JAKARTA, BERNAS.ID – Ir. Tri Atmodjowati, M.M., dikenal sebagai sosok akademisi yang memiliki pengalaman luas di dunia pendidikan dan industri. Kini, ia mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA), membawa visi inovatif untuk menjadikan institusi ini lebih unggul dan dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan latar belakang yang kaya sebagai coach, trainer, dosen, dan pengusaha, Tri Atmodjowati telah mengalami berbagai dinamika di dunia profesional. Termasuk menyelesaikan pekerjaan di industri asuransi dengan berbagai bidang yang pernah dijalani baik di bagian finance, marketing, HR, dan Academic Agency
Filosofinya yang kuat tentang pentingnya pembelajaran sepanjang hayat dan kompetensi yang berkualitas menjadikannya figur inspiratif dalam dunia akademik.
Dari Dunia Korporasi ke Akademisi
Karier Tri Atmodjowati dimulai bukan dari jalur akademik, melainkan dari dunia korporasi, terutama di bidang pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. “Saya sudah terbiasa melatih orang, memberikan training untuk berbagai perusahaan,” ujarnya. Berbagai posisi strategis yang pernah ia jalani membuatnya memiliki pemahaman mendalam tentang manajemen sumber daya manusia dan kebutuhan industri.
Baca Juga : Dari Underdog to Master Strategist: Kisah perjalanan Bayu membangun Digital Agency
Keputusannya untuk terjun ke dunia akademik bukan tanpa alasan. Berawal dari pengalamannya sebagai trainer, ia merasa memiliki kecintaan dalam berbagi ilmu dan membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. “Saya mulai mengajar karena melihat bahwa banyak orang memiliki potensi, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengembangkannya. Saya ingin berkontribusi dalam membentuk generasi yang lebih siap menghadapi tantangan,” ungkapnya.

Dari pengalaman mengajar di berbagai institusi pendidikan hingga mendirikan lembaga training sendiri, ia semakin yakin bahwa pendidikan adalah fondasi utama untuk menciptakan individu yang kompeten. “Kalau di perusahaan, semuanya sudah tersedia, ada anggaran dan target yang jelas. Sementara di dunia akademik, tantangannya lebih besar karena kita harus membangun sistem dari awal, mencari mahasiswa, memastikan mereka berkembang, dan membangun kualitas pendidikan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Terinspirasi dari Sang Ayah
Dalam perjalanan kariernya, Tri Atmodjowati banyak terinspirasi oleh sosok ayahnya, yang berprofesi sebagai pendidik, politisi, dan budayawan. “Ayah saya adalah figur besar dalam hidup saya. Dari beliau, saya belajar bagaimana menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial,” katanya.
Pelajaran dari sang ayah membentuk prinsip hidupnya dalam menjalani profesi sebagai akademisi. Ia berpegang teguh pada dua hal: belajar dan mengajar. “Kalau saya tidak sedang mengajar, berarti saya sedang belajar. Saya selalu mencari ilmu baru, mengikuti pelatihan, seminar, dan kursus. Saya percaya, ilmu yang saya peroleh harus diajarkan kepada orang lain agar lebih bermanfaat,” jelasnya.
Baca Juga : August Munar, Sosok Pemalu yang Sukses Menjadi Master of Training Handal
Bagi Tri, seorang akademisi tidak boleh berhenti belajar. Ia meyakini bahwa dalam dunia yang terus berkembang, hanya mereka yang terus meningkatkan kompetensinya yang dapat bertahan. “Saya tidak bisa diam. Di sela-sela kesibukan, saya tetap berusaha mengikuti berbagai pelatihan. Itu sudah menjadi bagian dari hidup saya,” ungkapnya.
Tantangan sebagai Rektor
Menjadi rektor sebuah universitas bukanlah hal yang mudah, terutama di era perubahan yang begitu cepat. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Tri Atmodjowati adalah bagaimana mengambil keputusan dengan cepat namun tetap tepat. “Di era sekarang, keputusan harus cepat. Kalau tidak, kita akan tertinggal. Tapi keputusan cepat juga harus minim kesalahan,” tegasnya.
