Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.
SETIAP 29 Mei, Hari Lanjut Usia Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu menjadi cermin untuk menilai apakah Indonesia telah menempatkan warga lanjut usia sebagai manusia yang utuh: berhak sehat, aman, didengar, tetap berdaya, dan tetap memiliki ruang untuk berkontribusi.
Penuaan penduduk bukan sekadar perubahan angka demografi, melainkan ujian moral dan kebijakan publik. Indonesia tidak cukup hanya menambah usia harapan hidup; yang lebih penting adalah memastikan tahun-tahun tambahan itu dijalani dengan kualitas hidup, martabat, dan dukungan sosial yang layak.
Slogan Lansia Sehat, Indonesia Hebat perlu dibaca sebagai bagian dari agenda pembangunan. Lansia tidak boleh dipandang semata sebagai penerima bantuan, apalagi sebagai beban fiskal. Kualitas masa tua dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan mental, gizi, kemampuan fungsional, lingkungan tempat tinggal, partisipasi sosial, perlindungan pendapatan, serta akses terhadap layanan kesehatan yang sesuai kebutuhan usia lanjut.
Dengan kata lain, bangsa yang siap menua adalah bangsa yang mampu menghubungkan kebijakan kesehatan, perlindungan sosial, ketenagakerjaan, tata kota, pendidikan keluarga, dan inovasi teknologi dalam satu ekosistem.
Baca Juga : Annual Scientific Meeting ke-19 FK-KMK UGM Wujudkan Lansia Sehat Mitra Pembangunan
Indonesia kini sedang bergerak menuju struktur penduduk yang lebih tua. Pertambahan penduduk lansia perlu diantisipasi melalui pencegahan penyakit tidak menular, peningkatan kualitas gizi, penguatan layanan primer, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat sebelum seseorang memasuki usia lanjut.
Persoalannya, banyak lansia Indonesia masih bekerja bukan karena pilihan produktif, melainkan karena kerapuhan ekonomi, dominasi pekerjaan informal, rendahnya perlindungan pensiun, dan kebutuhan keluarga. Studi tentang kapasitas kerja lansia di Indonesia menunjukkan bahwa kebijakan tidak cukup hanya mendorong perpanjangan usia kerja; negara juga harus memperbaiki kesehatan, keterampilan, fleksibilitas kerja, dan jaminan sosial agar bekerja di usia lanjut menjadi pilihan bermartabat, bukan keterpaksaan.
Di titik inilah, paradigma perlu digeser. Pendekatan lama cenderung melihat lansia sebagai kelompok rentan yang perlu disantuni. Pendekatan baru melihat mereka sebagai warga negara yang tetap memiliki aset pengetahuan, jejaring sosial, pengalaman kerja, dan kebijaksanaan hidup.
Studi regional di Asia memperlihatkan bahwa sebagian lansia masih memiliki kapasitas kerja yang belum sepenuhnya termanfaatkan, tetapi potensi ini sangat tidak merata menurut pendidikan, status kesehatan, jenis kelamin, dan wilayah tempat tinggal.
Maka, agenda silver economy Indonesia tidak boleh menjadi slogan pasar yang elitis. Ia harus menjadi strategi inklusif: membuka pekerjaan paruh waktu yang aman, pelatihan ulang yang ramah usia, usaha mikro yang mudah diakses, dan skema perlindungan bagi lansia miskin serta lansia yang sudah tidak mampu bekerja.
Pelajaran penting dapat diambil dari negara lain, tetapi perlu diadaptasi sesuai kearifan lokal. Jepang, misalnya, lama mengembangkan Silver Human Resource Centers sebagai model kerja paruh waktu berbasis komunitas bagi warga lanjut usia. Kajian klasik tentang program ini menyebutnya sebagai model pelibatan produktif pensiunan melalui pekerjaan sementara dan layanan berbasis masyarakat.
