Bernas.id – Berita mengenai keong sawah alias tutut, tiba-tiba saja melejit dan jadi topik perbincangan hangat bukan hanya di media sosial, namun di antara perkumpulan ibu-ibu rumah tangga. Ini berawal ketika keong sawah yang viral karena menjadi bisnis yang mampu meraup omzet jutaan rupiah per bulan.
Nama keong sawah makin populer setelah pemerintah melalui menteri pertanian mewacanakan keong sawah sebagai pengganti daging sapi yang harganya makin meroket.
Terang saja, hal ini lantas jadi perdebatan. Lalu, bagaimana pendapat ibu-ibu rumah tangga mengenai hal ini? Simak ulasan berikut !
Senang
Harga daging sapi yang terus melaju hingga mencapai 120 ribuan rupiah, tentu mempengaruhi daya beli masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga. Alhasil mereka mengurangi konsumsi daging sapi untuk kebutuhan keluarganya. Nah, munculnya ide mengganti daging sapi dengan keong sawah menjadi angin segar, karena harga keong sawah yang jauh lebih rendah.
Sedih
Kalau dari segi harga membuat para ibu-ibu rumah tangga ini merasa senang. Namun ide mengganti daging sapi dengan keong sawah membuat mereka juga merasa sedih. Hal ini karena meskipun keong sawah atau tutut banyak mengandung asam folat dan kalium, ternyata menurut Prof Dr. Hardinsyah, seorang Guru Besar Fakultas Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dikutip dari salah satu media mengatakan, bahwa kandungan protein keong sawah hanya 12% per 100 gramnya, selisih 6% lebih rendah dibanding daging sapi yang mengandung protein sebanyak 18% per 100 gramnya. Kandungan Zat besinya juga lebih tinggi daging sapi.
Belum lagi proses mengolahnya yang harus mendapat perlakuan khusus, mulai dari cara membersihkan hingga tersaji di meja makan. Keong sawah dimasak beserta cangkangnya yang sudah dipotong ujungnya, lalu dicuci bersih di bawah air mengalir lebih baik. Singkatnya mengolah keong sawah terbilang lebih ribet dibanding daging sapi.
Daging sapi bisa dimasak dengan berbagai cara, misalnya direbus, dipanggang atau digoreng, menjadi hidangan lezat seperti rendang, dendeng, atau empal. Lain dengan keong sawah, sampai saat ini sih belum ada varian hidangan lain keong sawah selain direbus.
Bahkan cara makannya pun terbilang ribet. Kita harus menyeruput atau mencongkel dengan tusuk gigi untuk bisa menikmati secuil daging keong sawah dari cangkangnya. Dan, harus lebih hati-hati jika dikonsumsi anak-anak, karena cangkangnya bisa tertelan dan membahayakan. Apalagi cita rasanya yang kurang populer, bahkan banyak yang merasa jijik.
Selain varian hidangan lezat daging sapi. Kita semua pasti tidak asing dengan produk olahan yang berbahan dasar daging sapi. Contohnya, sosis, kornet, dan abon yang menjadi bahan favorit ibu-ibu rumah tangga untuk sarapan dan bekal anak. Atau baso yang menjadi kudapan paling populer dikalangan ibu-ibu rumah tangga. Bisa dibayangkan kalau panganan tadi lantas menjadi barang langka dan super mahal. Ibu-ibu bakalan kecewa berat. Belum lagi jika dianalisis lebih jauh, soal bagaimana nasib tukang basonya, produsen sosis atau kornet. Mmmm, gimana tuh?
Jika merujuk ulasan diatas, ide mengganti daging sapi dengan keong sawah mungkin kurang populer. Kalau hanya sebagai alternatif mungkin bisa. Pemerintah sebaiknya membuat regulasi yang mengupayakan pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional dengan harga yang terjangkau. Karena jika tidak maka daging sapi mungkin hanya akan tersaji di meja makan kalangan tertentu saja. Lantas, Haruskah anak cucu kita tidak bisa menikmati daging sapi?
