YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Pemda DIY siap melaksanakan vaksinasi COVID-19 untuk kelompok anak dengan rentan usia 6-11 tahun mulai Januari 2022 mendatang. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah pusat yang menyatakan bahwa vaksinasi anak baru dimulai awal tahun depan di kabupaten/kota dengan cakupan vaksinasi yang telah melampaui target.
Target yang dimaksud adalah daerah dengan cakupan dosis pertama di atas 70 persen dan lebih dari 60 persen populasi lanjut usia (lansia) tervaksin.
“Kita baru dapat informasi dari Kemenkes [vaksin anak] baru dimulai tahun 2022 Januari. Kita sudah lakukan persiapan,” kata Ketua Satgas Percepatan Vaksinasi DIY, Sumadi, Minggu (14/11/2021).
Sumadi meneruskan, Pemda DIY telah mendata warganya yang akan menerima vaksin khusus anak tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) di tingkat kabupaten kota, jumlahnya tercatat ada sebanyak 240 ribu sasaran.
Rata-rata merupakan pelajar Sekolah Dasar (SD) kelas I hingga V. Mereka bakal mendapat jatah vaksin merek Sinovac.
“Jadi kira-kira targetnya 240-an ribu se DIY,” terangnya.
Untuk teknis pelaksanaannya, menurut Sumadi, tak jauh berbeda dengan penyuntikan yang dilakukan kepada kelompok remaja, yakni dengan menyisir sekolah-sekolah yang ada di DIY. Ia optimis vaksinasi anak-anak untuk dosis pertama dapat dituntaskan hanya dalam jangka waktu satu bulan.
“Sementara seperti yang sudah kita lakukan di sekolah. Kecuali ada yang sekolahnya homeschooling itu ya lewat sentra vaksin. Anak sekolah saya kira lebih cepat. Karena mereka sudah terkumpul di situ. Sama lah dengan vaksinasi pelajar (usia 12-17) kemarin,” lanjutnya.
Baca juga: Vaksin Sinovac Diijinkan untuk Anak Usia 6 Tahun ke Atas
Saat proses penyuntikan, Sumadi akan meminta pendampingan dari guru maupun orang tua. Hal ini untuk mempermudah pelaksanaan vaksinasi. Pasalnya, ada kecenderungan bahwa anak kecil lebih sulit dikontrol.
Baca juga: Kemenkes Imbau Orangtua Tak Ragu Vaksinasi Anaknya Usia 6-11 Tahun
“Kita libatkan guru-guru, skenario-skenarionya begitu. Jadi guru pendamping itu punya peran besar kepada anak untuk divaksin. Kecuali atau ada hal-hal khusus, misalnya butuh orang tua ya kita datangkan. Kan karakter anak juga beda,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini Kemenkes sebagai pembuat kebijakan terus melakukan pemetaan terkait persiapan vaksinasi anak. Meliputi ketersediaan stok vaksin, data anak, dan menjalin koordinasi dengan pemangku kebijakan.
“Kemarin kita sudah komunikasi dengan Dinkes DIY untuk diajukan ke Kemenkes kira-kira logistik vaksinnya yang kita mintakan. Itu kan khusus Sinovac jadi sudah kita mintakan koordinasi dan ajukan ke Kemenkes,” tandas dia. (den)
