JAKARTA, BERNAS.ID – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan siap menindaklanjuti adanya dugaan kekerasan seksual dan perundungan yang terjadi di lingkungan kerja Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat. Namun ini hanya akan dilakukan jika korban membuat aduan lagi.
Diketahui, seorang pria berinisial MS mengaku mengalami tindakan tersebut sejak 2012 hingga 2014. Bahkan, korban juga telah menuliskan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas kejadian yang dialaminya.
“Komnas HAM akan tangani kasus tersebut apabila korban mengadu lagi ke Komnas HAM terkait perkembangan penanganan kasus yang ada setelah dari kepolisian maupun pihak lain,” kata Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara lewat keterangannya, Rabu (1/9/2021).
Beka mengungkapkan, MS sempat mengadukan apa yang dialaminya kepada Komnas HAM beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2017. Saat itu aduan dipaparkan korban melalui surat elektronik atau email.
“Dari analisa aduan, korban disarankan untuk melapor ke polisi karena adanya indikasi perbuatan pidana,” jelas Beka.
Baca juga: Komnas HAM Minta Negara Harus Lindungi Para Pembela HAM
Beka mengaku, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan KPI terkait kasus tersebut. Ia berharap kasus ini segera menemui titik terang dan kondisi fisik maupun psikis korban bisa dipulihkan.
“Sudah koordinasi dengan komisioner KPI untuk penyelesaian kasus ini. Berharap semoga kasus ini segera terang, ketemu solusinya dan korban dipulihkan,” harapnya.
Sebagai informasi, lewat surat terbuka, MS selama bertahun-tahun mengaku mengalami perundungan dan dipaksa untuk membelikan makan bagi rekan kerja senior. Mereka bersama-sama mengintimidasi yang membuat dirinya tak berdaya.
Padahal, kedudukan mereka setara dan bukan tugas MS untuk melayani rekan kerja. Bahkan yang terparah dalam perundungan, kemaluan MS sempat dicorat-coret menggunakan spidol.
“Saya sendiri dan mereka banyak. Perendahan martabat saya dilakukan terus menerus dan berulang ulang sehingga saya tertekan dan hancur pelan pelan.tahun 2015. Mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya,” tulis MS.
“Kok bisa pelecehan jahat macam begini terjadi di KPI Pusat? Sindikat macam apa pelakunya? Bahkan mereka mendokumentasikan dan membuat saya tak berdaya melawan mereka setelah tragedi itu. Semoga foto telanjang saya tidak disebar dan diperjualbelikan di situs online,” sambungnya. (den)