Studi longitudinal yang lebih baru bahkan menemukan bahwa kerja dengan intensitas sedang melalui pusat sumber daya lansia berasosiasi dengan perbaikan status pra-kerapuhan pada lansia Jepang. Pesannya jelas: kerja lansia yang sehat bukan kerja yang memeras tenaga, melainkan kerja yang fleksibel, sosial, sesuai kapasitas, dan memberi makna.
Negara-negara dengan sistem perawatan jangka panjang juga memberi pelajaran lain. Jepang memperkenalkan asuransi perawatan jangka panjang sebagai bentuk sosialisasi perawatan, yaitu menggeser tanggung jawab perawatan dari beban keluarga semata menjadi tanggung jawab sosial yang lebih luas.
Kajian tentang layanan rumah dan komunitas menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan semacam itu dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, dukungan keluarga, akses layanan, dan kemampuan sistem menjangkau kebutuhan nyata lansia. Bagi Indonesia, ini berarti posyandu lansia, puskesmas, kader, program permakanan, dukungan caregiver keluarga, dan layanan rehabilitasi sosial harus dihubungkan dalam satu rantai perawatan yang tidak terputus.
Kota dan desa juga harus berubah. Banyak kebijakan lansia gagal bukan karena niatnya buruk, melainkan karena lingkungan sehari-hari tidak ramah usia. Trotoar yang rusak, transportasi yang tidak aman, antrean layanan yang panjang, toilet umum yang tidak aksesibel, serta ruang publik yang tidak menyediakan tempat duduk membuat lansia tersingkir dari kehidupan sosial.
Tinjauan tentang age-friendly cities and communities menegaskan bahwa lingkungan ramah usia perlu mendukung partisipasi aktif, mengurangi isolasi, mempertahankan kemandirian, serta meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan layanan. Konsep ageing in place juga menekankan pentingnya rumah, lingkungan, jejaring sosial, dan layanan komunitas agar lansia dapat menua di tempat yang mereka kenal tanpa kehilangan rasa aman.
Kesehatan lansia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas fisik dan hubungan sosial. Konsensus internasional menunjukkan bahwa aktivitas fisik pada lansia bermanfaat bagi kebugaran, fungsi kognitif, kapasitas fungsional, kesejahteraan psikologis, dan inklusi sosial.
Pedoman latihan untuk lansia juga menekankan pentingnya kombinasi latihan aerobik, kekuatan, keseimbangan, dan fleksibilitas untuk mencegah kerapuhan, jatuh, disabilitas, dan penurunan kualitas hidup.
Karena itu, program lansia sehat seharusnya tidak hanya berarti pemeriksaan tekanan darah atau pembagian makanan, tetapi juga kelas gerak, latihan keseimbangan, senam berbasis komunitas, klub membaca, kebun bersama, dan ruang pertemuan lintas generasi.
Partisipasi sosial sama pentingnya dengan obat. Tinjauan tentang intervensi berbasis komunitas menunjukkan bahwa program multikomponen yang menggabungkan aktivitas fisik dan partisipasi sosial lebih menjanjikan untuk mendukung penuaan sehat dibanding kegiatan tunggal yang terpisah-pisah.
Baca Juga : Lansia Pensiunan Pegawai Kereta Api Resah dengan Rencana Penataan Stasiun Lempuyangan
Dalam konteks Indonesia, kekuatan keluarga besar, masjid, gereja, banjar, posyandu, karang taruna, kampus, dan organisasi warga merupakan modal sosial yang sangat besar. Tantangannya adalah mengubah modal sosial itu menjadi sistem yang rapi: siapa mendata lansia yang hidup sendiri, siapa mengantar ke layanan kesehatan, siapa memastikan obat diminum, siapa membantu literasi digital, dan siapa mendengar cerita mereka ketika kesepian datang.
