JAKARTA, BERNAS.ID – Wakil Ketua Umum Bidang Logistik dan Supply Chain KEIND, Juliana Sofhia Damu, memberikan pidato inspiratif dalam acara wisuda mahasiswa Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA). Ia menekankan pentingnya mental pemenang, kesiapan menghadapi transformasi digital, serta peluang besar bagi lulusan di dunia kerja.
Juliana membuka pidatonya dengan menyoroti nama kampus UNMAHA yang menurutnya mencerminkan keunggulan. Pidato motivasi itu disampaikannya saat menghadiri Wisuda Sarjana UNMAHA 2025 pada Sabtu (1/2/2025).
“Anda tahu Mahakarya? Kita semua adalah Mahakarya Tuhan. Dari namanya saja, universitas ini sudah luar biasa, Mahakarya di Asia. Asia itu luas, bukan hanya Asia Tenggara, tapi juga Jepang, Korea, dan China,” tegas wanita yang akrab disapa Anna itu.
Baca Juga : ADVAN Perkuat Komitmen dalam Pendidikan, Dukung Lulusan UNMAHA Melalui Program CSR
Dalam kesempatan itu, Juliana mengajak para wisudawan untuk mengenang perjalanan mereka. “Mungkin ada orang-orang yang dulu membully Anda, ada yang membantu Anda, atau mungkin mereka sudah tidak bersama kita lagi. Tapi mereka semua adalah bagian dari perjalanan Anda menjadi Sarjana hari ini. Jangan lupa berterima kasih,” ujar Founder WiLAT Indonesia itu.
Juliana menegaskan bahwa nama universitas bukanlah faktor utama dalam menentukan kesuksesan seseorang. “Tidak penting Anda berkuliah di mana. Yang penting adalah mindset Anda. Bagaimana Anda menciptakan diri Anda sendiri menjadi orang yang sukses dan berhasil,” tegasnya.
Ia mencontohkan bahwa banyak orang terkaya di dunia justru tidak menyelesaikan pendidikan formalnya di universitas ternama. Anna pun mengaku mengalami hal itu. Dirinya gagal masuk universitas yang diinginkan, tapi tidak menyerah. Hingga mencari jalan lain dan akhirnya bisa sukses.
Baca Juga : Gelar Wisuda Sarjana 2025, UNMAHA Berkomitmen Cetak Lulusan Berdaya Saing Tinggi
Untuk menegaskan pentingnya ketangguhan mental, Juliana mengangkat kisah Serena Williams, petenis dengan gelar Grand Slam terbanyak. “Serena Williams tidak dilatih di klub tenis mewah. Dia dilatih oleh ayahnya sendiri, tetapi dia memiliki mental pemenang sejak kecil. Setiap hari dia berlatih enam jam, mengasah fisik dan tekniknya. Itulah mentalitas yang harus Anda miliki,” ujanya mencontohkan.
Juliana yang juga Wakil Ketua Umum WiLAT untuk Asia Tenggara itu membahas perkembangan industri digital dan kebutuhan tenaga kerja di bidang IT. Ia menyebutkan bahwa Indonesia masih kekurangan SDM di sektor ini. Pada tahun 2025, lanjut dia, Indonesia membutuhkan dua juta tenaga kerja IT. Tapi hingga tahun 2020, baru memiliki 430 ribu lulusan di bidang IT. Artinya, masih ada kesenjangan besar yang harus diisi.
Ia menyoroti bagaimana perusahaan-perusahaan multinasional masih lebih banyak merekrut tenaga IT dari India daripada dari Indonesia. “Kenapa harus India? Apakah kita tidak bisa? Tentu kita bisa! Tapi kita harus memiliki skill dan kesiapan yang setara,” pungkasnya.
Selain itu, sektor logistik juga membutuhkan tenaga IT yang mumpuni. Menurutnya, Indonesia memiliki biaya logistik tertinggi di Asia Tenggara, mencapai 23%. Jika ingin menciptakan sistem yang efisien, maka akan sangat dibutuhkan oleh banyak perusahaan.
Juliana menegaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, tidak akan menggantikan manusia, melainkan membantu pekerjaan menjadi lebih efisien. Jangan takut dengan AI. Manusia yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya. Yang perlu dilakukan adalah terus meningkatkan kualitas diri.
Juliana mengajak para wisudawan untuk berani bermimpi dan tidak takut gagal. “Saya adalah contoh nyata bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kalau satu pintu tertutup, cari pintu lain. Jangan pernah menyerah,” tutupnya.
Dengan pesan yang penuh semangat, pidato Juliana mendapat sambutan meriah dari para wisudawan dan tamu undangan. Mereka terinspirasi untuk melangkah ke dunia profesional dengan keyakinan dan mental pemenang. (DID)
