Oleh: Dokter Dito Anurogo, M.Sc., PhD
BERNAS.ID – Di tengah peradaban manusia yang terus berkembang, teknologi hadir sebagai palu godam yang memahat wajah baru kehidupan. Seperti pahatan Michelangelo pada marmer, teknologi menciptakan karya yang menakjubkan namun juga membawa risiko yang tak terduga.
Filsafat teknologi, melalui tilikan Paul Ricœur, mengajak kita menyelami tiga dimensi yang melekat erat pada teknologi: kemajuan, ambiguitas, dan harapan.
Kemajuan adalah mantra yang sering didengungkan. Kita menyaksikan transformasi dari roda kayu menjadi mobil listrik, dari surat pos menjadi surel, dari pasar tradisional menjadi e-commerce.
Baca Juga : Teknologi Cybel Meter Dapat Dukungan Penuh dari DPRD DKI Jakarta
Setiap inovasi membawa janji perbaikan; sebuah langkah maju dalam sejarah alat dan instrumen yang tanpa henti berkembang. Ricœur menyebutnya sebagai “akumulasi dari pengetahuan” (l’accumulation d’un acquis), sebuah jejak tak terhapuskan dari kreativitas manusia yang terus menorehkan sejarah.
Namun, kemajuan ini tidak datang tanpa harga. Di balik setiap layar sentuh dan sensor canggih, tersembunyi ambiguitas yang mengundang pertanyaan etis dan moral. Teknologi adalah pedang bermata dua, sebuah instrumen yang mampu menciptakan serta menghancurkan.
Ricœur mengingatkan kita bahwa alat-alat ini tidak berdiri sendiri; maknanya bergantung pada penggunaannya dalam sejarah konkret manusia. Sebuah drone bisa menjadi pengantar paket atau alat penghancur, tergantung siapa yang memegang kendali.
Ambiguitas teknologi mencerminkan kompleksitas peradaban manusia. Saat kita memuja kemajuan, kita kerap lupa bahwa setiap inovasi membawa potensi kesalahan. Seperti yang diutarakan Ricœur, “di mana terdapat kebesaran peradaban manusia, di situ pula terdapat kesalahan.”
Dalam politik global, teknologi bisa menjadi alat pembebasan atau penjajahan baru. Kebebasan berpendapat dapat dilindungi atau dilenyapkan dengan satu sentuhan algoritma.
Di tengah ambiguitas ini, harapan menjadi jangkar yang menjaga perahu peradaban agar tidak terombang-ambing di lautan krisis. Ricœur menawarkan konsep harapan sebagai elemen supra-rasional yang melampaui logika dingin kemajuan dan ambiguitas.
Harapan ini bukanlah angan kosong, melainkan keyakinan bahwa di antara kemajuan dan kesalahan, ada jalan menuju kebijaksanaan praktis. Harapan mengingatkan kita bahwa teknologi, bagaimanapun canggihnya, tetaplah alat dalam tangan manusia.
Ricœur mengajak kita untuk memahami teknologi sebagai teks yang perlu diinterpretasi. Hermeneutika—seni menafsirkan—menjadi alat untuk membuka potensi tersembunyi dalam setiap inovasi.
Teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan medium untuk merealisasikan potensi kemanusiaan yang lebih baik. Harapan ini tercermin dalam pencarian makna yang tersembunyi di balik tiap inovasi; bahwa setiap alat baru adalah cerminan dari keinginan manusia untuk hidup lebih baik, lebih adil, dan lebih bermakna.
Di tengah kemajuan pesat nanoteknologi, regenerative medicine, hingga molecular medicine, kita dihadapkan pada dilema moral yang semakin kompleks.
Apakah kita sedang menciptakan dunia yang lebih baik, atau justru semakin teralienasi dari kemanusiaan kita sendiri? Nanobubbles yang bisa membersihkan limbah industri, misalnya, adalah wujud kemajuan teknologi yang dapat menyelamatkan lingkungan. Namun, apa yang terjadi jika teknologi serupa digunakan untuk tujuan destruktif?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada esensi filsafat teknologi: bukan hanya tentang bagaimana kita membuat dan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi membentuk kita sebagai manusia.
Baca Juga : Pentingnya Nanoteknologi di Bidang Farmasi dan Kesehatan
Dalam dunia yang semakin terotomatisasi, kita dihadapkan pada pilihan: menjadi sekadar pengguna pasif atau aktor aktif yang mengarahkan teknologi menuju kebaikan bersama.
Ketika Geoffrey Hinton, dalam pidatonya di Nobel Fisika, mengingatkan risiko jangka pendek AI yang memecah belah masyarakat, dia seolah menggemakan pandangan Ricœur tentang ambiguitas teknologi.
Apakah kita siap dengan konsekuensi sosial dari inovasi yang kita ciptakan? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa teknologi tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia?
Pada akhirnya, teknologi adalah cermin yang memantulkan siapa diri kita. Dalam cerminan itu, kita melihat potret manusia yang terus berinovasi, kadang tersesat, tetapi selalu mencari jalan pulang. Filsafat teknologi mengingatkan kita bahwa perjalanan ini bukan sekadar soal inovasi, tetapi juga refleksi, etika, dan harapan. Teknologi dapat menjadi cahaya yang menerangi jalan atau bayangan yang menyesatkan. Pilihan ada di tangan kita, sang kreator peradaban.
(Dokter Dito Anurogo MSc PhD, pembelajar filsafat dan penyuka sains-teknologi, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar Indonesia, peneliti Institut Molekul Indonesia, penulis puluhan buku, penulis-trainer berlisensi BNSP, aktif di berbagai organisasi, reviewer puluhan jurnal nasional-internasional, sedang menekuni nanoimmunobiotechnomedicine)