Teknologi dapat menjadi jembatan, tetapi juga dapat menjadi tembok baru. Telemedicine, aplikasi pemantauan kesehatan, pengingat obat, dan platform caregiver dapat membantu lansia memperoleh layanan tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan.
Namun, studi tentang platform kesehatan digital bagi lansia menemukan bahwa kecemasan teknologi, sikap negatif, dan kurangnya kepercayaan menjadi hambatan utama adopsi dan penggunaan berkelanjutan. Maka, inovasi digital untuk lansia tidak boleh hanya dibuat oleh anak muda untuk investor.
Ia harus dirancang bersama lansia, diuji dengan mata yang mulai kabur, jari yang tidak lagi lincah, pendengaran yang menurun, dan kekhawatiran yang wajar terhadap penipuan digital.
Kampus dan generasi muda memiliki peran strategis. Pengabdian masyarakat, riset gerontologi, inkubasi startup kesehatan, desain kota ramah usia, dan pendidikan caregiver keluarga dapat menjadi laboratorium sosial untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata lansia.
Mahasiswa yang mengajari lansia memakai ponsel, dosen yang meneliti risiko jatuh di rumah, perawat yang membangun kunjungan komunitas, arsitek yang merancang hunian aksesibel, dan wirausahawan muda yang membuat layanan pendampingan lansia sebenarnya sedang mengerjakan proyek peradaban: memastikan masa tua tidak identik dengan kesepian dan ketergantungan.
Namun, negara tetap memegang peran utama. Keluarga dan komunitas tidak boleh dibiarkan menanggung beban perawatan sendirian. Indonesia perlu memperkuat perlindungan sosial lansia miskin, memperluas layanan geriatri, membangun sistem perawatan jangka panjang bertahap, memperbaiki data lansia rentan, serta memastikan pemerintah daerah memasukkan isu kelanjutusiaan dalam perencanaan pembangunan.
Kebijakan lansia harus melampaui bantuan sesaat. Ia harus menjadi investasi lintas generasi: mencegah sakit sebelum mahal, menunda kerapuhan sebelum menjadi disabilitas, dan menjaga kemandirian sebelum keluarga jatuh ke beban perawatan yang berat.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa cepat ekonomi tumbuh, tetapi seberapa lembut negara memperlakukan mereka yang tubuhnya mulai rapuh namun pengalamannya tetap kaya. Lansia adalah arsip hidup bangsa.
Mereka menyimpan memori tentang kerja, keluarga, krisis, perang, kemiskinan, keberhasilan, kegagalan, dan daya tahan sosial yang tidak selalu tertulis di buku sejarah. Ketika Indonesia membangun layanan kesehatan ramah geriatri, transportasi yang aksesibel, ruang publik yang aman, pekerjaan paruh waktu yang bermartabat, dan teknologi yang mudah digunakan lansia, Indonesia sesungguhnya sedang merawat masa depannya sendiri.
Masa tua yang bermartabat tidak dimulai saat seseorang berusia 60 tahun. Ia dimulai dari keputusan kebijakan hari ini: dari anggaran puskesmas, desain trotoar, kurikulum pendidikan kesehatan, perlindungan pekerja informal, pelatihan kader, hingga cara anak muda memperlakukan orang tua di rumah.
Selamat Hari Lanjut Usia Nasional, 29 Mei 2026. Lansia sehat bukan hanya tanda keluarga yang kuat; ia adalah tanda negara yang hebat, menuju peradaban nan dahsyat. Inilah pondasi rida Ilahi dunia-akhirat.
(dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taipei Taiwan, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, dokter riset, dosen, peneliti, master trainer, reviewer jurnal Internasional terindeks Scopus, memiliki lebih dari 55 sertifikasi dan kompetensi multi-lintasdisiplin keilmuan, organisatoris, telah menerbitkan puluhan buku dan ratusan opini/artikel di berbagai media massa cetak dan online)
Referensi
1. Basrowi, R. W., Rahayu, E. M., Khoe, L. C., Wasito, E., & Sundjaya, T. (2021). The road to healthy ageing: What has Indonesia achieved so far? Nutrients, 13(10), 3441. Scopus Q1. DOI: 10.3390/nu13103441.
