HarianBernas.com — Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang paling dipercaya oleh masyarakat untuk mengantarkan putra-putri mereka dikemudian hari bisa sukses. Begitu besar kepercayaan tersebut sehingga hampir setiap orang tua mendorong anaknya untuk sekolah setinggi-tingginya. Namun, jika kita mau jujur, sekolah selama ini belum dapat mendorong mayoritas anak bisa sukses.
Ketidaksuksesan anak didik merupakan ketidaksuksesan sekolah. Ketidaksuksesan sekolah salah satunya dapat dilihat dari anak tidak ?betah? belajar di sekolah. Hal ini terjadi karena anak di dalam belajar mereka memerlukan kebebasan untuk mengeksperikan diri dan potensi yang dimilikinya. Sedangkan sekolah selama ini tidak lebih dari sebuah lembaga yang memberikan banyak aturan dan pengekangan kepada peserta didik.
Banyaknya pengekangan tersebut menyebabkan anak ketika berada di sekolah seperti berada dalam ?penjara?. Sekolah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak. Mereka datang ke sekolah hanya untuk membuat orang tua senang dan diterima di lingkungan masyarakat.
Secara umum, setidaknya ada 3 (tiga) indikator sukses dalam pendidikan/sekolah, yaitu adanya rasa bahagia, puas, dan kompeten. Rasa bahagia dan puas dapat kita lihat dari sikap dan perilaku keseharian anak selama di sekolah. Ketika mereka betah dan nyaman di sekolah itulah cerminan bahwa sekolah berhasil membuat anak bahagia.
Kompeten berkaitan dengan keterampilan yang dimiliki anak, baik soft skills maupun hard skills. Soft skills merupakan keterampilan lunak yang dimiliki oleh anak berkaitan dengan kemampuan berinteraksi baik dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Sedangkan hard skills merupakan keterampilan keras yang dimiliki anak berkaitan dengan penguasaan pada bidang tertentu.
Sekolah selama ini belum dapat mendorong mayoritas anak sukses karena yang diajarkan di sekolah tidak sejalan dengan kebutuhkan di dunia kerja. Terjadi gap (kesenjangan) yang besar antara dunia sekolah dan dunia ushasa dan dunia industri (DUDI). Hal ini menyebabkan pengetahuan yang dimiliki anak tidak dapat diaplikasikam untuk mendapatkan peluang pekerjaan ataupun menciptakan lapangan pekerjaan.
Kesuksesan seseorang sebagaimana disampaikan oleh Daniel Goleman dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa 80% ditentukan soft skills dan 20% ditentukan oleh hard skills. Sekolah selama ini lebih membekali peserta didik pada hard skills, sedangkan menomorduakan soft skills. Hal ini terbukti dari pelaksanaan pembelajaran di sekolah-sekolah lebih mengutamakan hasil daripada proses.
Demikian juga penilaian lebih menekankan pada aspek kognitif, sedangkan aspek afektif kurang mendapat perhatian.
Ke depan, untuk mendorong anak agar aktif dan nyaman belajar sehingga nantinya dikemudian hari anak bisa sukses, maka sekolah hendaknya kreatif menciptakan suasana pendidikan yang kondusif. Salah satunya dengan mengurangi kontrol dan aturan yang terlalu ketat di sekolah.
Anak-anak diberikan kebebasan lebih luas, tetapi tetap pada batas-batas yang pantas. Artinya, sekolah harus mengedepankan nilai-nilai pendidikan yang demokratis dan bertanggungjawab.
Selain upaya tersebut, sekolah juga hendaknya melaksanakan evaluasi secara komprehensif, dengan menyeimbangkan evaluasi pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sekolah juga hendaknya membekali peserta didik soft skills yang lebih optimal. Sekolah agar lebih banyak melibatkan masyarakat dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Ada 6 (enam) kunci sukses yang hendaknya diperhatikan untuk menuju sekolah sukses yang cocok diterapkan di Indonesia berdasarkan pendapat Ouchi adalah sebagai berikut:
Kunci 1: setiap kepala sekolah adalah wirausahawan
Kepala sekolah yang wirausahawan melaksanakan tugasnya dengan: (1) menganalisis pelanggan (orang tua, calon siswa), (2) merancang rencana yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, (3) menyusun jadwal kegiatan sesuai dengan rencana tersebut, dan (4) memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Kunci 2: setiap sekolah mengontrol anggarannya
Soal uang biasanya akan menjadi faktor pemicu terjadinya saling curiga antara satu dengan yang lain, termasuk antara sekolah dengan pihak-pihak yang terkait. Masalah uang merupakan masalah yang sensitif yang dapat memicu terjadinya ketidakpercayaan antara orang tua dan masyarakat kepada sekolah. Salah satu aspek yang krusial dalam manajemen adalah akuntabilitasnya.
Proses penggunaan anggaran memang lebih mudah daripada mempertanggung-jawabkannya. Padahal, penggunaan anggaran secara terbuka akan menjadi kunci pembuka yang melahirkan kepercayaan kepada sekolah. Kalau sudah lahir kepercayaan, maka akan lahirlah kewibawaan yang diperoleh oleh sekolah tersebut.
Kunci 3: setiap orang akuntabel terhadap kinerja peserta didik dan anggarannya
Dalam pelaksanaan anggaran telah dinyatakan bahwa akuntabilitas menjadi salah satu aspek yang maha penting untuk dapat melahirkan kepercayaan kepada sekolah. Akuntabilitas juga berlaku dalam semua pelaksanaan program dan keuangan, bahkan terhadap semua sentuhan yang diberikan kepada peserta didik oleh kepala sekolah dan gurunya di sekolah.
Akuntabilitas meliputi tiga bentuk, meliputi: (1) performance accountability (akuntabilitas kinerja), (2) anticorruption accountability (akuntabilitas antikorupsi), dan (3) political accountability (akuntabilitas dari aspek politik).
Kunci 4: setiap orang mendelegasikan kewenangannya kepada bawahannya
Seorang pemimpin dalam bidang pendidikan harus dapat memimpin dan dipimpin. Bahkan, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat membangun proses regenerasi yang dapat menghasilkan pemimpin yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kualitas pemimpin periode sebelumnya. Atasan siap memberikan pendelegasian kepada bawahannya, dan bawahannya menerima tanggung jawab tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Dengan cara seperti itu setiap kita pegiat pendidikan adalah pemimpin yang siap dimintai pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan tentang apa-apa yang kita pimpin.
Kunci 5: difokuskan kepada keberhasilan peserta didik
Tidak ada rencana dan usaha yang berhasil dengan baik tanpa ada fokus dalam rencana dan pelaksanaannya. Fokus terhadap keberhasilan peserta didik yang dimaksud adalah berkaitan dengan keberhasilan akademis dan nonakademis. Keberhasilan akademis memang menjadi fokus kegiatan satuan pendidikan dan semua pemangku kepentingan di sekolah. Namun demikian, fokus keberhasilan dalam aspek nonakademis hendaknya juga menjadi perhatian bagi semua pihak.
Kunci 6: setiap sekolah merupakan komunitas pembelajar
Masyarakat sesungguhnya merupakan pemilik sejati lembaga pendidikan atau satuan pendidikan. Dengan demikian, keberadaan lembaga pendidikan sekolah menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan masyarakatnya. Dalam hal ini orang tua siswa menjadi bagian dari masyarakat. Itulah sebabnya kemudian lembaga pendidikan sekolah ini harus memerankan diri sebagai satu institusi masyarakat belajar (learning community).
