BANTUL, BERNAS.ID – Pelaku usaha kecil (UKM) masih terkendala akses terhadap modal. Sisi lain, potensi ekonomi yang dimiliki para ibu rumah tangga sangat besar, dan ada peluang pemanfaatan instrumen keuangan sosial seperti wakaf tunai yang dapat diintegrasikan dengan akad keuangan syariah sebagai inovasi peluang permodalan.
Tim pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diketuai oleh Yuli Utami, Dosen Prodi Ekonomi UMY berkolaborasi dengan Achmad Dahlan dari UIN dan Fahmi Medias dari UNIMMA, melakukan edukasi yang fokus pada pemberdayaan UKM berbasis ekonomi rumah tangga pada 15 ibu rumah tangga terpilih yang tinggal di Pakualaman Yogyakarta.
Tim melakukan edukasi sumber pembiayaan yang adil dan sesuai prinsip syariah.
Baca Juga : KPK Akan Minta Keterangan Menteri UMKM Terkait Dugaan Gratifikasi
Yuli Utami menyampaikan, program pengabdian ini dalam bentuk pelatihan yang dilaksanakan pada 27 Juni 2025 di Kantor Pimpinan Cabang Aisiyah Pakualaman.
“Pada tahap awal pelatihan dimulai dengan mendorong peserta untuk menemukan kekuatan yang mereka miliki, merancang rencana masa depan, serta langkah untuk mewujudkannya,” ujarnya.
Sesi ini dibuka dengan berbagi kisah-kisah inspiratif, terutama dari kelompok perempuan yang telah tergabung dalam asosiasi simpan-pinjam “Arisan” dan usaha mikro “Bueka”.
Dari sinilah terungkap bahwa impian utama mereka adalah mendapatkan akses modal yang mudah dan terjangkau.
Tahapan edukasi lanjutan adalah peserta diberikan pelatihan dan simulasi tentang lima model akad syariah yang dapat menjadi opsi sumber modal.
Yuli menambahkan, untuk membantu mereka mewujudkan rencana usaha, maka diberikan dana wakaf tunai sebagai modal bergulir berkelanjutan.
“Dana dikelola dengan akad syariah dalam Lembaga Keuangan Mikro yang dikelola masyarakat,” terangnya.
“Petugas lembaga juga dibekali pelatihan khusus agar dapat mengelola secara profesional dan sesuai prinsip syariah,” imbuhnya.
Pendekatan pengabdian ini terbukti memberikan dampak positif. Hasil test, mencerminkan peningkatan hasil belajar peserta bahkan dari cohen’s d sebesar 3,14 menunjukkan efek yang besar.
Baca Juga : UMY Lokasi Pertama Launching Gaspol Goes to Kampus Kemendag RI
Hal ini menandakan bahwa program ini tidak hanya berhasil secara statistik, tetapi juga memberikan dampak nyata di lapangan.
Pada penutupan acara, peserta memberi umpan balik bahwa kegiatan pemberdayaan yang konkrit ini sangat bermanfaat untuk memberi opsi sumber modal usaha.
“Harapannya, masih dilanjutkan lagi. Perlu ada pendampingan usaha sehingga ibu-ibu yang aktif di gerakan Aisiyah Pakualaman ini menjadi pelaku usaha produktif dan skala usahanya dapat meningkat,” pungkas Yuli. (*/cdr)
