SLEMAN, BERNAS.ID – Secara umum, tingkat partisipasi masyarakat untuk pilihan lurah (pilur) 2021 di Kabupaten Sleman naik 5 persen daripada tahun lalu sebesar 75 persen. Namun, ada tercatat belasan ribu warga tidak hadir di pilur Condongcatur dan Maguwoharjo, Depok, Sleman. Tingkat partisipasi tidak mencapai 60 persen.
Pilur 2021 kali ini diikuti oleh 33 kelurahan dengan 104 calon lurah laki-laki dan 11 calon lurah perempuan.
Budiharjo, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Sleman menyebut angka 80 persen untuk tingkat partisipasi warga Sleman dalam pilur 2021. “Sekitar 80 persen sudah saya hitung. Alhamdulillah, partisipasi cukup tinggi daripada tahun kemarin 75 persen,” tuturnya, Senin (1/10/2021).
Baca Juga Pilur Sleman Berjalan dengan Prokes Ketat
Ia mengatakan untuk faktor pertama, banyak warga yang penasaran dengan penggunaan e-voting dalam pilur kali ini. “Ada faktor pengen mencoba, kemarin dengar dari masyarakat ingin mencoba,” ujarnya.
“Kedua, kesadaran masyarakat juga semakin tinggi, semakin sadar untuk istilahnya tanggungjawab sebagai warga masyarakat yang baik dalam rangka menyukseskan pemilihan pemimpin di tingkat kelurahan,” imbuhnya.
Terkait partisipasi pilur di Maguwoharjo dan Condongcatur Depok Sleman yang angka ketidakhadiran tinggi sekitar 11 ribu, Budiharjo mengatakan masih mendalaminya untuk kepastiannya. “Kalau di Condongcatur saya belum tahu, kami belum bisa menduga situasi atau kondisi yang menyebabkan ketidakhadiran tinggi. Kalau Maguwoharjo, mungkin kekecewaan yang mereka jagokan petahana, Pak Haji Imindi tidak dapat maju, mungkin bisa seperti itu,” bebernya.
“Diduga karena masyarakat masih sangat kuat keterikatan dengan kepemimpinan Pak Haji Imindi. Saya yakin Pak Haji Imindi juga tidak akan mempengaruhi masyarakat untuk tidak hadir,” imbuhnya.
Untuk laporan gesekan di masyarakat setelah pencoblosan, ia mengatakan tidak ada karena tingkat kesadaran sudah semakin tinggi. “Dari calon yang terpilih dengan suara terbanyak dan yang belum mendapatkan kepercayaan dari masyarakat juga sudah semakin tinggi,” katanya.
“Hal-hal yang sifatnya negatif tidak terjadi.Tidak ada ekses sampai hari ini,” imbuhnya.
Diketahui, di Maguwoharjo, ada 62 TPS dengan 25.696 DPT. Yang hadir 14.016 dan tidak hadir 11.680. Sedangkan, di Condongcatur ada 86 TPS dengan 30.375 DPT. Yang hadir 19.074 dan tidak hadir 11.301.
Budiharjo pun mengimbau kepada Bapak Ibu lurah yang mendapatkan kepercayaan di wilayahnya untuk memimpin 6 tahun ke depan, tidak merayakan kemenangan secara berlebihan. “Semua bersyukur bisa berjalan dengan lancar dan tidak merayakan secara berlebihan,” katanya.
“Yang terpilih juga bisa merangkul kepada calon lain yang lain belum berhasil dan saat ini, semuanya warganya lurah yang akan dilantik 15 November di wilayahnya masing-masing,” imbuhnya.
Ia pun menampik kabar adanya TPS yang masih ditunda pencoblosannya. Penundaan itu terjadi karena ada keterlambatan tim teknis lapangan dan KPPS yang keliling. “Masalah teknis, wilayahnya berjauhan dalam satu kelurahan, antara satu dengan yang lain seperti di Bokoharjo, ada yang di wilayah perbukitan,” ucapnya.
“Seperti juga di Bangunkerto Turi, ada kendala jalan yang sempit, mobil tidak bisa masuk. Kami baru pertama memfasilitasi dengan TPS keliling,” imbuhnya.
Budiharjo mengatakan prinsipnya sudah dilayani dengan baik untuk semua yang sudah terdaftar dan sudah dikunjungi semua. “Tidak ada TPS yang tercecer. Rekap sudah masuk semua,” ujarnya.
Untuk dua kelurahan yang masih tertunda pilurnya karena putusan MK, Budiharjo mengatakan nanti pada tanggal 3 November, akan mengundang 2 panitia pemilihan kelurahan dari Selomartani Kalasan dan Sumberarum Moyudan, Ketua BPK, dan dua panewu untuk koordinasi sebagai persiapan tindaklanjut pemilihan lurah yang ditunda.
“Kami sampaikan tahapan untuk segara diimplementasikan oleh BPK dan panitia di dua kalurahan tersebut. Tahapan sudah disiapkan, regulasinya, dan Perbup yang mengatur pilur sudah ditandatangani,” imbuhnya.
Budi mengatakan pilur yang ditunda akan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 12 Desember 2021. Untuk pelantikan akan dilakukan setelah itu.
Panewu Depok Sleman, Subagya mengatakan tingkat partisipasi masyarakat di Maguwoharjo dan Condongcatur sekitar 56-57 persen. Ia mengatakan faktor perkotaan mempengaruhi tingkat partisipasi, tidak seperti di pedesaan.
“Kalau orang kota, kalau hari libur biasanya banyak yang liburan dan persepsi masyarakat tidak peduli dengan pilihan lurah, kepeduliannya kurang,” tuturnya.
Ia mengatakan sosialisasi pilur sudah dilakukan sejak delapan bulan lalu dan dilaksanakan secara masif. “Kami sudah masif menyosialisasikan pilur tersebut,” tukasnya. (jat)