2. Tang, L., et al. (2025). Prevalence and related factors of healthy aging: A systematic review and meta-analysis. Belitung Nursing Journal. Scopus Q3/Q4. DOI: 10.33546/bnj.3977.
3. Suriastini, N. W., Wijayanti, I. Y., & Oktarina, D. (2024). Older people’s capacity to work in Indonesia. Asian Development Review, 41(1), 69-94. Scopus Q3. DOI: 10.1142/S011611052440002X.
4. Kikkawa, A., Oshio, T., Sawada, Y., Shimizutani, S., Ogawa, N., Park, A., & Sonobe, T. (2024). Health capacity to work among older persons in Asia: Key findings from a regional comparative study. Asian Development Review, 41(1), 1-38. Scopus Q3. DOI: 10.1142/S0116110524400018.
5. Bass, S. A., & Oka, M. (1995). An older-worker employment model: Japan’s Silver Human Resource Centers. The Gerontologist, 35(5), 679-682. Scopus Q1. DOI: 10.1093/geront/35.5.679.
6. Morishita-Suzuki, K., Nakamura-Uehara, M., & Ishibashi, T. (2023). The improvement effect of working through the Silver Human Resources Center on pre-frailty among older people: A two-year follow-up study. BMC Geriatrics, 23, 265. Scopus Q1. DOI: 10.1186/s12877-023-03978-z.
7. Campbell, J. C., & Ikegami, N. (2000). Long-term care insurance comes to Japan. Health Affairs, 19(3), 26-39. Scopus Q1. DOI: 10.1377/hlthaff.19.3.26.
8. Che, R. P., & Cheung, M. C. (2024). Factors associated with the utilization of home and community-based services among older adults: A systematic review of the last decade. Journal of Gerontological Social Work. Scopus Q2. DOI: 10.1080/01634372.2024.2342455.
9. Torku, A., Chan, A. P. C., & Yung, E. H. K. (2021). Age-friendly cities and communities: A review and future directions. Ageing & Society, 41(10), 2242-2279. Scopus Q1. DOI: 10.1017/S0144686X20000239.
10. Pani-Harreman, K. E., Bours, G. J. J. W., Zander, I., Kempen, G. I. J. M., & van Duren, J. M. A. (2021). Definitions, key themes and aspects of ‘ageing in place’: A scoping review. Ageing & Society, 41(9), 2026-2059. Scopus Q1. DOI: 10.1017/S0144686X20000094.
11. Bangsbo, J., Blackwell, J., Boraxbekk, C. J., et al. (2019). Copenhagen Consensus statement 2019: Physical activity and ageing. British Journal of Sports Medicine, 53(14), 856-858. Scopus Q1. DOI: 10.1136/bjsports-2018-100451.
12. Izquierdo, M., Merchant, R. A., Morley, J. E., et al. (2021). International exercise recommendations in older adults (ICFSR): Expert consensus guidelines. The Journal of Nutrition, Health & Aging, 25(7), 824-853. Scopus Q1. DOI: 10.1007/s12603-021-1665-8.
13. Tcymbal, A., Demetriou, Y., Kelso, A., et al. (2022). Interventions simultaneously promoting social participation and physical activity in community living older adults: A systematic review. Frontiers in Public Health, 10, 1048496. Scopus Q1. DOI: 10.3389/fpubh.2022.1048496.
14. Frishammar, J., Essén, A., & Bergström, F. (2023). Digital health platforms for the elderly? Key adoption and usage barriers and ways to address them. Technological Forecasting and Social Change, 189, 122319. Scopus Q1. DOI: 10.1016/j.techfore.2023.122319.