Ia juga menyadari bahwa dunia akademik tidak lepas dari berbagai tantangan, termasuk isu-isu negatif dan perubahan teknologi yang pesat. “Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang katakan, tapi kita bisa mengelola situasi dengan strategi yang tepat. Saya selalu menerapkan prinsip seperti menarik rambut dalam tepung, masalah terselesaikan tanpa merusak tatanan,” tambahnya.
Sebagai seorang pemimpin, ia menekankan pentingnya kepercayaan dan delegasi dalam menjalankan tugas. “Kita harus percaya kepada orang lain, memberi kepercayaan agar mereka berkembang. Kalau kita ingin segalanya dikerjakan sendiri, kita akan kelelahan dan sulit maju,” katanya.
Visi dan Harapan untuk UNMAHA
Sebagai rektor, Tri Atmodjowati memiliki visi besar untuk menjadikan UNMAHA semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Salah satu target utama yang ingin ia capai adalah membawa UNMAHA ke level yang lebih tinggi, baik dalam hal kualitas pendidikan maupun daya saing di dunia industri.
Baca Juga : Filosofi “Helping People“ Cara Paulus Sulastri Mengubah Bisnis Menjadi Solusi
“Dalam lima tahun ke depan, saya ingin UNMAHA benar-benar Go Asia, bukan hanya dalam hal mahasiswa, tetapi juga dalam pengembangan bisnis pendidikan,” ujarnya.
Baginya, pendidikan tidak hanya sekadar mencetak lulusan, tetapi juga membangun sistem yang berkelanjutan agar institusi pendidikan bisa terus berkembang.
Salah satu fokus utamanya adalah menciptakan Blue Ocean Strategy di bidang pendidikan dan kewirausahaan. “Kami ingin mencetak entrepreneur yang bukan hanya sekadar lulus kuliah lalu berbisnis, tetapi benar-benar didukung dengan sistem dan ekosistem yang solid,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa teknologi sangat membantu dalam dunia pendidikan, tetapi tetap ada aspek yang tidak bisa digantikan. “Hubungan antarmanusia, empati, dan kemampuan menerima keadaan tetap harus dikembangkan. Akademisi dan mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai dasar,” katanya.
Selain itu, ia ingin memastikan bahwa UNMAHA memiliki standar kompetensi yang tinggi, baik bagi dosen maupun mahasiswa. “Target saya adalah mahasiswa dan dosen UNMAHA memiliki kualitas yang unggul dan diperhitungkan di dunia kerja. Banyak orang yang punya gelar, tapi tidak diperhitungkan. Saya ingin memastikan lulusan UNMAHA benar-benar memiliki kompetensi yang diakui,” ungkapnya.
Menjadi Pemimpin yang Adaptif
Tri Atmodjowati percaya bahwa seorang pemimpin harus fleksibel dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Ia memahami bahwa setiap keputusan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan yang matang dan tetap mempertahankan nilai-nilai dasar.
Ia juga menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. “Siapa yang tidak pernah gagal? Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Tapi bagi saya, kegagalan itu justru membuat kita lebih kuat. Saya selalu berpikir bahwa saat kita berada di titik terendah, itu adalah momen untuk beristirahat sejenak dan menyusun strategi baru,” katanya.
Dalam menghadapi tantangan, ia menerapkan prinsip mindfulness, kesadaran penuh dalam menerima keadaan dan menemukan solusi terbaik. “Banyak orang yang stres karena mereka salah mendiagnosis dirinya sendiri. Saya selalu mengajarkan kepada mahasiswa dan dosen untuk tetap berpikir positif dan melihat setiap tantangan sebagai peluang untuk berkembang,” ujarnya.
Dengan pengalaman yang luas di dunia akademik dan industri, Tri Atmodjowati membawa perubahan besar bagi UNMAHA. Visi dan misinya yang jelas untuk meningkatkan kualitas pendidikan, membangun ekosistem kewirausahaan, serta menjadikan UNMAHA sebagai institusi yang diperhitungkan di tingkat internasional adalah bukti nyata dari komitmennya dalam dunia pendidikan.
Sebagai seorang akademisi, pengusaha, dan pemimpin, ia terus berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa, dosen, dan seluruh komunitas akademik. Dengan prinsip belajar dan mengajar yang terus ia pegang teguh, Tri Atmodjowati membuktikan bahwa pendidikan adalah kunci utama dalam menciptakan perubahan yang nyata dan berkelanjutan. (DID)
