HarianBernas.com — Setiap pebelajar memiliki ciri khas (gaya belajar) tersendiri. Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis, dan berkata tetapi juga aspek pemrosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri-otak kanan, aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar (diserap secara abstrak dan konkrit). Gaya belajar penting untuk mengoptimalkan prestasi belajar siswa.
Prestasi belajar yang baik dapat mencerminkan pemanfaatan gaya belajar yang baik karena dengan mengetahui dan memahami gaya belajar yang terbaik bagi dirinya akan membantu siswa dalam belajar sehingga prestasi yang dihasilkan akan maksimal. DePorter, et al., (2001) mengelompokkan gaya belajar individu menjadi tiga tipe gaya belajar, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Masing-masing gaya belajar tersebut memiliki karakteristik tersediri.
Gaya belajar visual lebih dominan menggunakan indera penglihatan dalam belajar. Seseorang yang memiliki gaya belajar visual, hendaknya difasilitasi lebih banyak dengan media gambar. Melalui media gambar tersebut, mereka akan dapat memahami pelajaran yang dikaji dengan optimal. Pebelajar visual cenderung menyimak dengan saksama apa yang dituliskan oleh gurunya, bukan apa yang dikatakannya.
Gaya belajar auditorial memiliki ciri lebih dominan menggunakan indera pendengaran dalam belajar. Seseorang yang menggunakan gaya belajar auditorial hendaknya difasilitasi lebih banyak dengan media audio. Media audio tersebut, memudahkan mereka dalam belajar. Pebelajar aoditorial ini cenderung menyimak dengan saksama apa yang dikatakan oleh gurunya, bukan pada apa yang dibuat oleh gurunya.
Gaya belajar kinestetik, memiliki ciri kencenderungan belajar dengan bergerak dan menyentuh. Seseorang yang memiliki gaya belajar kinestetik hendaknya difasilitasi lebih banyak dengan melakukan praktikum dalam pembelajaran. Pebelajar kinestetik memiliki kecenderungan nyaman belajar apabila mereka sendiri yang langsung melakukan apa yang hendak dipelajari.
Masing-masing gaya belajar seperti yang dipaparkan tersebut, mempengaruhi cara pembentukan konsep pada diri siswa. Hal ini penting untuk diketahui oleh pendidik, sehingga dapat menerapkan model pembelajaran yang relevan.
Penerapan model pembelajaran yang relevan sesuai dengan karakteristik gaya belajar siswa, dapat membantu siswa untuk memcapai pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik. Hal ini sangat penting karena pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan komparasi pemaparan gaya belajar di atas, dapat diduga bahwa masing-masing gaya belajar akan memberikan dampak yang berbeda-beda terhadap pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah siswa. Oleh karena itu, ketiga gaya belajar tersebut hendaknya dioptimalkan dalam pembelajaran.
Penelitian telah membuktikan bahwa pembelajaran yang memperhatikan gaya belajar siswa memberikan dampak yang positif terhadap prestasi belajar siswa. Rose & Nichall (1997) menyatakan bahwa siswa dapat mengoptimalkan hasil belajar mereka, apabila belajar sesuai dengan gaya belajarnya. DePorter, et al. (2001), membuktikan bahwa pembelajaran yang memperhatikan gaya belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Guru, sebagai fasilitator dan mediator memegang peranan penting dalam mengelola pembelajaran, agar dapat memfasilitasi keanekaragaman gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Guru hendaknya kreatif mengelola pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi peserta didik. Di tangan guru yang kreatif dapat menjadikan pembelajaran penuh menggairahkan. Di tangan guru kreatif pembelajaran menjadi menyenangkan. Di tangan guru kreatif pembelajaran menjadi hidup dan penuh memotivasi. Oleh karena itu, jadilah guru yang kreatif dalam mengelola pembelajaran.
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
