Oleh: Dokter Dito Anurogo MSc PhD
BERNAS.ID – Kita telah menyingkap hukum-hukum alam, mengendalikan api dan gelombang elektromagnetik, membelah atom, menciptakan kecerdasan buatan, dan mungkin segera mengedit manusia seperti kita mengedit teks di layar.
Tetapi, apakah kita benar-benar tuan atas alam? Ataukah kita hanya pion dalam permainan kuasa yang lebih besar?
Dari Bacon ke Descartes: Mimpi Lama di Dunia Baru
Francis Bacon (1561–1626) dan René Descartes (1596–1650) bukan sekadar filsuf. Mereka
adalah peletak dasar cara berpikir yang masih kita warisi hari ini—sebuah cara pandang yang
menjadikan sains dan teknologi sebagai alat dominasi manusia atas alam.
Baca Juga : Pseudo Science, Overklaim, Setingan bisa Membahayakan Kesehatan Anda
Bacon melihat pengetahuan sebagai kekuatan (scientia est potentia), yang harus dimurnikan
dari "idola-idola" (kesalahan berpikir akibat tradisi, prasangka, dan otoritas dogmatis).
Ia menuntut eksperimen dan pengamatan sistematis terhadap alam untuk menemukan hukum-hukum yang dapat dieksploitasi demi kemakmuran manusia. Sementara itu, Descartes membagi realitas menjadi res cogitans (pikiran) dan res extensa (materi).
Alam, menurutnya, adalah mesin yang dapat dipahami dan dimanipulasi dengan hukum-hukum matematika yang pasti.
Konsekuensinya? Alam direduksi menjadi sumber daya. Pohon bukan lagi makhluk hidup dalam jaringan ekologis, tetapi sekadar lumber (kayu). Sungai bukan lagi arteri planet, tetapi kanal untuk perdagangan. Planet bukan lagi rumah, tetapi laboratorium terbuka bagi eksplorasi manusia.
Tetapi apakah ini kemenangan? Atau jebakan yang kita ciptakan sendiri?
Sains, Nanoteknologi, dan Stem Cells: Rekayasa Alam atau Kesombongan Ilmiah?
Bayangkan manusia yang bukan sekadar subjek sains, tetapi juga objek eksperimen: tubuhnya dibedah, gennya dimodifikasi, pikirannya diprogram ulang oleh algoritma kecerdasan buatan.
Stem cells menjanjikan regenerasi jaringan tubuh, nanoteknologi menjanjikan material yang lebih kuat dan lebih pintar dari alam itu sendiri. Namun, di manakah batas antara inovasi dan hubris (kesombongan yang melampaui batas manusiawi)?
Dalam dunia kedokteran, nanoteknologi sudah digunakan untuk mengantarkan obat secara
presisi ke dalam sel kanker. Teknologi CRISPR-Cas9 membuka kemungkinan rekayasa genetik
yang dapat mengubah manusia pada level paling fundamental: DNA.
Jika Bacon dan Descartes hidup hari ini, mungkin mereka akan menyambut perkembangan ini sebagai realisasi impian mereka—manusia bukan lagi sekadar pengamat, tetapi pemrogram realitas.
Tetapi, siapakah yang mengendalikan kekuatan ini? Korporasi farmasi? Negara? Ataukah, dalam paradoks yang ironis, algoritma kecerdasan buatan yang diciptakan manusia sendiri?
Artificial Intelligence: Akhir atau Awal Baru?
Descartes pernah berkata, "Aku berpikir, maka aku ada" (cogito, ergo sum). Tetapi bagaimana jika mesin bisa berpikir lebih baik dari kita? Apakah mereka lebih "ada" daripada kita? Dengan
perkembangan deep learning, AI (Akal Imitasi, Artificial Intelligence) kini bisa menulis puisi,
mendiagnosis penyakit, dan bahkan memenangkan kompetisi debat melawan manusia.
Namun, apakah mereka sadar? Dan jika kesadaran bukan lagi eksklusif bagi manusia, apakah itu berarti manusia kehilangan takhta sebagai tuan dan pemilik alam?
