YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Ketua Yayasan Cendekia Indonesia (YCI) Sleman, Putu Putrayasa, menyampaikan komitmen kuat Universitas Mahakarya Asia dalam menyiapkan generasi muda Indonesia untuk menjawab tantangan global, khususnya dalam penyediaan tenaga kerja terampil ke Jepang.
Dalam sambutannya di acara Jepan Mahakarya Matsuri, Putu menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2DIKTI). “Perguruan tinggi itu lahir dari Dikti. Bahkan setiap program studi dan izin institusi pun direkomendasikan oleh L2DIKTI,” ujarnya. Ia menyebut L2DIKTI sebagai “orangtua” dari perguruan tinggi.
Baca Juga : Perkuat Hubungan Indonesia–Jepang, Astage dan UNMAHA Dirikan Japan Center
Putu juga memberikan apresiasi terhadap berbagai pihak yang mendukung kegiatan tersebut, mulai dari perwakilan Jepang, JIC (Japan Interstudy Center), hingga aparat kepolisian dan masyarakat sekitar. Ia berharap acara ini menjadi cikal bakal festival tahunan yang berdampak luas.
Menurut Putu, Jepang saat ini mengalami penurunan jumlah penduduk secara drastis. “Dulu ada dua juta kelahiran per tahun, sekarang hanya sekitar 720 ribu. Bandingkan dengan Indonesia yang mencapai 4,5 juta bayi lahir tiap tahun. Ini adalah peluang besar bagi kita,” katanya.
Melalui program pendidikan dan pelatihan bahasa serta budaya Jepang, Universitas Mahakarya Asia menargetkan pengiriman 10.000 tenaga kerja terampil (Tokutei Ginou) ke Jepang dalam lima tahun ke depan. Universitas Mahakarya Asia menargetkan kontribusi devisa Rp 1,44 triliun per tahun.
Baca Juga : UNMAHA Gelar Dies Natalis ke-48 dengan Nuansa Jepang Bertajuk Japan Mahakarya Matsuri
“Kalau setiap orang bisa mengirimkan sekitar Rp 12 juta per bulan ke Indonesia, maka akan ada potensi devisa sebesar Rp 1,44 triliun per tahun,” ungkapnya.
Putu juga menceritakan pengalaman keluarganya yang memiliki beberapa anggota bekerja di Jepang, sehingga memahami langsung manfaat ekonomi dari peluang tersebut. Ia berharap program ini tak hanya menjadi solusi ketenagakerjaan, tetapi juga mampu membangkitkan perekonomian daerah-daerah seperti Gunungkidul, Kulon Progo, hingga Batu Raja, Sumatera Selatan.
Ia menjelaskan bahwa Universitas Mahakarya Asia adalah hasil penggabungan empat perguruan tinggi yang berdiri sejak 1977. Karena itu, meskipun izin operasional UNMAHA baru berusia lima tahun, Dies Natalis tahun ini menandai usia ke-48 tahun berdirinya institusi tersebut. “Kita menghargai sejarah dan para pendahulu kita. Mahakarya adalah milik kita semua,” terangnya.
“Dirgahayu Universitas Mahakarya Asia ke-48. Mahakaryaku, Mahakaryamu, Mahakarya milik kita semua,” tutupnya. (DID)
