meninggal karenanya. Meski insidensi TB menurun secara perlahan, beban penyakit ini tetap tinggi, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Faktor-faktor sosial-ekonomi seperti kemiskinan, kepadatan penduduk, dan malnutrisi memfasilitasi penyebaran TB. Selain itu, HIV/AIDS secara signifikan meningkatkan risiko reaktivasi TB laten menjadi TB aktif.
Mekanisme Penyakit dan Respon Imun
Ketika Mycobacterium tuberculosis masuk ke tubuh, biasanya menyerang paru-paru dan menyebabkan pembentukan granuloma.
Granuloma adalah struktur yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk membatasi penyebaran bakteri. Namun, bakteri ini bisa bertahan dalam
keadaan dorman selama bertahun-tahun dan dapat aktif kembali ketika sistem imun melemah.
Respon imun yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan, berkontribusi pada patologi TB.
Peran penting dalam pertahanan terhadap TB dimainkan oleh sel T, khususnya subset Th1, yang memproduksi interferon-gamma (IFN-γ) untuk mengaktifkan makrofag agar mampu membunuh bakteri.
Namun, bakteri TB telah mengembangkan berbagai mekanisme untuk menghindari destruksi oleh sel imun, seperti menghambat fusi fagosom-lisosom.
Inovasi Diagnosis TB
Diagnosis TB tradisional bergantung pada tes kulit tuberkulin (TST) dan pemeriksaan mikroskopik sputum. Namun, teknologi baru telah meningkatkan akurasi dan kecepatan
diagnosis TB. Salah satu terobosan terbesar adalah pengembangan tes berbasis molekuler seperti GeneXpert MTB/RIF, yang dapat mendeteksi keberadaan Mycobacterium tuberculosis
dan resistensi rifampisin dalam waktu kurang dari dua jam.
Penggunaan teknik sequencing genomik juga mulai diterapkan untuk melacak penularan TB dan memahami pola resistensi obat.
Pendekatan ini memungkinkan penanganan yang lebih tepat dan personal, sesuai dengan karakteristik genetik masing-masing pasien.
Terapi dan Tantangan Resistensi Obat
Pengobatan TB standar mencakup penggunaan kombinasi empat obat utama: isoniazid, rifampisin, ethambutol, dan pirazinamid selama minimal enam bulan. Tantangan utama dalam pengobatan TB adalah munculnya TB resisten obat (MDR-TB) dan TB resisten obat secara luas (XDR-TB), yang memerlukan regimen pengobatan lebih lama.
Penelitian sedang dilakukan untuk mengembangkan regimen pengobatan yang lebih pendek dan lebih efektif. Salah satu pendekatan baru melibatkan penggunaan terapi yang diarahkan
pada host (HDTs), yang bertujuan untuk memodulasi respon imun tubuh untuk memperbaiki penanganan infeksi.
Vaksinasi dan Pengembangan Vaksin Baru
Vaksin BCG, meskipun efektif melawan bentuk TB yang parah pada anak-anak, kurang berhasil dalam mencegah TB paru pada orang dewasa. Oleh karena itu, penelitian untuk mengembangkan vaksin TB baru yang lebih efektif terus dilakukan.
Beberapa kandidat vaksin baru menargetkan jalur imun yang lebih luas dan berusaha menginduksi respon imun yang lebih kuat dan tahan lama.
Strategi Global dan Masa Depan Pengendalian TB
WHO telah meluncurkan strategi End TB, yang bertujuan untuk mengurangi insidensi TB sebesar 90% dan kematian akibat TB sebesar 95% pada tahun 2035. Strategi ini menekankan pentingnya integrasi layanan TB dengan sistem kesehatan lainnya, kebijakan yang berani, dan dukungan sistemik, serta penelitian dan inovasi yang intensif.
Pendekatan holistik yang mengintegrasikan teknologi terbaru dengan penanganan determinan
sosial kesehatan sangat penting untuk memberantas TB sebagai ancaman kesehatan global.
Baca Juga : SSR PKBI Kota Yogyakarta Ikut Terlibat dalam Penanggulangan TBC
Kolaborasi internasional, peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan, serta penguatan sistem kesehatan di negara-negara dengan beban TB tinggi adalah kunci untuk mencapai tujuan ini.
Epilog
Tuberkulosis (TB) terus menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, memerlukan inovasi, kebijakan efektif, dan kerjasama internasional untuk mendekatkan kita pada eliminasi penyakit ini.
Melalui komitmen global dan penerapan teknologi canggih serta pendekatan berbasis bukti yang memperhatikan faktor sosial, kita dapat optimis menatap masa depan di mana TB bukan lagi ancaman kesehatan.
Penting bagi komunitas internasional untuk terus mendukung penelitian dan pengembangan, memastikan akses universal terhadap layanan kesehatan, dan menyediakan pengobatan yang terjangkau dan berkualitas untuk semua orang yang terkena TB, demi mewujudkan visi dunia yang bebas dari TB.
(Penulis: Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.(Cand.), kandidat doktor di IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dosen di FKIK
Unismuh Makassar, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, WorldWide Peace Organization (WWPO) Peace Ambassador in Indonesia, Dokter pengampu Telemedicine di SMA Negeri 13 Semarang, penulis puluhan buku
di antaranya: “The Art of Medicine”, “The Art of Televasculobiomedicine 5.0”, “The Art of Onconomics 5.0”, “Stem Cells Made Easy”, “Ensiklopedia penyakit dan gangguan kesehatan”, reviewer puluhan jurnal nasional dan internasional, penulis-trainer berlisensi BNSP, juga tergabung dalam berbagai organisasi di: Perhimpunan Periset Indonesia, MABBI, INBIO INDONESIA, Kagama, Asosiasi Wisata Medis Indonesia, ADEWI-PERKEWINDO, Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia, Serikat Pekerja Kampus)
