HarianBernas.com – Manusia merupakan makhluk yang lebih spesial dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Manusia menjadi makhluk spesial dikarenakan memiliki kemampuan untuk berpikir yang tidak dimiliki oleh hewan dan tumbuhan.
Dengan pikirannya tersebut, manusia dapat melakukan sesuatu dengan baik dan benar, sehingga kita akan mendapatkan cinta kasih dari Tuhan.
Oleh karena itu, banyak manusia yang menginginkan dirinya menjadi sosok yang sempurna agar selalu mendapatkan cinta kasih dari Tuhan serta dapat diterima oleh manusia lainnya. Sosok yang sempurna merupakan sosok yang diidam-idamkan oleh banyak orang.
Dalam kenyataannya, seorang manusia tidaklah bisa menjadi sosok yang sempurna, hal ini berdampak pada munculnya perasaan kecewa dan stres pada orang-orang yang menginginkan dirinya menjadi sosok yang sempurna. Ketidakmampuan untuk mencapai standar keinginan yang terlalu tinggi ini memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap kehidupan manusia.
Manusia tidak harus menjadi sosok yang sempurna untuk mendapatkan cinta Tuhan dan orang-orang di sekitarnya. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang kita punya. Dengan demikian, kita sebagai manusia tidak akan memiliki beban untuk mencapai standar kehidupan yang terlalu tinggi yaitu kesempurnaan. Karena sesungguhnya Tuhan mencintai kita apa adanya seperti Beliau menciptakan kita beserta seluruh alam semesta.
Begitu pula orang-orang di sekitar kita, mereka sesungguhnya mencintai dan menerima kehadiran kita tanpa kita menjadi sosok yang sempurna, kita hanya perlu menyadari hal tersebut dan merasa cukup. Menjadi manusia yang cukup merupakan hal yang menyenangkan.
Manusia sebagai makhluk yang memiliki pengetahuan tentunya dapat merasakan berbagai macam perasaan yang timbul dalam diri kita, di antaranya yaitu perasaan malu dan perasaan bersalah.
Perasaan malu merupakan perasaan yang menggambarkan perasaan buruk tentang siapa kita, sedangkan rasa bersalah merupakan penggambaran rasa buruk terhadap apa yang telah diperbuat. Perasaan ini muncul akibat dari ketidakmampuan manusia menjadi sosok yang sempurna.
Banyak manusia yang tertekan akibat perasaan-perasaan ini, karena dalam kehidupan ini banyak preistiwa-peristiwa yang terjadi dalam proses pendewasaan, seperti peristiwa memalukan, peristiwa dikecewakan, peristiwa kegagalan dan lainnya yang merupakan peristiwa yang dapat memunculkan rasa bersalah dan malu.
Ketika kita melakukan kesalahan serta membuat diri kita merasa malu, hal yang perlu kita perbuat sebenarnya adalah menjadi manusia yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan yang telah kita perbuat, serta tidak secara terus-menerus merasa malu. Karena kesalahan dan pristiwa memalukan merupakan hal wajar yang sering dilakukan oleh setiap manusia (Kushner, 2005).
Kita tidak perlu menjadi orang yang sempurna untuk mengatasi rasa bersalah dan malu pada diri kita, kita hanya perlu menerima keadaan dan menjadi pribadi yang lebih baik guna memperbaiki kesalahan.
Manusia sebagai mahluk hidup tentunya tidak dapat lepas dari kesalahan dalam menjalankan kehidupan. Kesalahan merupakan hal yang wajar dan dapat terjadi pada siapa saja, hanya saja kesalahan tersebut perlu kita perbaiki. Sebelum memperbaiki kesalahan dihadapan Tuhan, kita harus memperbaiki segala kesalahan yang kita lakukan terhadap orang lain.
Tuhan hanya akan memberi pengampunan apabila kita sudah diberi maaf oleh mereka yang telah terluka dan kecewa dengan kita. Kita harus belajar bagaimana rasanya mengakui kesalahan dan keterbatasan yang kita miliki sebagai manusia dan mengetahui betapa indahnya merasa tidak ditolak atas kekurangan kita.
Kita harus bisa menerima orang yang apa adanya dalam kehidupan kita. Apabila kita tidak menerima orang lain secara apa adanya dalam kehidupan kita, maka kita akan kesepian, karena orang-orang seperti itulah yang akan kita temukan.
Sebagai makhluk yang memiliki perasaan, manusia selalu membutuhkan manusia lainnya untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, di antaranya adalah keinginan untuk dicintai, untuk diperhatikan semua harapan dan perasaan kita, untuk diakui sebagai orang yang berharga oleh orang-orang di sekitar kita.
Kebutuhan untuk dicintai ini lebih mendalam lagi merupakan kebutuhan untuk memiliki pasangan hidup. Kemampuan kita untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis merupakan cara kita untuk memperlihatkan daya tarik kita dalam upaya mencari pasangan. Seorang pasangan merupakan cermin di mana kita bisa mengevaluasi daya tarik dan kemampuan kita untuk dicintai.
Ketika cinta ada dalam diri kita, maka dunia akan terasa indah dan membahagiakan, namun ketika kita disakiti, ketika kita dikecewakan, maka hal itu telah melenyapkan kebahagiaan dari dunia. Ketika kita merasa tersakiti dan tidak bahagia karena kebutuhan untuk dicintai oleh seseorang tidak dapat terpenuhi, kita hanya perlu menerima kenyataan serta kebenarannya. Sebab sesungguhnya bila kita dapat menerima kebenarannya, kita akan mendapatkan kebahagiaan. Inilah yang disebut kebenaran itu adalah kontekstual.
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