Baca Juga : Kisah Nurul Taufiqu Rochman, Gaungkan Nanoteknologi untuk Kemajuan Indonesia
Elon Musk memperingatkan AI sebagai ancaman eksistensial. Stephen Hawking mengingatkan bahwa AI bisa menjadi bentuk kehidupan baru yang melampaui manusia. Tetapi mungkin yang lebih mengkhawatirkan bukanlah AI yang memberontak, melainkan AI yang terlalu patuh—kepada kepentingan ekonomi dan politik yang memanipulasi manusia dengan algoritma.
Jika Bacon hidup saat ini, mungkinkah ia berkata: "Manusia telah menemukan cara baru untuk memperbudak dirinya sendiri"?
Paradoks Kuasa: Kedokteran, Sosial-Politik, dan Kultur Konsumsi Teknologi
Nanoteknologi menjanjikan umur panjang, AI menjanjikan efisiensi, dan stem cells menjanjikan kesempurnaan biologis. Namun, siapa yang akan menikmati semua ini? Apakah teknologi ini akan menjadi berkah universal, atau sekadar privilege bagi segelintir elite yang mampu membelinya?
Dari Silicon Valley hingga pusat riset bioteknologi di China, pertarungan tak kasatmata terjadi: paten atas gen manusia, algoritma yang mengontrol perilaku konsumsi, dan surveilans medis yang mengaburkan batas antara kesehatan dan kontrol sosial.
Descartes membayangkan manusia sebagai subjek yang berpikir bebas. Tetapi apakah kita
masih bebas jika kesehatan kita dipantau oleh jam tangan pintar, perilaku kita diprediksi oleh
AI, dan keputusan medis kita ditentukan oleh korporasi farmasi yang memiliki data genetika
kita?
Apakah kita benar-benar mengendalikan teknologi, atau justru teknologi yang mengendalikan kita?
Manusia dan Alam: Rekonsiliasi atau Perang Tanpa Akhir?
Jika kita menengok kembali ke alam, kita akan menemukan bahwa tak ada dominasi absolut.
Ekologi tidak mengenal penguasa tunggal. Pohon bernafas bersama udara, sungai mengalir bersama tanah, serigala menjaga keseimbangan kawanan rusa.
Tetapi manusia, dengan logika Bacon dan Descartes, memilih jalan lain—jalan eksploitasi. Kita tidak tunduk kepada alam, kita menaklukkannya. Kita tidak bernegosiasi dengan ekologi, kita mendiktekan hukum kepadanya. Namun, kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita lakukan kepada alam, pada akhirnya, kembali kepada kita.
Nanoteknologi menjanjikan material tak tertandingi, tetapi juga bisa mencemari lingkungan dengan partikel yang tak dapat terurai. AI menjanjikan efisiensi, tetapi juga mengancam jutaan pekerjaan manusia.
Stem cells menjanjikan kehidupan yang lebih panjang, tetapi juga membuka potensi eugenics (rekayasa manusia berdasarkan kualitas genetik) yang pernah menghantui sejarah.
Apakah kita benar-benar tuan dan pemilik alam? Ataukah kita hanya anak kecil yang bermain dengan api, tanpa menyadari bahwa ia sedang membakar rumahnya sendiri?
Epistemologi Ketakutan: Akankah Kita Mengulang Kesalahan yang Sama?
Bacon dan Descartes percaya pada kemajuan. Mereka percaya bahwa dengan metode yang
tepat, manusia bisa menaklukkan ketidaktahuan, membangun peradaban yang lebih baik, dan menguasai alam. Namun, pertanyaan terbesar yang mungkin belum sempat mereka jawab adalah: apakah kita tahu apa yang kita lakukan?
Jika kita benar-benar penguasa alam, mengapa kita masih terancam oleh perubahan iklim yang
kita ciptakan sendiri? Jika kita benar-benar pemilik kehidupan, mengapa kita masih takut pada AI yang kita ciptakan? Jika kita benar-benar makhluk rasional, mengapa kita masih terus mengulangi kesalahan yang sama?
Ataukah, seperti yang Sartre pernah katakan, kebebasan manusia justru adalah kutukannya
sendiri?
[Dokter Dito Anurogo MSc PhD, pembelajar filsafat, alumnus IPCTRM TMU Taiwan,
dosen tetap di FKIK Unismuh Makassar Indonesia, peneliti Institut Molekul Indonesia, penulis puluhan buku, penulis-trainer berlisensi BNSP, pengurus MABBI, reviewer puluhan jurnal nasional-internasional].
